KOTA BEKASI – Ketika sampah dan kabel semrawut mulai lebih dominan dari pepohonan, pemerintah akhirnya turun tangan. Berbekal arahan langsung Presiden RI untuk menggelar korve atau aksi bersih-bersih serentak, Hanif Faisol Nurofiq bersama Tri Adhianto menyisir kawasan Jalan Juanda hingga Pasar Baru, Bekasi Timur.
Titik kumpul berada di Lapangan Multiguna Bekasi. Aparatur dari Dinas Lingkungan Hidup, Kecamatan Bekasi Timur, Satpol PP, hingga Dinas Perindustrian dan Perdagangan dikerahkan. Sapu, gunting baja, hingga tang pemotong kabel menjadi “senjata” utama hari itu.
Rute pembersihan dimulai dari Jalan Mayor Oking (Proyek) hingga Pasar Baru Bekasi koridor padat aktivitas yang selama ini dikenal sibuk, namun kerap luput dari sentuhan estetika.
Fokus utama Wali Kota tertuju pada kawasan Pasar Baru. Ia menyoroti fenomena tali plastik yang diikat sembarangan pada pagar besi ruko praktik sederhana yang dampaknya besar terhadap wajah kota.
“Kita ingin tata kota ini tertib dan enak dipandang. Jangan lagi ada tali plastik yang diikat sembarangan ke pagar ruko. Ini soal kesadaran bersama,” tegas Tri Adhianto di sela kegiatan.
Tak berhenti di situ, plang nama toko yang tidak berizin atau masa izinnya habis turut dipotong. Kabel-kabel yang menggantung tanpa arah juga dirapikan. Pemandangan yang selama ini seperti “seni instalasi liar” akhirnya mendapat penataan.
Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) pun diturunkan untuk membantu pemotongan plang berbahan besi serta merapikan jaringan kabel. Pesannya jelas: kota bukan papan pengumuman bebas.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup menyoroti persoalan yang lebih besar dari sekadar tali plastik yakni volume sampah Kota Bekasi yang disebut hampir mencapai kapasitas maksimal.
Menurutnya, pembenahan tak bisa berhenti pada aksi simbolik. Diperlukan reformasi sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, termasuk rencana pembentukan PTSL di area Bantargebang sebagai langkah strategis pengendalian dan pengolahan sampah ke depan.
Peringatan ini bukan tanpa alasan. Jika produksi sampah terus meningkat tanpa pengolahan yang memadai, maka TPA akan menjadi monumen kegagalan tata kelola lingkungan.
Aksi korve ini memang menghadirkan pemandangan tak biasa: menteri dan wali kota turun langsung memungut dan menata. Namun tantangan sesungguhnya ada pada konsistensi pasca-kegiatan.
Karena membersihkan satu hari itu mudah. Menjaga tetap bersih setiap hari itulah ujian sebenarnya.
Di tengah geliat kota penyangga ibu kota yang terus tumbuh, Bekasi dihadapkan pada pilihan sederhana: menjadi kota yang berkembang rapi, atau berkembang semrawut. Korve Juanda–Pasar Baru menjadi pengingat bahwa wajah kota bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga kedisiplinan kolektif.













