Scroll untuk baca artikel
Internasional

Video Rasis Trump Picu Badai, Obama Sindir Etika Gedung Putih

×

Video Rasis Trump Picu Badai, Obama Sindir Etika Gedung Putih

Sebarkan artikel ini
Barack Obama mantan presiden AS - foto doc fb

WASHINGTON — Politik Amerika Serikat kembali memanas. Kali ini bukan soal pajak, imigrasi, atau ekonomi, melainkan soal etika dan sebuah video yang memicu badai kritik lintas partai.

Sebuah unggahan di akun Truth Social milik Presiden AS Donald Trump memuat klip yang menampilkan mantan Presiden Barack Obama dan istrinya, Michelle Obama, digambarkan sebagai kera, dengan latar lagu The Lion Sleeps Tonight. Video tersebut muncul di akhir tayangan berisi klaim tak berdasar soal kecurangan Pemilu 2020.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Alih-alih membuat publik “tertidur nyenyak” seperti judul lagunya, unggahan itu justru membangunkan gelombang kecaman dari Demokrat hingga Republik.

Gedung Putih awalnya membela unggahan tersebut dengan menyebut kritik publik sebagai “kemarahan palsu”. Namun tak lama kemudian, video itu dihapus dan kesalahan diarahkan kepada seorang staf.

BACA JUGA :  2.345 Meninggal oleh Virus Corona di China

Presiden Trump sendiri mengatakan kepada wartawan bahwa ia “tidak melihat” bagian video yang menampilkan keluarga Obama. Ketika ditanya apakah ia akan meminta maaf, jawabannya singkat: ia tidak merasa membuat kesalahan.

Di era ketika satu klik bisa memicu krisis diplomatik, pembelaan seperti ini terdengar lebih seperti strategi bertahan ketimbang klarifikasi.

Reaksi keras justru datang dari dalam Partai Republik. Senator Tim Scott, satu-satunya senator Republik berkulit hitam, menyebut unggahan tersebut sebagai “hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih ini.”

Klip itu mengingatkan banyak pihak pada karikatur rasis lama yang membandingkan orang kulit hitam dengan monyet sebuah stereotip historis yang sarat diskriminasi dan luka sosial.

BACA JUGA :  Erdogan Pastikan Kunjungi Indonesia Tahun Depan

Dalam politik modern yang serba digital, meme mungkin dianggap senjata ringan. Namun ketika dibagikan dari lingkar kekuasaan tertinggi, bobotnya berubah drastis.

Respons Obama tidak disampaikan lewat konferensi pers besar, melainkan melalui podcast bersama komentator liberal Brian Tyler Cohen. Dalam episode berdurasi 47 menit itu, Obama menyinggung merosotnya kualitas wacana politik Amerika.

Tanpa menyebut nama secara langsung, ia menyatakan bahwa rasa malu dan kesopanan di kalangan pejabat publik telah menghilang. Pernyataan tersebut menjadi sindiran halus namun tajam terhadap situasi yang sedang berlangsung.

Podcast itu juga menyinggung narasi Gedung Putih terkait isu imigrasi dan penggunaan istilah “teroris domestik” terhadap kelompok tertentu menambah daftar panjang kontroversi komunikasi politik pemerintahan saat ini.

BACA JUGA :  Berburu Ular Piton di Florida, Hadiahnya Ratusan Juta Lho!

Kasus ini memperlihatkan bagaimana ruang digital kini menjadi arena tempur utama politik Amerika. Meme dan potongan video bukan lagi sekadar hiburan internet, melainkan alat propaganda yang dapat membentuk opini, memicu polarisasi, bahkan memperdalam luka rasial.

Di tengah suhu politik yang sudah tinggi menjelang siklus pemilu berikutnya, insiden ini mempertegas satu hal: pertempuran politik AS tak lagi hanya soal kebijakan, tapi juga soal narasi dan batas etika yang terus diuji.

Pertanyaannya kini bukan sekadar siapa yang benar atau salah, tetapi seberapa jauh standar kepantasan publik telah bergeser.

Karena ketika humor berubah menjadi penghinaan, dan satire berubah menjadi stereotip, demokrasi pun ikut diuji daya tahannya.***