Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

Bekasi Kembali Tenggelam: DAS Dikuasai Bangunan, Warga Disuruh Pindah?

×

Bekasi Kembali Tenggelam: DAS Dikuasai Bangunan, Warga Disuruh Pindah?

Sebarkan artikel ini
Suasana banjir Bekasi 29 Januari 2026, Genangan terpantau di beberapa kecamatan dengan ketinggian air bervariasi mulai dari ±10 cm hingga ±150 cm.

KOTA BEKASI — Hujan berintensitas tinggi sejak dini hari kembali menjadikan Kota Bekasi sebagai etalase tahunan banjir perkotaan. Sedikitnya 7 kecamatan dan 15 titik terendam, dengan ketinggian air bervariasi mulai dari 10 sentimeter hingga 150 sentimeter, menegaskan satu ironi klasik: air selalu menemukan jalannya, sementara tata ruang terus mencari alasan.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto secara terbuka menyatakan bahwa warga yang tinggal dan mendirikan bangunan di Daerah Aliran Sungai (DAS) seharusnya tidak lagi bertahan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Kalau memang itu daerah aliran sungai, seharusnya warga sudah pindah. Apalagi jika tanahnya bukan milik mereka, melainkan milik Perusahaan Jasa Tirta,” tegas Tri, Kamis (29/1/2026).

BACA JUGA :  Viral TikTok “Jual Kampung ke Orang Cina”, Warga Bekasi Utara Murka

Pernyataan tersebut menyiratkan satu pesan tegas namun problematik: banjir adalah konsekuensi dari pilihan tinggal, bukan semata kegagalan tata kelola ruang. Di saat yang sama, pemerintah mengakui bahwa solusi struktural seperti pembangunan tanggul masih tersendat persoalan klasik pembebasan lahan dan kerelaan warga.

“Wilayah Mawar memang harus ditanggul. Tapi ini membutuhkan pembebasan lahan dan kesediaan warga yang tinggal di bantaran,” ujar Tri.

Pemkot Bekasi juga berencana menertibkan bangunan liar di bantaran sungai. Bahkan, 72 bangunan di kawasan Lotte Mart disebut akan segera ditertibkan. Langkah yang terdengar progresif, meski datang setelah air lebih dulu mengetuk pintu rumah warga.

BACA JUGA :  Wali Kota Bekasi–Wamen PU Tinjau Kalimati dan Jatibening Rawan Banjir

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi mencatat genangan terjadi hampir merata, dari kawasan perumahan hingga fasilitas umum. Kecamatan terdampak antara lain Pondok Gede, Rawalumbu, Jati Asih, Bekasi Barat, Bekasi Utara, dan Bekasi Timur.

Di Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara, air setinggi 30 cm hingga 1,5 meter memaksa warga mengungsi ke musala dan lokasi pengungsian. Sembilan warga, termasuk anak-anak, telah dievakuasi. Sementara di Pondok Gede, seorang warga lanjut usia juga dievakuasi akibat genangan hingga 80 cm.

BPBD mengerahkan empat tim gabungan untuk pemantauan dan evakuasi, dengan fokus di titik-titik rawan seperti Kampung Lebak, Jatibening Permai, Bintara, hingga Jati Kramat.

BACA JUGA :  Pujawati Dudonan ke-61: Kota Bekasi, Ritual, dan Retorika Kerukunan

Banjir kali ini kembali membuka luka lama tata ruang Kota Bekasi. Alih fungsi lahan, bangunan di bantaran sungai, dan lemahnya pengendalian DAS menjadi kombinasi sempurna yang setiap tahun diuji hujan dan hampir selalu kalah.

Air kiriman memang datang dari hulu. Namun yang menunggu di hilir adalah ruang sungai yang menyempit, saluran yang kehilangan fungsi, dan kebijakan yang sering datang setelah bencana.

BPBD mengimbau warga tetap waspada, menghindari genangan, dan segera melapor jika kondisi memburuk. Sementara itu, hujan di wilayah hulu masih berlangsung, dan status kewaspadaan terus dipantau.***