TANGGGAMUS – Proyek penguatan tebing sungai di Pekon Gunung Kasih, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, kini menjadi buah bibir dan sumber keresahan warga. Pekerjaan yang menelan anggaran negara hingga Rp2,2 miliar itu dinilai jauh dari kata ideal dan memunculkan kecurigaan serius terhadap kualitas konstruksi.
Proyek yang dibiayai melalui Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2025 dan dikerjakan oleh CV Angkatan Sepuluh tersebut, menurut warga, tidak mencerminkan besarnya dana publik yang digelontorkan.
Sebagaimana rilis yang diterima Wawai News, di lapangan, hasil pekerjaan tampak mengecewakan. Sejumlah warga Pekon Gunung Kasih menduga pengerjaan dilakukan tergesa-gesa, dengan mutu material dan teknis konstruksi yang patut dipertanyakan.
“Kami benar-benar khawatir. Anggarannya miliaran, tapi hasilnya seperti asal jadi. Jangan sampai belum lama selesai, sudah hancur,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, Minggu (1/2/2026).
Kekhawatiran warga ini bukan tanpa alasan. Proyek penguatan tebing sungai sejatinya memiliki fungsi vital sebagai pelindung wilayah dari ancaman longsor dan banjir. Namun jika kualitasnya buruk, risiko justru mengintai masyarakat.
Sorotan publik semakin tajam setelah Ketua LSM PENJARA Indonesia DPD Provinsi Lampung, Mahmuddin, angkat bicara. Ia menilai proyek bernilai miliaran rupiah tersebut layak diaudit secara menyeluruh.
Menurut Mahmuddin, proyek infrastruktur yang bersumber dari uang rakyat wajib dikerjakan secara profesional, transparan, dan taat spesifikasi teknis.
“Kalau benar dikerjakan asal-asalan, ini bukan sekadar kelalaian. Patut dicurigai adanya penyimpangan. Kami mendesak BPK dan aparat penegak hukum segera turun tangan,” tegasnya.
Ia juga menyentil sikap Dinas PSDA Provinsi Lampung sebagai pengguna anggaran agar tidak tutup mata terhadap keluhan masyarakat.
“Ini uang rakyat. Jangan sampai proyek pengaman bencana justru berubah menjadi ladang bancakan oknum tertentu,” tambah Mahmuddin dengan nada keras.
LSM PENJARA Indonesia menyatakan tidak akan berhenti pada pernyataan. Mereka berkomitmen mengawal proyek ini hingga tuntas dan siap menempuh jalur hukum apabila ditemukan indikasi pelanggaran.
Di sisi lain, warga Pekon Gunung Kasih berharap pemerintah daerah dan instansi terkait bersikap tegas, melakukan evaluasi terbuka, serta memastikan proyek tersebut benar-benar sesuai standar teknis dan tahan jangka panjang.
Bagi masyarakat, proyek ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan soal keselamatan, keadilan, dan tanggung jawab negara terhadap uang rakyat. ***













