LAMPUNG TIMUR – Genap satu tahun kepemimpinan Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah bersama Wakil Bupati Azwar Hadi. Pemerintah daerah mengklaim periode awal ini diisi dengan akselerasi pembangunan infrastruktur dan penguatan pelayanan publik menuju visi “Lampung Timur Makmur Lestari”.
Satu tahun memang belum cukup untuk mengubah segalanya. Tapi cukup untuk mulai mengukur: seberapa jauh jalan sudah dibangun, dan seberapa jauh janji sudah dijalankan?
Sepanjang 2025, tercatat rekonstruksi jalan kabupaten dan desa mencapai 78,93 kilometer. Selain itu, pemeliharaan berkala dilakukan sepanjang 10,15 kilometer.
Tak hanya proyek besar, pemerintah juga mengandalkan Unit Reaksi Cepat (URC) untuk penanganan kerusakan jalan. Total 710 penanganan dilakukan melalui skema ini model tambal cepat yang diharapkan mampu merespons keluhan masyarakat tanpa harus menunggu proyek tahunan.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah lubang jalan lebih cepat ditangani daripada komentar di media sosial? Jika iya, itu kabar baik.
Untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, dua unit jembatan dibangun dan direhabilitasi di kawasan Sekampung dan Waway Karya. Infrastruktur ini diharapkan memperlancar mobilitas warga sekaligus mendukung aktivitas ekonomi.
Sebab pembangunan tak melulu soal panjang jalan, tapi juga soal seberapa lancar hasil panen, logistik, dan aktivitas warga bisa bergerak dari desa ke pusat ekonomi.
Di sektor sumber daya air, rehabilitasi jaringan irigasi dilakukan sepanjang 433,6 meter. Sementara pembangunan drainase mencapai 3.800 meter untuk mengurangi potensi genangan dan banjir.
Langkah unik juga dilakukan lewat rehabilitasi tanggul sungai di Desa Braja Asri, Way Jepara bukan sekadar pengendali air, tetapi juga sebagai penghalau interaksi manusia dan gajah. Di Lampung Timur, pembangunan kadang bukan hanya soal beton dan aspal, tetapi juga soal harmoni dengan satwa liar.
Melalui Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan, sejumlah program prioritas 2025 dijalankan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Fokusnya mencakup penataan kawasan, peningkatan kualitas lingkungan, hingga penguatan tata kelola pertanahan.
Karena pembangunan tanpa perencanaan lingkungan yang matang ibarat membangun rumah tanpa fondasi terlihat kokoh, tapi rawan retak.
Pemerintah daerah menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat selama satu tahun pertama. Komitmen yang digaungkan tetap sama: bekerja dengan hati dan melayani sepenuh hati.
Namun publik tentu berharap lebih dari sekadar slogan. Infrastruktur yang dibangun harus berkualitas, pelayanan publik harus terasa nyata, dan pertumbuhan ekonomi harus menyentuh masyarakat bawah bukan hanya berhenti di laporan kinerja.
Satu tahun adalah awal. Empat tahun ke depan akan menjadi pembuktian: apakah akselerasi ini benar-benar melaju kencang, atau hanya sekadar start yang terdengar bising di garis awal.
Lampung Timur sudah bergerak. Kini masyarakat menunggu hasil yang benar-benar terasa.***













