LAMPUNG TIMUR — Kejadian berulang, keracunan massal yang terjadi di Lampung Timur oleh Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang terakhir pada 28 Januari kemarin diduga dipicu oleh makanan ayam suir basi.
Diketahui Peristiwa tersebut terjadi usai pendistribusian MBG oleh SPPG. Menu yang disajikan terbilang standar dan “aman di atas kertas”, nasi putih, ayam suir daun jeruk, tahu goreng, sayur buncis-wortel, serta buah jeruk. Namun, di lapangan, cerita berkata lain.
“Waktu diterima siang hari, lauk ayamnya rasanya sudah lain. Seperti mau basi,” ungkap seorang guru SMP penerima MBG yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Keluhan serupa datang dari berbagai sekolah dan pondok pesantren. Bahkan, 26 santri perempuan dari salah satu ponpes di Desa Surya Mataram harus menjalani perawatan di klinik setempat sejak malam harinya.
“Bukan cuma siswa, kami para guru juga ikut merasakan sakit perut. Besoknya ratusan siswa tidak masuk sekolah,” tambah sang guru.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Surya Mataram, Rizqi Nanda, membenarkan bahwa MBG hari itu didistribusikan kepada lebih dari 3.000 penerima, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga ibu hamil.
“Pengolahan makanan semuanya dalam kondisi fresh di dapur. Distribusi dimulai pagi hari sampai pukul 10.00 WIB,” kata Rizqi, sebagaimana dikutip Wawai News, Jumat (30/1).
Namun, fakta di lapangan membuat klaim “fresh” itu kini ikut diuji bukan lewat debat, melainkan lewat pemeriksaan laboratorium.
Pasca kejadian, operasional SPPG Surya Mataram resmi dihentikan sementara, menyusul instruksi dari pihak berwenang sembari menunggu hasil uji lab dari Dinas Kesehatan.
“Mulai besok, pendistribusian MBG dihentikan sementara sampai waktu yang belum ditentukan. Kami akan evaluasi menyeluruh,” ujar Rizqi.
Dinas Kesehatan bersama Forkopimcam Marga Tiga telah melakukan mitigasi cepat, termasuk pengambilan sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti keracunan massal tersebut.
Meski demikian, di balik langkah prosedural itu, muncul pertanyaan yang belum terjawab, bagaimana makanan yang diklaim “fresh” bisa berujung keluhan massal dalam waktu nyaris bersamaan?
Apakah masalah ada pada proses pengolahan, penyimpanan, rantai distribusi, atau justru kontrol kualitas yang terlalu percaya diri?.***












