Scroll untuk baca artikel
Nasional

Pesawat Patroli KKP Hilang Kontak di Maros, Negara Masih Mencari Jawaban

×

Pesawat Patroli KKP Hilang Kontak di Maros, Negara Masih Mencari Jawaban

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Pesawat

JAKARTA — Negara kembali diuji di langitnya sendiri. Sebuah pesawat patroli ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026), saat menjalankan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar.

Pesawat itu bukan penerbangan komersial biasa. Ia mengangkut misi pengawasan negara, namun hingga malam hari, keberadaannya masih menjadi tanda tanya besar.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di tengah simpang-siur informasi, Direktur Utama PT Indonesia Air Transport, Tri Adi Wibowo, akhirnya meluruskan kabar yang beredar. Bukan delapan, melainkan tujuh awak pesawat berada di dalam kabin, bersama tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Perlu kami klarifikasi, kru yang on board berjumlah tujuh orang,” ujar Tri dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta.

BACA JUGA :  Menhub imbau, pemudik pulang pada 7 atau 10 Juni

Tujuh kru tersebut adalah:

  • Capt. Andy Dahananto (Pilot in Command)
  • Muhammad Farhan
  • Restu Adi
  • Dwi Murdiono
  • Florentea Lolita
  • Esther Aprilita S.
  • Hariadi

Misi Negara yang Menghilang di Udara

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono membenarkan, tiga pegawainya ikut dalam penerbangan tersebut. Mereka bukan penumpang biasa, melainkan Tim Air Surveillance Direktorat Penanganan Pelanggaran Ditjen PSDKP KKP, yang bertugas melakukan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan dari udara.

Ketiganya adalah:

  • Ferry Irawan, Analis Kapal Pengawas
  • Deden Mulyana, Pengelola Barang Milik Negara
  • Yoga Naufal, Operator Foto Udara

“Mereka menjalankan misi pengawasan wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia,” kata Trenggono.

Pesawat yang mereka tumpangi memang pesawat patroli, bukan angkutan sipil biasa. Fakta ini dikonfirmasi langsung oleh Dirjen PSDKP KKP Pung Nugroho Saksono (Ipunk).

BACA JUGA :  HUT Ke-22, KKP Gelar Anugerah Jurnalistik Hadiah Total Rp100 Juta

“Iya, itu pesawat patroli,” ujarnya singkat.

Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, nasib misi negara tersebut masih menggantung di udara. “Belum tahu kondisi mereka, karena pesawatnya belum ditemukan,” tambah Ipunk.

Basarnas menetapkan Pegunungan Kapur Bantimurung, Desa Leang-Leang, Kabupaten Maros, sebagai fokus pencarian sekaligus lokasi posko utama. Pencarian udara dilanjutkan dengan helikopter TNI AU dan dukungan AirNav Indonesia yang menyiapkan Notice to Airmen (NOTAM).

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub menyatakan Persons on Board (POB) berjumlah 10 orang tujuh awak dan tiga penumpang selaras dengan data IAT dan KKP.

Cuaca saat kejadian, berdasarkan informasi awal, relatif tidak ekstrem: jarak pandang 8 kilometer, cuaca sedikit berawan. Namun detail teknis dan faktor penyebab hilangnya kontak masih menunggu hasil koordinasi dengan BMKG dan otoritas penerbangan.

BACA JUGA :  Ini Teknis Penerapan Pemungutan PNBP Pasca Produksi

Insiden ini menempatkan publik pada satu pertanyaan besar: Bagaimana mungkin pesawat patroli negara, dalam misi pengawasan strategis, bisa hilang tanpa jejak di wilayah udara sendiri?

Di satu sisi, pemerintah memastikan koordinasi lintas lembaga berjalan. Di sisi lain, publik menunggu lebih dari sekadar pernyataan prosedural. Yang dicari bukan hanya bangkai pesawat, melainkan kepastian, transparansi, dan akuntabilitas negara atas keselamatan aparatur yang menjalankan tugasnya.

Pencarian masih berlangsung. Langit Maros masih disisir. Dan negara sekali lagi sedang diuji oleh sunyi di udara.