WawaiNEWS.ID – Menteri Agama Nasaruddin Umar membagikan pandangan menarik tentang ketahanan mental (resilience) dari perspektif tasawuf saat mengisi kajian di Makassar. Bukan sekadar teori spiritual, pesan yang disampaikan justru sangat relevan untuk kehidupan modern yang penuh tekanan.
Berikut lima tips membangun ketahanan mental ala tasawuf yang bisa langsung dipraktikkan:
1. Ubah Cara Pandang: Ujian dan Nikmat Bukan Dua Kutub yang Berlawanan
Menurut Menag, semakin matang spiritual seseorang, semakin tipis jarak antara penderitaan dan kenikmatan.
Artinya, jangan melihat ujian sebagai musuh dan nikmat sebagai tujuan akhir. Keduanya adalah bagian dari proses yang sama: pembentukan diri.
Latihan sederhana:
Saat menghadapi masalah, jangan langsung bertanya “Kenapa saya?”
Ganti dengan: “Apa yang sedang diajarkan situasi ini kepada saya?”
Mindset menentukan kualitas ketenangan.
2. Pahami Hukum Keseimbangan: Segalanya Berpasangan
Siang ada karena malam. Cahaya bermakna karena gelap. Surga dipahami karena ada neraka.
Tasawuf mengajarkan bahwa hidup memang diciptakan dalam dualitas agar manusia bisa memahami makna.
Praktiknya:
Jika sedang berada dalam fase sulit, sadari bahwa fase itu membuat Anda lebih peka terhadap kebaikan yang akan datang.
Tanpa gelap, cahaya tak terasa istimewa.
3. Jangan Gantungkan Damai pada Situasi Eksternal
Ketenangan batin bukan soal kondisi luar, tapi bagaimana hati memproses kondisi tersebut.
Dua orang bisa menghadapi masalah yang sama yang satu hancur, yang lain justru tumbuh.
Latihan batin:
Berhenti sejenak sebelum bereaksi.
Tarik napas.
Sadari bahwa Anda punya pilihan untuk merespons dengan tenang.
Resiliensi bukan soal tidak terluka, tapi soal tidak tenggelam.
4. Latih “Fana”: Lepas dari Ego yang Terlalu Besar
Dalam maqam spiritual tertentu, kata Menag, seseorang bisa sampai pada fase “fana” larut dalam kehendak Tuhan. Di titik ini, penderitaan dan kenikmatan tak lagi mengguncang secara berlebihan.
Maknanya secara psikologis:
Semakin kecil ego, semakin kuat mental.
Orang yang terlalu melekat pada ekspektasi akan mudah kecewa.
Orang yang memahami bahwa hidup adalah proses Ilahi akan lebih stabil.
5. Sambut Ramadan dengan Tujuan yang Jernih
Menag mengingatkan, ibadah bukan untuk mengejar sensasi spiritual atau pengalaman emosional sesaat.
Tujuan utamanya adalah mendekat kepada Allah, bukan mencari “rasa”.
Persiapan ruhani yang bisa dilakukan:
- Kurangi distraksi.
- Perbanyak refleksi diri.
- Luruskan niat sebelum memasuki bulan suci.
Ketahanan mental lahir dari hati yang punya arah.
Inti Pesan: Damai Itu Dibangun, Bukan Ditunggu
Tasawuf mengajarkan bahwa resiliensi bukan kemampuan bertahan secara fisik, melainkan kemampuan menerima, memahami, dan memaknai.
Ketika seseorang mampu melihat ujian sebagai bagian dari perjalanan menuju pengenalan diri dan Tuhan, maka ia tidak mudah runtuh.
Bukan karena hidupnya ringan.
Tetapi karena hatinya kuat.***












