Scroll untuk baca artikel
Opini

BoP: AS Aliansi dengan Dunia Muslim

×

BoP: AS Aliansi dengan Dunia Muslim

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 31/01/2026

WAWAINEWS.ID – Amerika Serikat tengah menata ulang posisinya di panggung global. Isu Palestina menjadi poros utama perubahan itu.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Langkah Washington bukan reaksi spontan. Melainkan respons strategis terhadap tekanan moral dan politik global. Resolusi Sidang Umum PBB ke-80, 12 September 2025, disetujui oleh 142 negara untuk mendukung Palestina. Menegaskan kembali two-state solution. Secara nyata menyudutkan Amerika Serikat secara moral.

Posisi AS menjadi tidak nyaman. Berdiri berseberangan dengan mayoritas komunitas internasional di isu yang sarat legitimasi kemanusiaan. AS tersudut secara moral.

Tekanan inilah yang mendorong AS melunak. Washington mulai menggeser pendekatannya dari defensif menjadi adaptif. AS kemudian menekan Israel agar membuka diri terhadap ajakan negara-negara Muslim. Agar menerima kembali jalur diplomasi yang lebih inklusif.

BACA JUGA :  Candi dan Pergeseran Tata Cara Ibadah

Dari sinilah Board of Piece (BoP) Palestina muncul. Bukan sebagai konsep baru yang menggantikan two-state solution. Melainkan sebagai bukti penerimaan politik Amerika terhadap skenario tersebut.

BoP Palestina berfungsi sebagai papan strategis. Arena tempat kepentingan AS, Israel, negara-negara Muslim, dan aktor global lain diposisikan ulang. Tujuannya agar *two-state solution” memiliki peluang implementasi nyata.

Jika resolusi PBB memberi legitimasi normatif, maka BoP menyediakan mekanisme politik dan aliansi untuk menggerakkan aktor-aktor kunci.

Kelanjutan ini terlihat jelas pada KTT Sharm El-Sheikh, 13 Oktober 2025. Forum itu mempertemukan lebih dari 20 kepala negara Muslim bersama AS dan Mesir. Pertemuan tersebut tidak hanya membahas gencatan senjata dan Gaza. Tetapi juga menandai kesediaan AS memfasilitasi dialog yang lebih luas antara Israel dan dunia Muslim.

BACA JUGA :  Prabowo Tinjau Pengungsian Bencana Sumatera, Janjikan Rumah bagi Korban: Negara Hadir, Bukan Sekadar Menyapa

Dalam konteks ini, BoP Palestina menjadi jembatan antara tekanan moral internasional dan realitas politik kawasan.

Eropa, di sisi lain, kini relatif absen. Pertama, hard feeling kepada Trumph akibat isu Greenland dan Ukraina. Kedua, kekhawatiran negara pemilik veto Eropa. BoP mengimbangi dominasi lama mereka di Dewan Keamanan PBB. Membuat Eropa berada di pinggir dinamika ini.

Bagi Washington, Eropa tetap penting. Tetapi tidak lagi sepenuhnya strategis dalam isu Palestina.

Kalkulasi AS juga bersifat preventif. Daripada membiarkan kekuatan dunia Muslim yang besar ditarik ke orbit Rusia atau Republik Rakyat Tiongkok, AS memilih mengambilnya sebagai mitra. Jika dijalankan secara detail dan jeli, posisi dunia Muslim menjadi sangat strategis dan tidak bisa diabaikan dalam tatanan multipolar.

BACA JUGA :  Survei Utting Research Unggulkan Ganjar Olahan Pabrik Kecurangan?

Rusia, Eropa, RRC, AS butuh Dunia Muslim. Ceruk pasar yang besar.

Dengan demikian, BoP Palestina adalah konfirmasi politik bahwa AS menerima kembali skenario two-state solution. Bukan sekadar sebagai wacana PBB, tetapi sebagai arah kebijakan nyata.

Bagi dunia Muslim, ini adalah kesempatan untuk secara damai dan terkoordinasi mengkomunikasikan agenda-agenda substansialnya. Dalam arsitektur multipolar abad ke-21, Palestina menjadi titik temu moral dan strategis yang mengubah peta kekuatan global.

Melawan AS selalu gagal. Di veto. Kini duduk satu meja.

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.