Scroll untuk baca artikel
Lampung

Korban Gajah Liar Terus Berjatuhan, Pemkab Lampung Timur Baru Bergerak

×

Korban Gajah Liar Terus Berjatuhan, Pemkab Lampung Timur Baru Bergerak

Sebarkan artikel ini
Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah- foto doc ist

LAMPUNG TIMUR – Setelah konflik gajah liar berulang kali menelan korban jiwa, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur akhirnya angkat bicara. Sayangnya, perhatian serius itu masih lebih banyak terdengar di podium ketimbang terasa di lapangan.

Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menegaskan bahwa Pemkab akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) guna memitigasi konflik antara manusia dan gajah liar konflik klasik yang terus berulang tanpa akhir yang jelas.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Kami akan segera meluncurkan Satgas khusus agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” ujar Bupati Ela, dengan nada optimistis yang sudah kerap terdengar setiap kali konflik kembali memakan korban.

BACA JUGA :  Puluhan Karyawan APS di Lampung Timur Mengaku Resah

Menurut Ela, Satgas ini akan melibatkan masyarakat agar lebih terbuka dan cepat melapor ketika gajah liar mulai “bertamu” ke kebun atau permukiman warga. Harapannya, pencegahan bisa dilakukan sebelum warga kembali menjadi korban berikutnya.

Sebagai bentuk keseriusan, Pemkab Lampung Timur mengklaim telah membangun tanggul sepanjang 1,3 kilometer di Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara. Infrastruktur ini disebut sebagai benteng awal menghadang gajah liar.

Meski begitu, fakta di lapangan menunjukkan bahwa gajah tak selalu membaca peta pembangunan pemerintah. Bupati juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan penghalauan langsung, terutama bagi warga yang tidak memiliki kesiapan dan pengetahuan memadai.

BACA JUGA :  Kasus Temuan Mayat Kader Fatayat NU di Lampung Timur, Masih Misteri?

“Keselamatan warga adalah yang utama. Jangan sampai niat mengusir berubah menjadi tragedi,” tegasnya.

Pemkab Lampung Timur pun berencana menggandeng Wildlife Conservation Society (WCS) serta lembaga terkait untuk memberikan pelatihan khusus tentang interaksi aman antara manusia dan gajah pelatihan yang ironisnya baru digaungkan setelah korban jiwa kembali berjatuhan.

“Ini bukan kejadian biasa. Saat konflik terjadi, semua pihak harus paham peran, terkoordinasi, dan tidak bergerak sendiri-sendiri,” kata Ela, seolah mengingatkan bahwa menghadapi gajah liar tidak cukup dengan keberanian, apalagi sekadar nekat.

BACA JUGA :  Nah Lho.. Stafsus Wali Kota Bandar Lampung Desak DLH Pecat TKS

Diketahui, konflik manusia dan satwa liar di wilayah penyangga TNWK bukan kali pertama terjadi. Rentetan kejadian serupa telah berlangsung bertahun-tahun, menandakan persoalan struktural yang belum pernah benar-benar diselesaikan secara tuntas.

Tragedi terbaru menewaskan Kepala Desa Braja Asri, Darusman, yang menjadi korban saat berupaya menghalau kawanan gajah liar pada Rabu (31/12/2025). Atas peristiwa tersebut, Bupati Lampung Timur menyampaikan duka cita mendalam.

Pemkab Lampung Timur berjanji akan mencari solusi jangka panjang, meski publik berharap solusi itu tak lagi berhenti sebagai janji tahunan yang selalu hadir setelah korban berjatuhan dan menghilang saat situasi kembali sunyi.***