BANDUNG – Anggaran boleh menipis, tapi ambisi membangun desa tak boleh loyo. Pesan itulah yang ditegaskan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kepada jajaran aparat desa yang tergabung dalam DPD dan DPC Apdesi. Di tengah keterbatasan fiskal, desa diminta tidak berhenti bekerja melainkan naik kelas dalam kreativitas dan ketepatan prioritas.
“Keterbatasan anggaran bukan alasan pembangunan berhenti. Justru di situ kreativitas dan kecermatan aparatur desa diuji,” kata Dedi Mulyadi dalam pertemuan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan Kelurahan di Bale Pakuan, Jumat malam (23/1/2026).
Provinsi Juga “Diet Anggaran”
Dedi akrab disapa KDM terus terang mengakui, Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun tengah menjalani diet anggaran akibat berkurangnya dana bagi hasil dari pemerintah pusat. Namun, ia menegaskan, kondisi itu tak lantas membuat Pemprov mengangkat bendera putih.
“Provinsi Jabar juga sama, punya keterbatasan anggaran. Tapi kami tetap membangun desa-desa, terutama infrastruktur. Mulai tahun ini dan berlanjut ke tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.
Pertemuan tersebut, kata KDM, bukan sekadar ajang temu kangen, tetapi ruang berbagi strategi dan menenangkan kegelisahan para kepala desa dan lurah yang khawatir kualitas pembangunan desa ikut menyusut seiring menyusutnya anggaran.
“Tadi saya sampaikan, Pemprov Jabar berkomitmen mendorong pembangunan infrastruktur desa. Karena kecemasan mereka itu wajar anggaran turun, jangan sampai pembangunan ikut turun,” jelasnya.
Hadiah Miliaran, Biar Desa Tak Kehabisan Akal
Tak hanya janji, Pemprov Jabar juga menyiapkan insentif nyata. Melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), pemerintah provinsi menggelontorkan hadiah miliaran rupiah setiap tahun bagi desa-desa berprestasi.
Skemanya berlapis dan cukup menggoda.
“Selain juara tingkat provinsi, nanti kabupaten dan kota juga menggelar lomba serupa. Bahkan di tingkat kecamatan hadiahnya bisa sampai Rp200 juta. Lumayan, bisa jadi bensin tambahan pembangunan desa,” ujar KDM dengan nada yang seolah ingin bilang: kreatif itu ada hadiahnya.
Dana insentif ini diharapkan menjadi pemicu desa untuk berinovasi, bukan sekadar menunggu transfer dana.
Desa Berprestasi Dapat Rp9 Miliar
Kepala DPMD Jawa Barat Ade Afriandi menjelaskan, Pemprov Jabar telah menyalurkan penghargaan Anugerah Gapura Sri Baduga (AGSB) 2025 kepada desa dan kelurahan terbaik se-Jawa Barat.
Hasilnya, hadiah yang dibagikan tak main-main:
- Juara 1: Rp9 miliar
- Juara 2: Rp7 miliar
- Juara 3: Rp6 miliar
Pada kategori desa, Desa Pangauban (Kabupaten Garut) meraih predikat Pinunjul Kahiji (Juara 1), disusul Desa Cibiru Wetan (Kabupaten Bandung) dan Desa Gunung Putri (Kabupaten Bogor).
Sementara pada kategori kelurahan, Kelurahan Sindangrasa (Kabupaten Ciamis) keluar sebagai juara pertama, diikuti Kelurahan Cibeber (Kota Cimahi) dan Kelurahan Pasawahan (Kabupaten Bandung).
Penghargaan tersebut diberikan atas capaian desa dan kelurahan dalam inovasi administrasi digital, keberhasilan pengelolaan BUMDes, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Artinya, yang dinilai bukan sekadar bangunan fisik, tetapi cara berpikir dan tata kelola.
Pesan akhirnya sederhana tapi menohok: uang boleh terbatas, tapi ide jangan ikut dipangkas. Di Jawa Barat, desa diminta membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukan penghambat pembangunan melainkan pemantik untuk bekerja lebih cerdas, bukan sekadar lebih keras.***












