JAKARTA – Peta politik nasional menuju Pemilihan Presiden 2029 mulai menunjukkan pola yang semakin jelas. Di tengah muncul dan tenggelamnya sejumlah nama, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan kembali mengukuhkan diri sebagai dua figur utama yang sulit tergeser dalam bursa calon presiden.
Temuan tersebut tercermin dalam hasil Survei Median, yang menempatkan Prabowo di posisi puncak dengan elektabilitas 27,8 persen, disusul Anies Baswedan 19,9 persen, dan Dedi Mulyadi 17,4 persen. Angka ini menegaskan dominasi dua tokoh yang sejak Pilpres 2024 telah menjadi poros utama kontestasi nasional.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, menilai hasil survei ini bukan sekadar potret sesaat, melainkan cerminan konsistensi dan daya tahan elektoral Prabowo dan Anies di mata publik.
“Hasil survei ini menegaskan bahwa Prabowo dan Anies masih menjadi figur sentral dalam peta politik menuju Pemilihan Presiden 2029,” ujar Jamiluddin dalam keterangannya, Senin (26/1).
Menurut Jamiluddin, jika dibandingkan dengan elektabilitas kandidat pada Pilpres 2024, hanya Prabowo dan Anies yang mampu menjaga daya tarik politiknya secara signifikan. Sementara tokoh lain justru mengalami penurunan drastis.
Ganjar Pranowo, misalnya, hanya mencatatkan elektabilitas 3,3 persen, jauh merosot dibandingkan posisinya sebagai calon presiden pada pemilu sebelumnya.
“Dari pasangan capres-cawapres 2024, hanya Prabowo dan Anies yang elektabilitasnya masih tinggi,” jelas Jamiluddin.
Ia secara khusus menyoroti posisi Anies Baswedan yang tetap kompetitif meskipun tidak sedang memegang jabatan publik apa pun.
“Ini menunjukkan bahwa elektabilitas Anies tidak bergantung pada kekuasaan formal. Ia masih memiliki basis dukungan yang solid,” katanya.
Survei Median juga mengungkap fakta menarik terkait para calon wakil presiden pada Pilpres 2024. Elektabilitas mereka tercatat relatif rendah sebagai calon presiden.
Gibran Rakabuming Raka hanya memperoleh 2,4 persen, Mahfud MD 1,6 persen, sementara Muhaimin Iskandar bahkan tidak muncul dalam survei.
“Status sebagai calon wakil presiden, bahkan wakil presiden, tidak otomatis meningkatkan elektabilitas sebagai calon presiden,” tegas Jamiluddin.
Ia menambahkan, elektabilitas Gibran bahkan masih berada di bawah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang mencatatkan 2,9 persen.
“Artinya, selama menjadi wakil presiden, Gibran belum dinilai publik sebagai kandidat calon presiden yang potensial,” ujarnya.
Nama Dedi Mulyadi muncul sebagai kejutan dengan elektabilitas 17,4 persen, bahkan melampaui Gibran. Menurut Jamiluddin, hal ini menunjukkan Dedi memiliki daya tarik politik dan nilai jual elektoral yang kuat.
“Secara elektoral, Dedi Mulyadi saat ini memiliki nilai jual sebagai calon presiden yang lebih tinggi dibandingkan Gibran,” katanya.
Namun demikian, peluang Dedi untuk menantang Prabowo dinilai tidak mudah, mengingat keduanya berasal dari Partai Gerindra.
“Bersaing dengan Prabowo dari partai yang sama jelas tidak menguntungkan bagi Dedi,” ujarnya.
Dengan mempertimbangkan seluruh temuan tersebut, Jamiluddin melihat kemungkinan besar Pilpres 2029 kembali mempertemukan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan, terutama jika presidential threshold menjadi nol persen sesuai putusan Mahkamah Konstitusi.
Apalagi, jika Partai Gerakan Rakyat lolos verifikasi, peluang Anies untuk kembali maju dinilai semakin terbuka.
“Jika kondisi itu terjadi, Pemilihan Presiden 2029 berpotensi berlangsung ketat, keras, dan menegangkan,” pungkasnya.***













