LAMPUNG TIMUR – Jika budaya adalah akar, maka Festival Adat Budaya Sekappung Limo Mego adalah cara masyarakat menyiramnya agar tak kering dimakan zaman. Rapat koordinasi menyongsong Festival Sekappung Limo ke-2 digelar di Aula Kecamatan Sekampung Udik, dengan satu semangat yang sama, gotong royong atau ketinggalan sejarah, Sabtu (14/2).
Rapat dibuka langsung oleh Camat Sekampung Udik, Putu Ardiana. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kebersamaan dan transparansi kepanitiaan demi menyukseskan perhelatan budaya tersebut.
“Kita punya kekayaan budaya Lampung yang luar biasa. Ini harus kita lestarikan agar sejarah tetap hidup. Mari bergotong royong, bergandengan tangan menyukseskan festival ini,” ujarnya.
Pesan yang sederhana, namun mengandung makna dalam, budaya tidak bisa dijaga sendirian, apalagi hanya lewat unggahan media sosial.
Sementara itu, Plt Camat Marga Sekampung, Mardiono, menambahkan bahwa kesuksesan festival tahun sebelumnya harus menjadi pijakan untuk membuat edisi kedua lebih besar dan lebih meriah.
Apalagi lanjutnya, tahun ini kegiatan direncanakan digelar di Taman Wisata Purbakala Lampung, Desa Pugung Raharjo lokasi yang bukan hanya kaya sejarah, tetapi juga simbol peradaban tua Lampung Timur.
“Festival Budaya Sekappung Limo Mego ke-2 ini bukan hanya sekadar panggung tari dan adat, tetapi etalase sejarah,”tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia 2025, Ahmad Kausar, menegaskan bahwa festival ini memiliki legalitas yang jelas dan telah terdaftar di Kesbangpol Lampung Timur. Secara administratif lengkap. Secara semangat? Lebih lengkap lagi.
“Festival ini milik kita semua. Tahun lalu kita kompak, tahun ini harus lebih kompak. Ini perjuangan bersama penyimbang adat dan perwakilan tiyuh,”ujarnya.
Nada optimistis ini menjadi penegasan bahwa festival bukan milik segelintir orang, melainkan milik masyarakat adat Sekappung Limo Mego secara kolektif.
Kebandaraan Sekappung Limo Mego, Yuz Darmawansyah, menyampaikan visi yang lebih luas. Menurutnya, budaya Lampung harus didorong menjadi brand yang dikenal luas, bahkan nasional.
“Kita ingin budaya Sekappung Limo Mego ini tidak hanya hidup di sini, tetapi dikenal luas seperti Way Kambas atau Taman Wisata Purbakala. Festival ini harus menjadi pintu pengenalan sejarah dan nilai budaya kita,” tegasnya.
Pernyataan itu menyiratkan ambisi yang sehat, budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga potensi ekonomi dan identitas daerah.
Akademisi Sainul, juga salah satu tokoh masyarakat Sekappung Limo, mengajak seluruh elemen untuk menjaga semangat nemui nyimah, falsafah keramahan masyarakat Lampung sebagai fondasi organisasi dan pelaksanaan festival.
Ia juga menyinggung pentingnya menampilkan potensi kuliner dan UMKM lokal dalam festival nanti. Sebab, budaya tidak hanya tampil dalam pakaian adat dan tarian, tetapi juga dalam cita rasa dapur dan kreativitas pelaku usaha kecil.
“Festival tanpa kuliner khas? Ibarat upacara adat tanpa gong,”tukasnya sambil mengelus jenggotnya.
Memasuki agenda inti, rapat memutuskan untuk mendemisionerkan panitia lama dan membentuk kepanitiaan baru untuk 2026. Secara musyawarah mufakat, Ibrahim Restu Saka ditunjuk sebagai Ketua Panitia 2026.
Keputusan ini menjadi penanda dimulainya babak baru persiapan festival. Tantangannya jelas, membuat Sekappung Limo Mego tak hanya meriah, tetapi juga berkelas dan berdampak.
Festival Adat Budaya Sekappung Limo Mego bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah pernyataan sikap bahwa masyarakat Lampung Timur tidak ingin budayanya sekadar dikenang, tetapi dirayakan.
“Budaya yang hidup bukan yang disimpan di lemari, melainkan yang dipentaskan dengan bangga di panggung sendiri,”pungkas mengaku siap mensukseskan Festival Sekappung Limo Mego.***












