Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

KDM Dukung Jalur Nambo–Citayam: Tambah 200 Ribu Penumpang, Kurangi Drama Nunggu KRL Sejam Sekali

×

KDM Dukung Jalur Nambo–Citayam: Tambah 200 Ribu Penumpang, Kurangi Drama Nunggu KRL Sejam Sekali

Sebarkan artikel ini
Pengoperasian Kereta Api Papandayan dan KA Pangandaran di Stasiun Garut, Kabupaten Garut, dioperasikan, Rabu (24/1/2024).
Pengoperasian Kereta Api Papandayan dan KA Pangandaran di Stasiun Garut, Kabupaten Garut, dioperasikan, Rabu (24/1/2024).

BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah komando Gubernur Dedi Mulyadi (KDM) kembali unjuk gigi dalam urusan transportasi publik. Kali ini, fokusnya pada jalur KRL lintas Nambo–Citayam, yang selama ini terkenal bukan karena cepatnya, tapi karena lamanya penantian di peron.

Dalam kolaborasi strategis dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero), KDM berambisi mengubah lintasan yang selama ini “single track dan single harapan” itu menjadi jalur produktif yang bisa menampung tambahan 200 ribu penumpang per hari.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Jalur Nambo saat ini hanya punya satu rel dengan headway satu jam. Kalau kita terminasi di Citayam, frekuensi bisa naik jadi setiap 15 menit,” kata Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, yang tampak cukup optimistis sekaligus realistis. Karena ya, siapa yang tidak trauma menunggu KRL selama satu jam hanya untuk berdiri 40 menit berikutnya?

BACA JUGA :  Diplomasi Kopi Jabar, Diganjar APPI Awards dari Kementan

Menurut Bobby, peningkatan ini bukan sekadar mimpi proyek, tapi langkah konkret. Melalui rekayasa operasi dan penambahan panjang rangkaian (SF), kapasitas lintas Bogor–Jakarta akan naik signifikan. “Dengan skema itu, bisa tambah 200 ribu penumpang per hari. Itu sedang kita kerjakan,” ujarnya.

Namun, seperti biasa, proyek infrastruktur tak semudah mengedit caption media sosial. Bobby mengakui, sejumlah stasiun di wilayah Bogor masih punya “peron pendek, ambisi panjang.” Banyak stasiun hanya menampung rangkaian 8–10 SF, padahal KRL zaman now sudah butuh 12 gerbong agar semua penumpang bisa berdiri dengan nyaman dan penuh harapan.

“Ya, mau tidak mau peronnya kita panjangkan. Kalau semua sudah 12 SF, dengan rekayasa operasi Nambo itu, bisa tambah 200 ribu penumpang,” jelasnya.

BACA JUGA :  Bocah Dibawah Umur di Natuna Disetubuhi hingga melahirkan oleh Paman Sendiri

Tak berhenti di situ, proyek ini juga bersinggungan dengan pembangunan flyover di kawasan Depok, yang disebut sebagai upaya “integrasi transportasi aglomerasi Jabodetabek.” Kalau flyover ini rampung tepat waktu bukan sekadar jadi flyover harapan jalur siding Nambo–Cibinong akan langsung tersambung ke Citayam, memotong waktu tunggu dan menghindari antrean kereta yang kadang mirip antrean minyak goreng saat langka.

“Kereta dari Nambo–Cibinong nanti residing-nya di Stasiun Citayam, Depok. Flyovernya sedang dibangun. Begitu jadi, keretanya langsung kita tempelkan ke stasiun,” ujar Bobby, dengan keyakinan yang semoga seteguh relnya nanti.

Langkah ini menjadi bagian dari transformasi transportasi publik Jawa Barat yang diusung KDM dari pola “menunggu nasib di peron” menuju sistem yang modern, efisien, dan manusiawi.

BACA JUGA :  Honor Petugas Pasar Lamsel Masih Belum Jelas, Begini Kata Dewan

Dalam gaya khasnya yang santai tapi menggigit, KDM menegaskan bahwa transportasi publik bukan sekadar urusan rel dan gerbong, tapi soal rasa keadilan sosial bagi penumpang yang selama ini bersabar tanpa penghargaan.

“Kalau rakyatnya berdiri berdesakan, tapi pejabatnya duduk nyaman di mobil dinas, itu bukan kemajuan. Itu ketimpangan,” ujar KDM dalam kesempatan terpisah.

Dengan spirit kolaborasi dan sedikit satire terhadap kebijakan masa lalu, Pemprov Jabar dan PT KAI ingin memastikan bahwa perjalanan dari Nambo ke Citayam tak lagi perjalanan iman dan kesabaran, melainkan simbol nyata kemajuan.

Karena, di era sekarang, kemacetan bukan lagi takdir tapi hasil dari kebijakan yang belum terhubung.
Dan KDM tampaknya siap memastikan, kali ini, rel kebijakan benar-benar menuju ke arah yang tepat.***