Scroll untuk baca artikel
Opini

Perang yang Menguntungkan Penonton: Ketika AS–Israel dan Iran Bertarung, Dunia Energi dan Industri Senjata Berpesta

×

Perang yang Menguntungkan Penonton: Ketika AS–Israel dan Iran Bertarung, Dunia Energi dan Industri Senjata Berpesta

Sebarkan artikel ini
Rudal balistik Kheibar (Foto: Iran's Ministry of Defence/WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS)

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak sekadar menambah daftar panjang ketegangan geopolitik dunia. Ia juga membuka bab lama dalam sejarah ekonomi perang: ketika peluru ditembakkan di satu kawasan, keuntungan justru mengalir ke pihak yang berdiri agak jauh dari garis tembak.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Perang modern tidak hanya soal siapa menang di medan tempur. Ia juga tentang siapa yang menang di pasar energi, siapa yang panen kontrak industri militer, dan siapa yang mampu membeli sumber daya dunia dengan harga diskon.

Dalam konteks ini, perang sering kali menjadi mesin redistribusi ekonomi global ironisnya bukan kepada pihak yang berperang, tetapi kepada aktor yang mampu membaca arah pasar.

Rusia: Menang dari Kenaikan Harga Minyak

Salah satu negara yang paling berpotensi tersenyum dalam situasi ini adalah Rusia. Sebagai eksportir energi besar dunia, setiap lonjakan harga minyak otomatis mempertebal kas negara.

Harga minyak Brent yang sempat mendekati US$100 per barel memberikan efek ekonomi signifikan bagi Moskow. Dalam struktur ekonomi Rusia yang sangat bergantung pada ekspor energi, setiap kenaikan sekitar US$10 per barel diperkirakan dapat menambah pendapatan negara hingga US$40 miliar per tahun.

Jika harga tinggi ini bertahan sepanjang tahun, tambahan pemasukan Rusia bisa mencapai US$40–60 miliar atau sekitar Rp640–960 triliun.

Fenomena ini bukan kebetulan. Dalam teori ekonomi komoditas dikenal istilah scarcity rent keuntungan tambahan yang diperoleh produsen ketika pasokan global terganggu sehingga harga naik tanpa perlu meningkatkan produksi.

BACA JUGA :  Profil Kesehatan Jamaah Haji dan Paradoks Ekosistem

Singkatnya, ketika Timur Tengah memanas, Rusia cukup duduk tenang sambil menjual minyak dengan harga lebih mahal.

Amerika Serikat: Industri Senjata dan Energi Menggeliat

Bagi Amerika Serikat, konflik juga membawa manfaat ekonomi yang tidak kecil, meskipun secara politik dan militer tetap menanggung risiko.

Lonjakan harga energi meningkatkan keuntungan perusahaan minyak dan gas domestik. Namun yang lebih menarik adalah lonjakan permintaan terhadap industri pertahanan Amerika.

Setiap konflik besar biasanya diikuti peningkatan belanja militer oleh negara-negara sekutu. Negara yang merasa terancam cenderung membeli sistem pertahanan baru: rudal, radar, pesawat tempur, hingga sistem pertahanan udara.

Jika peningkatan kontrak industri pertahanan global menghasilkan tambahan pesanan sekitar US$30–40 miliar, maka perusahaan pertahanan Amerika dapat menikmati potensi pendapatan tambahan setara Rp480–640 triliun.

Dalam ekonomi politik global, industri pertahanan memang memiliki satu “keunggulan bisnis”: ketika ketegangan meningkat, permintaan juga ikut naik.

Cina: Pembeli Energi Diskon

Sementara itu, Cina memperoleh keuntungan yang lebih sunyi tetapi strategis.

Karena sanksi Barat terhadap Iran, sebagian besar ekspor minyak Iran tidak lagi bebas masuk ke pasar global. Jalurnya menyempit dan salah satu pembeli terbesar yang bersedia menampungnya adalah Beijing.

Akibatnya, minyak Iran sering dijual dengan diskon sekitar US$10–15 per barel.

Jika Cina mengimpor sekitar 1 juta barel per hari, penghematan energi bisa mencapai US$3,6–5,4 miliar per tahun, atau sekitar Rp57–86 triliun.

BACA JUGA :  Anies, Agenda Perubahan dan Tembak Mati Koruptor

Dalam ekonomi industri raksasa seperti Cina, penghematan energi bukan sekadar angka kecil. Ia dapat menekan biaya produksi, memperkuat daya saing manufaktur, dan memperbesar ruang kebijakan ekonomi.

India: Strategi Energi Murah

India juga memainkan strategi serupa. Negara dengan konsumsi minyak sekitar 5 juta barel per hari ini kerap memanfaatkan diskon dari pemasok seperti Rusia ketika pasar energi terguncang.

Jika rata-rata diskon mencapai US$5 per barel, India dapat menghemat sekitar US$9 miliar per tahun, atau sekitar Rp144 triliun.

Bagi ekonomi berkembang dengan kebutuhan energi besar, diskon semacam ini bisa menjadi bantalan penting terhadap inflasi domestik.

Israel dan Iran: Biaya Perang yang Nyata

Namun di balik semua potensi keuntungan ekonomi global itu, realitas pahit tetap berada di garis depan konflik.

Israel diperkirakan menghadapi biaya perang lebih dari US$50 miliar, atau sekitar Rp800 triliun. Nilai tersebut mendekati 10 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara itu.

Aktivitas ekonomi domestik juga terpukul. Selama periode konflik, konsumsi rumah tangga sempat turun lebih dari 25 persen sebuah indikator serius bagi ekonomi negara mana pun.

Di sisi lain, Iran menghadapi tekanan yang lebih berat. Gangguan terhadap ekspor minyak serta risiko serangan terhadap infrastruktur energi membuat pendapatan minyak negara itu merosot tajam.

Kerugian diperkirakan mencapai sekitar US$120 juta per hari, atau sekitar Rp1,9 triliun setiap hari.

Dalam konflik semacam ini, negara yang berperang bukan hanya kehilangan anggaran militer. Mereka juga kehilangan pertumbuhan ekonomi, investasi, dan stabilitas domestik.

BACA JUGA :  Inspirasi Masker dan Masyker

Korban Terbesar: Ekonomi Global

Di atas semua itu, korban terbesar sesungguhnya adalah masyarakat dunia.

Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. Setiap gangguan di jalur strategis ini dapat memicu lonjakan harga energi secara global.

Dalam teori ekonomi makro, situasi seperti ini dikenal sebagai supply shock energi ketika pasokan komoditas vital terganggu sehingga harga melonjak, inflasi meningkat, dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Efeknya terasa di mana-mana: harga transportasi naik, biaya produksi meningkat, dan daya beli masyarakat menurun.

Artinya, bahkan negara yang tidak memiliki hubungan langsung dengan konflik tetap harus ikut membayar “tagihan perang” melalui harga energi yang lebih mahal.

Logika Ekonomi Perang

Angka-angka di atas dihimpun dari berbagai sumber dan masih memerlukan verifikasi lebih rinci. Namun pola ekonomi perang yang muncul sebenarnya bukan hal baru.

Dalam banyak konflik besar dunia, negara yang berperang langsung justru menanggung biaya terbesar. Infrastruktur rusak, anggaran negara terkuras, dan aktivitas ekonomi terhambat.

Sebaliknya, sebagian keuntungan justru dinikmati oleh pihak lain: eksportir energi, industri senjata, serta negara yang mampu memanfaatkan perubahan pasar global.

Perang pada akhirnya tidak hanya menciptakan pemenang dan pecundang di medan tempur. Ia juga menciptakan pemenang dan pecundang di pasar dunia.

Dan sering kali, yang paling diuntungkan justru mereka yang tidak ikut berperang tetapi pandai berdagang di tengah perang.***