WawaiNEWS.ID – “Tak lengkap rasanya berbuka tanpa gorengan.” Kalimat ini seolah menjadi doktrin tak tertulis setiap Ramadan. Bakwan, risol, tahu isi, pastel semuanya menggoda di atas nampan, hangat dan renyah.
Namun di balik kerenyahan itu, ada risiko kesehatan yang sering diabaikan.
Berbuka puasa bukan sekadar mengisi perut kosong, tetapi memulihkan kondisi tubuh setelah 12–14 jam berpuasa. Sayangnya, gorengan justru bisa menjadi “kejutan berat” bagi sistem pencernaan dan metabolisme.
1️⃣ Lambung Kaget: Dari Kosong ke Lemak Tinggi
Saat puasa, lambung dalam kondisi relatif kosong dan produksi asam lambung meningkat. Ketika langsung diisi makanan tinggi lemak seperti gorengan:
- Proses cerna menjadi lebih lambat
- Lambung bekerja lebih berat
- Risiko kembung, mual, hingga nyeri ulu hati meningkat
Lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dibanding karbohidrat kompleks atau protein. Akibatnya, rasa begah dan tidak nyaman sering muncul setelah berbuka dengan gorengan.
2️⃣ Lonjakan Gula dan Lemak Darah
Gorengan umumnya dibuat dari tepung olahan dan digoreng dengan minyak banyak. Kombinasi ini menyebabkan:
- Indeks glikemik meningkat
- Lonjakan gula darah cepat
- Diikuti rasa lemas dan mengantuk
Minyak yang dipakai berulang kali juga menghasilkan lemak trans dan senyawa oksidatif berbahaya. Dalam jangka panjang, ini berkontribusi pada:
- Peningkatan kolesterol jahat (LDL)
- Penurunan kolesterol baik (HDL)
- Risiko penyakit jantung dan stroke
Bagi penderita diabetes, gorengan saat berbuka bisa memicu fluktuasi gula darah yang tidak stabil.
3️⃣ Risiko Peradangan dan Penyakit Kronis
Minyak yang dipanaskan berulang kali menghasilkan radikal bebas. Senyawa ini dapat:
- Memicu stres oksidatif
- Mempercepat peradangan
- Meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular
Dalam jangka panjang, kebiasaan konsumsi gorengan berlebihan berkaitan dengan obesitas dan sindrom metabolik.
Ramadan seharusnya menjadi momentum detoksifikasi alami tubuh bukan justru menambah beban racun dari minyak jelantah.
4️⃣ Berat Badan Naik Saat Puasa? Bisa Jadi Karena Gorengan
Banyak orang heran mengapa berat badan justru naik selama Ramadan.
Penyebab utamanya sering kali:
- Kalori tinggi saat berbuka
- Makanan tinggi lemak
- Kurang serat dan protein
Satu buah bakwan bisa mengandung 120–150 kalori. Jika mengonsumsi 3–4 buah setiap hari selama sebulan, asupan kalori berlebih menjadi signifikan.
5️⃣ Alternatif Sehat Saat Berbuka
Agar tubuh pulih optimal setelah puasa:
✅ Mulai dengan air putih dan kurma secukupnya
✅ Konsumsi buah segar tinggi serat
✅ Pilih makanan rebus, kukus, atau panggang
✅ Tambahkan protein seperti tempe, tahu, telur, atau ikan
✅ Hindari langsung makan dalam porsi besar
Jika tetap ingin gorengan, batasi jumlahnya dan pastikan menggunakan minyak baru serta tidak dikonsumsi setiap hari.
Kesimpulan: Bijak Bukan Berarti Pantang Total
Gorengan bukan musuh utama yang berbahaya adalah kebiasaan berlebihan dan minyak berkualitas buruk.
Berbuka puasa adalah momen memulihkan energi, bukan balas dendam setelah lapar seharian. Pilihan makanan yang tepat akan membantu menjaga:
- Energi stabil
- Pencernaan sehat
- Berat badan terkendali
- Risiko penyakit kronis lebih rendah
Ramadan adalah latihan pengendalian diri, termasuk dalam memilih makanan.
Nikmat sesaat dari gorengan tidak sebanding dengan risiko kesehatan jangka panjang.***












