Scroll untuk baca artikel
Info Wawai

CV Fresh Graduate Tak Dilirik? Headhunter Bongkar Kesalahan Fatal Pelamar

×

CV Fresh Graduate Tak Dilirik? Headhunter Bongkar Kesalahan Fatal Pelamar

Sebarkan artikel ini
foto Ilustrasi
foto Ilustrasi

WawaiNEWS.id – Di tengah ribuan CV yang masuk ke meja recruiter, nasib pelamar kerja terutama fresh graduate sering kali selesai hanya dalam hitungan detik. Bukan karena kurang pintar, tapi karena CV mereka kalah paham kebutuhan perusahaan.

Salah satu tantangan terbesar pencari kerja, khususnya fresh graduate dan Gen Z, bukan semata minim pengalaman, melainkan kegagalan menyajikan Curriculum Vitae (CV) yang relevan dan terbaca sistem rekrutmen modern.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di era kecerdasan buatan, CV bukan lagi sekadar “cerita hidup”, melainkan dokumen teknis yang harus lolos seleksi mesin sebelum dibaca manusia.

Founder Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto, menegaskan bahwa kesalahan mendasar pelamar adalah tidak memahami cara berpikir recruiter dan sistem yang mereka gunakan.

“Untuk fresh graduate, yang pertama harus dipahami adalah: recruiter itu akan shortlist CV seperti apa. Kalau banyak persyaratan tidak terpenuhi, besar kemungkinan CV langsung tersingkir,” kata Haryo, dikutip dari program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (14/1).

BACA JUGA :  Baru Jadi Menteri, Foto 'Syur' Mirip Menpan RB Azwar Anas Trending

Menurutnya, kesalahan fatal lain adalah mengirim satu CV untuk semua lowongan, seolah-olah perusahaan hanya satu dan kebutuhannya seragam.

CV Bukan Pamflet, Apalagi Poster Canva

Haryo menekankan bahwa CV harus ditulis dengan kesadaran penuh terhadap posisi yang dilamar. Pelamar wajib menuliskan hanya kemampuan yang benar-benar dimiliki, termasuk sertifikasi, keterampilan teknis, dan pengalaman relevan bukan sekadar daftar harapan.

“Ini hampir sama seperti main SEO. Kita harus tahu keyword-nya apa, dan keyword itu harus masuk ke CV. Jangan pernah bikin satu CV untuk seribu lamaran,” tegasnya.

Ia mencontohkan, meski melamar posisi yang sama misalnya junior akuntan setiap perusahaan bisa memiliki kriteria berbeda.

BACA JUGA :  Kisah Penuh Hikmah, Ketika Nabi Musa Saat Sakit Gigi

“PT A dan PT B bisa sama-sama cari junior akuntan, tapi kebutuhannya beda. Itu tidak mungkin dilamar dengan satu CV yang sama,” ujarnya.

Dalam konteks ini, CV bukan brosur massal, melainkan dokumen yang harus dirancang spesifik. Mengirim CV generik, kata Haryo, sama saja berharap lolos seleksi dengan cara instan.

Ingat, CV Dibaca Mesin, Bukan Perasaan

Haryo juga mengkritik tren CV penuh grafik dan warna-warni yang marak di kalangan pelamar muda. Menurutnya, desain yang terlalu visual justru menjadi jebakan.

“Sekarang banyak CV kelihatan sama karena pakai aplikasi yang sama. Pelamar harus sadar, yang membaca CV pertama kali itu bukan manusia, tapi mesin AI,” katanya.

Ia menambahkan, sistem penyaringan otomatis (ATS/AI) kerap gagal membaca grafik dan elemen visual berlebihan.

“Pakai teks saja. Mau Word, Google Docs, Libre Office, silakan. Yang penting terbaca mesin,” ujarnya.

BACA JUGA :  Pers, Jurnalistik dan Jurnalisme

Meski tampak membosankan, CV berbasis teks justru lebih efektif dibandingkan CV ramai desain tapi berakhir di folder “tidak terbaca”.

CV Itu Tiket Masuk, Bukan Penentu Nasib

Haryo mengingatkan pelamar agar tidak menggantungkan seluruh harapan hidup pada CV.

“Orang tidak pernah dapat pekerjaan hanya karena CV. CV itu pintu masuk. Interview-lah yang menentukan,” tegasnya.

Namun, tanpa CV yang tepat sasaran, undangan wawancara tak akan pernah datang. Karena itu, pelamar harus menempatkan diri sebagai solusi atas kebutuhan perusahaan, bukan sekadar pencari kerja.

Di tengah persaingan ketat dan otomatisasi rekrutmen, CV bukan lagi soal estetika, melainkan strategi. Dan bagi fresh graduate, memahami hal ini bisa menjadi pembeda antara “dipanggil interview” atau “tersingkir tanpa suara”.***