Scroll untuk baca artikel
Info Wawai

Kenapa Orang Jadi Galak Saat Ditagih Utang? Otak Masuk Mode Bertahan

×

Kenapa Orang Jadi Galak Saat Ditagih Utang? Otak Masuk Mode Bertahan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

WawaiNEWS.ID – Pernah bertanya-tanya mengapa seseorang yang biasanya ramah bisa mendadak galak, defensif, bahkan seperti “siap perang” saat ditagih utang? Jawabannya bukan semata soal etika atau tabiat buruk melainkan kombinasi tekanan psikologis, biologis, dan ancaman terhadap harga diri.

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKj, MSc, menjelaskan bahwa penagihan utang sering menjadi pemicu stres berat yang membuat sistem pengendalian emosi seseorang ambruk sementara.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Stres finansial dan rasa terancam pada harga diri dapat menurunkan kemampuan koping dan kontrol emosi. Saat itu, orang lebih mudah bereaksi keras,” jelas dr Riati, sebagaimana dilansir Wawai News, Rabu.

Otak Bukan Sedang Berpikir, Tapi Bertahan

Secara biologis, kondisi ini terjadi karena otak masuk mode darurat. Tekanan akibat utang mengaktifkan amigdala pusat deteksi ancaman sementara prefrontal cortex, bagian otak yang bertugas berpikir rasional dan menimbang konsekuensi, justru melemah.

BACA JUGA :  Aturan Terbaru Terkait Debt Colector, Ada Batasan Waktu Penagihan

Akibatnya, otak tidak sibuk mencari solusi, tetapi sibuk bertahan hidup.

“Otak masuk mode fight or flight. Respons yang muncul cenderung defensif dan agresif, bukan reflektif,” ujar dr Riati.

Singkatnya, yang berbicara bukan logika, tapi insting. Bukan negosiasi, melainkan reaksi.

Galak Bukan Berarti Gila

Meski terlihat emosional, dr Riati menegaskan bahwa sikap galak saat ditagih utang bukan tanda gangguan kejiwaan. Dalam banyak kasus, itu adalah respons stres akut yang masih tergolong normal.

“Ini mirip refleks orang yang kaget atau terpojok. Bukan karena sakit jiwa, tetapi karena tekanan keuangan yang berat,” katanya.

BACA JUGA :  Motif Pembunuhan Wanita Dicor di Rumah Kontrakan Terkait Hutang Piutang

Selama kemarahan hanya muncul dalam situasi tertentu misalnya saat ditagih utang dan tidak berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut masih dianggap wajar.

Namun, perlu diwaspadai jika kemarahan muncul di berbagai situasi, sulit dikendalikan, sampai menyakiti orang lain, mengganggu pekerjaan dan hubungan sosial, serta disertai gangguan tidur berat, rasa putus asa berkepanjangan, atau perilaku berisiko.

Ditagih Teman Bikin Malu, Ditagih DC Bikin Panik

Menariknya, respons emosi juga dipengaruhi siapa yang menagih. Jika yang menagih adalah teman atau orang dekat, reaksi yang muncul sering berupa malu, tersinggung, dan defensif karena harga diri dan relasi sosial ikut terancam.

Sebaliknya, jika yang datang adalah debt collector, otak lebih sering menafsirkan situasi sebagai ancaman langsung. Hasilnya: stres akut, emosi tinggi, dan agresi verbal.

BACA JUGA :  Utang dalam Islam: Sah-Sah Saja, Asal Jangan Jadi Hobi

“Meski sama-sama tampak galak, keduanya bukan tanda gangguan jiwa,” tegas dr Riati.

Jangan Diserang, Tapi Ditenangkan

Lalu, bagaimana menyikapinya? dr Riati menyarankan agar orang yang menghadapi individu galak saat ditagih utang tidak langsung melawan atau menekan.

“Biasanya mereka bukan ingin ribut, tetapi sedang kewalahan. Pendekatan yang lebih baik adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada pelan, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama,” ujarnya.

Nada tenang dan sikap tidak menghakimi dapat membantu menurunkan aktivitas emosi sehingga pembicaraan kembali rasional.

“Intinya, orang yang galak saat ditagih utang bukan perlu dimarahi, tetapi ditenangkan dan diajak mencari jalan keluar. Kalau tidak, yang meledak bukan hanya emosi, tapi juga masalahnya,” tutup dr Riati.***