Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Telur Mentah vs Matang: Mana Lebih Sehat dan Aman untuk Tubuh?

×

Telur Mentah vs Matang: Mana Lebih Sehat dan Aman untuk Tubuh?

Sebarkan artikel ini
foto telur

WawaiNEWS.id – Telur kerap dipuja sebagai bahan makanan sejuta umat murah, mudah diolah, dan kaya nutrisi. Namun, satu perdebatan klasik tak pernah benar-benar selesai lebih sehat telur mentah atau telur matang?

Sebagian orang bersikeras menelan telur mentah demi “nutrisi maksimal”, seolah panas adalah musuh utama gizi. Padahal, sains berkata sebaliknya: telur mentah bukan pahlawan kesehatan, melainkan jebakan halus bernama avidin dan bakteri.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Melansir Times of India (22/1), cara mengolah telur berpengaruh besar terhadap keamanan, rasa, dan penyerapan nutrisi. Alih-alih kehilangan gizi, telur yang dimasak dengan benar justru membuat tubuh bekerja lebih efisien.

Avidin: Si Pengikat Vitamin yang Tak Diundang

Di balik putih telur mentah, bersembunyi protein bernama avidin. Tugasnya sederhana tapi menyebalkan: mengikat biotin, vitamin B penting untuk metabolisme, kesehatan kulit, dan rambut.

BACA JUGA :  Begini Penjelasan BPOM Kandungan Etilen dan Dietilen Pada Sirup

Artinya, semakin sering mengonsumsi telur mentah, semakin besar kemungkinan tubuh kehilangan kesempatan menyerap biotin. Ironis niat sehat, hasilnya justru defisit.

Kabar baiknya, panas adalah solusi. Saat telur dimasak, avidin berubah bentuk dan kehilangan kemampuannya menghambat biotin. Tubuh pun bisa bernapas lega dan menyerap nutrisi dengan optimal.

Protein Lebih Bersahabat Setelah Matang

Tak hanya soal vitamin, protein telur matang terbukti lebih mudah dicerna dibandingkan protein telur mentah. Penelitian menunjukkan, protein telur yang dimasak dapat diserap tubuh hampir dua kali lipat lebih efisien.

Dengan kata lain, memasak telur bukan merusak gizi, tapi membuka pintu manfaatnya.

Salmonella: Bonus Tak Diinginkan dari Telur Mentah

Di luar urusan nutrisi, ada ancaman yang lebih serius: Salmonella enteritidis. Bakteri ini bisa bersembunyi di dalam telur maupun di permukaan cangkangnya.

BACA JUGA :  Sudah Enam Orang Positif Covid-19 di Indonesia

Infeksi Salmonella bukan perkara sepele gejalanya bisa berupa diare, demam, mual, muntah, hingga kram perut. Risiko paling besar mengintai anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan imunitas rendah.

Jadi, jika telur mentah dianggap “alami”, perlu diingat: bakteri juga alami dan tak semuanya bersahabat.

Overcooked: Ketika Telur Terlalu Menderita

Meski telur perlu dimasak, memasaknya terlalu lama juga bukan ide cemerlang. Panas berlebih membuat protein menggumpal, tekstur menjadi keras, kering, dan rasa kehilangan kelezatannya.

Beberapa nutrisi sensitif panas seperti vitamin B12, folat, dan antioksidan bisa berkurang jika telur dimasak terlalu lama. Lemak pada kuning telur pun berisiko mengalami oksidasi.

BACA JUGA :  Kerap Berhubungan Intim Bisa Cegah Percepatan Menopause, Begini Tanggapan Ahli?

Namun satu hal perlu ditegaskan: telur yang terlalu matang masih jauh lebih aman dibanding telur mentah.

Jalan Tengah yang Paling Masuk Akal

Untuk hasil terbaik, para ahli menyarankan:

  • Putih telur dimasak hingga benar-benar matang
  • Kuning telur boleh setengah matang, sesuai selera
  • Jika membutuhkan telur mentah untuk resep tertentu, gunakan telur pasteurisasi

Dengan teknik yang tepat, telur tetap menjadi sumber protein berkualitas tinggi aman, lezat, dan bergizi.

Kesimpulan: Masaklah dengan Akal Sehat

Telur tidak pernah salah. Yang sering keliru adalah cara memperlakukannya. Antara mentah yang berisiko dan terlalu matang yang kehilangan pesona, telur matang dengan waktu pas adalah juaranya.

Karena dalam urusan telur, sedikit panas justru menyelamatkan banyak manfaat.***