Scroll untuk baca artikel
Opini

Bekerja dari Indonesia

×

Bekerja dari Indonesia

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 23/01/2026

WAWAINEWS.ID – Pidato di World Economic Forum di Davos, Presiden Prabowo Subianto, menyitir IMF, menyebut Indonesia salah satu titik terang perekonomian global. Pernyataan ini tidak berdiri di ruang hampa.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Data menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia konsisten di kisaran lima persen selama lebih satu dekade. Rata-rata pertumbuhan global sekitar tiga persen. Menempatkan Indonesia dalam kategori ekonomi besar yang relatif stabil.

Rasio utang terhadap PDB Indonesia masih moderat. Inflasi relatif terkendali. Indonesia dipersepsikan sebagai negara memiliki fondasi makro kuat.

Bagi Indonesia, stabilitas bukan soal citra internasional. Tetapi modal awal naik kelas. Dari sekadar lokasi investasi menjadi pusat aktivitas ekonomi bernilai tambah tinggi.

Pertanyaan strategisnya bukan sekadar berapa cepat Indonesia tumbuh. Melainkan apakah stabilitas ini dapat diterjemahkan menjadi daya tarik sebagai tempat bekerja bagi para profesional global. Sekaligus menjadi mesin baru kemajuan nasional.

Perubahan besar dalam dunia kerja memberi peluang tersebut.

Salah satu landasan teoretiknya berasal dari pemikiran Ronald Coase dalam The Nature of the Firm (1937). Ia menjelaskan organisasi dan lokasi ekonomi sangat dipengaruhi biaya transaksi.

Perkembangan teknologi digital secara drastis menurunkan biaya transaksi jarak jauh. Keberadaan fisik di pusat bisnis tradisional tidak lagi mutlak. Bagi Indonesia, ini berarti peluang menarik aktivitas ekonomi tanpa harus memindahkan kantor pusat korporasi dunia.

Gagasan ini diperluas Manuel Castells dalam konsep Network Society (1996). Ia menjelaskan ekonomi modern semakin berbasis jaringan global. Bukan lokasi geografis tunggal.

Dalam masyarakat jaringan ini, profesional berkeahlian tinggi bekerja lintas negara tanpa kehilangan produktivitas. Sementara Indonesia memperoleh manfaat berupa aliran pengetahuan, praktik kerja global, dan reputasi sebagai node penting dalam jaringan ekonomi dunia.

BACA JUGA :  Jokowi dan Tragedi NKRI

Dari sisi geopolitik, posisi Indonesia dapat dipahami melalui perspektif realisme defensif dalam hubungan internasional. Sebagaimana dikembangkan Kenneth Waltz dalam Theory of International Politics (1979). Negara yang tidak terikat dalam aliansi militer agresif cenderung dipersepsikan memiliki risiko konflik lebih rendah.

Dalam konteks ekonomi global, risiko geopolitik merupakan faktor penting dalam memutuskan lokasi kerja dan operasional. Ketika konflik bersenjata dan rivalitas blok meningkat di berbagai kawasan, negara netral dan stabil menjadi lebih menarik bagi aktivitas profesional lintas negara.

Indonesia, dengan politik luar negeri bebas-aktif, masuk dalam kategori ini. Keuntungan bagi Indonesia bukan hanya arus masuk profesional asing. Tetapi penguatan posisi diplomatik sebagai negara yang relevan secara ekonomi tanpa harus terjebak dalam politik blok.

Kualitas hidup sebagai faktor ekonomi dapat dijelaskan melalui teori utilitas tenaga kerja dalam ekonomi mikro klasik. Berakar pada pemikiran Alfred Marshall dalam Principles of Economics (1890). Marshall menekankan keputusan individu tidak hanya ditentukan pendapatan nominal. Tetapi kesejahteraan riil yang mencakup biaya hidup dan kenyamanan.

Dalam konteks modern, gagasan ini diperkuat studi Richard Florida tentang creative class dalam The Rise of the Creative Class (2002). Ia menunjukkan bahwa talenta global memilih lokasi berdasarkan kualitas hidup, toleransi, dan lingkungan yang mendukung kreativitas.

Dengan biaya hidup relatif rendah dan lingkungan alam tidak ekstrem, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam menghasilkan kesejahteraan riil yang tinggi bagi profesional global. Bagi Indonesia, hal ini berarti peluang mempercepat transisi ekonomi dari berbasis sumber daya menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan kreativitas.

Stabilitas makro dan kualitas hidup saja tentu tidak cukup tanpa kepastian institusional. Teori ekonomi institusional yang dikembangkan Douglass C. North dalam Institutions, Institutional Change and Economic Performance (1990) menegaskan institusi—aturan formal dan informal—menentukan kinerja ekonomi jangka panjang.

BACA JUGA :  Presiden Soeharto Gandengkan Tiga Idiologi Ekonomi, Bagaimana dengan Prabowo?

Bagi pekerja remote global, kepastian hukum mengenai izin tinggal, status kerja lintas negara, dan perpajakan lebih penting daripada insentif jangka pendek. Negara yang aturannya berubah-ubah menciptakan ketidakpastian. Menurut North akan meningkatkan biaya transaksi dan menurunkan minat partisipasi ekonomi.

Jika Indonesia mampu membangun kepastian ini, manfaatnya tidak hanya menarik profesional asing. Tetapi memperbaiki iklim usaha domestik dan memperkuat kepercayaan pelaku ekonomi nasional.

Infrastruktur digital sebagai prasyarat kerja jarak jauh juga memiliki landasan teoretik. Paul Romer, melalui teori pertumbuhan endogen (1986), menekankan teknologi dan pengetahuan adalah faktor internal pendorong pertumbuhan ekonomi.

Dalam konteks kerja remote, jaringan internet, pusat data, dan keamanan siber menjadi infrastruktur pengetahuan yang memungkinkan produktivitas lintas negara. Tanpa infrastruktur ini, mobilitas tenaga kerja berkeahlian tinggi tidak dapat berlangsung optimal.

Bagi Indonesia, investasi di sektor ini memberi manfaat ganda. Menarik profesional global sekaligus meningkatkan produktivitas tenaga kerja lokal dan daya saing ekonomi nasional.

Peran kota dalam menarik profesional global dapat dijelaskan melalui teori aglomerasi. Alfred Marshall sudah lebih awal membahas external economies of scale pada akhir abad ke-19. Tetapi gagasan ini dimodernisasi oleh Edward Glaeser dalam Triumph of the City (2011).

Glaeser menunjukkan kota bukan sekadar kumpulan bangunan. Melainkan mesin interaksi manusia. Dalam era kerja jarak jauh, kota tidak harus menjadi pusat manufaktur atau keuangan, melainkan pusat kualitas hidup dan kolaborasi.

Indonesia memiliki beberapa kandidat kota yang secara teoritis memenuhi syarat ini. Jakarta Selatan dan kawasan BSD unggul dalam konektivitas internasional dan infrastruktur. Bandung memiliki ekosistem kreatif dan teknologi kuat. Yogyakarta menawarkan kombinasi talenta muda, budaya, dan biaya hidup rendah.

BACA JUGA :  Anies, Agenda Perubahan dan Tembak Mati Koruptor

Bali, jika diarahkan ulang dari pariwisata massal ke ekosistem profesional, memiliki daya tarik global yang unik sebagai kota kerja berbasis kualitas hidup. Pengembangan kota-kota ini akan mendorong pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan antarwilayah.

Kolaborasi antara profesional global dan talenta lokal memperkuat efek ekonomi melalui apa yang disebut Robert Lucas sebagai *human capital externalities dalam karyanya On the Mechanics of Economic Development (1988).” Ketika individu berkeahlian tinggi berkumpul dan berinteraksi, produktivitas kolektif meningkat.

Agar efek ini terjadi, Indonesia perlu memastikan kemampuan bahasa, etos kerja global, dan perlindungan kekayaan intelektual yang memadai. Sehingga kolaborasi lintas negara tidak terhambat.

Manfaat langsungnya bagi Indonesia adalah percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan transfer pengetahuan yang sulit dicapai hanya melalui pendidikan formal.

Pada akhirnya, “Bekerja dari Indonesia” adalah pilihan strategis berbasis teori dan data. Indonesia tidak perlu meniru Swiss sebagai pusat penyimpanan modal. Tetapi dapat mengambil peran berbeda sesuai teori keunggulan komparatif modern.

Dengan stabilitas makro, posisi geopolitik netral, kualitas hidup tinggi, dan potensi institusional yang dapat diperkuat, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat kerja profesional global. Manfaatnya bagi Indonesia bersifat struktural: peningkatan kualitas SDM, diversifikasi ekonomi, penguatan reputasi internasional, dan pertumbuhan yang lebih inklusif.

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, teori ekonomi dan politik menunjukkan bahwa ketenangan, kepastian, dan kualitas hidup justru menjadi faktor produksi baru. “Bekerja dari Indonesia” menemukan rasionalitasnya—bukan hanya bagi dunia. Tetapi bagi masa depan Indonesia sendiri.

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.