Scroll untuk baca artikel
Internasional

Iran Ultimatum Barat: Damai Boleh, Asal Jangan Diserang Lagi Diplomasi Panas di Tengah Api Konflik Global

×

Iran Ultimatum Barat: Damai Boleh, Asal Jangan Diserang Lagi Diplomasi Panas di Tengah Api Konflik Global

Sebarkan artikel ini
Foto: Sebuah ruang kelas yang dipenuhi puing-puing dan gambar-gambar anak-anak yang berserakan terlihat di sebuah sekolah di Teheran, Iran, pada Selasa (3/3/2026), setelah bangunan tersebut rusak akibat serangan pada hari pertama perang. (Tangkapan Layar Video Reuters/WANA)

WawaiNEWS.ID — Di tengah eskalasi konflik yang kian memanas, Iran menegaskan bahwa setiap upaya mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel tidak bisa sekadar berhenti pada gencatan senjata. Ada “syarat tambahan” yang terdengar sederhana namun krusial: jaminan bahwa serangan serupa tidak akan terulang di masa depan.

Pesan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Iran, Jumat.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Jalan menuju normalisasi adalah penghentian serangan. Tapi penghentian saja tidak cukup—harus ada jaminan agar ini tidak jadi serial berulang,” ujar Araghchi, dalam nada yang terdengar seperti mengingatkan dunia bahwa konflik bukanlah tontonan bersambung.

Dalam pembicaraan tersebut, Iran juga memperingatkan pihak-pihak luar agar tidak “ikut campur terlalu jauh,” terutama dalam mendukung operasi militer maupun narasi media yang dianggap memperkeruh situasi.

BACA JUGA :  Timur Tengah di Ambang Perang Besar! Trump Ancam Hantam Iran, Israel Kerahkan 80 Jet Tempur

Secara khusus, Teheran meminta Inggris untuk menahan diri dari kerja sama dengan Washington dan Tel Aviv, baik di bidang militer maupun komunikasi publik. Kritik juga diarahkan pada penggunaan pangkalan militer Inggris oleh AS, yang dinilai Iran sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam konflik.

“Tindakan seperti itu akan dianggap sebagai partisipasi dalam agresi,” tegas Araghchi, menambahkan bahwa catatan sejarah tampaknya akan “cukup sibuk” mencatat siapa melakukan apa dalam konflik ini.

Meski demikian, Iran menegaskan tetap berpegang pada prinsip pertahanan diri. “Kami memiliki hak inheren untuk membela kedaulatan dan kemerdekaan,” ujarnya.

Di sisi lain, Iran juga menyuarakan kekecewaan terhadap sejumlah negara Eropa yang dinilai tidak cukup vokal mengecam serangan, meskipun menurut klaim Teheran serangan tersebut terjadi saat Iran tengah menempuh jalur diplomasi. Araghchi bahkan menyebut korban jiwa mencakup lebih dari 170 siswa sekolah dasar, sebuah pernyataan yang memperkuat narasi bahwa konflik ini berdampak luas pada warga sipil.

BACA JUGA :  Prabowo Siagakan Indonesia Hadapi Konflik Iran–AS–Israel, Siap Evakuasi WNI dan Tawarkan Diri Jadi Mediator

Iran turut menyoroti penggunaan pangkalan militer AS di negara-negara kawasan sebagai titik peluncuran serangan. Negara-negara tersebut, menurut Teheran, dinilai gagal menjalankan tanggung jawab internasional untuk mencegah wilayahnya digunakan sebagai basis agresi.

Sementara itu, Inggris melalui Cooper menyerukan penghentian konflik dan deeskalasi segera. Ia juga menyoroti dampak luas perang ini, mulai dari ketegangan politik hingga potensi gangguan ekonomi global—termasuk di jalur vital Selat Hormuz, yang kerap disebut sebagai “urat nadi energi dunia.”

BACA JUGA :  Arab Saudi Mulai “Mencicipi” Alkohol, Tapi Hanya untuk Kalangan Super-Elit

Konflik ini sendiri memanas sejak serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari, yang menurut laporan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk tokoh penting Iran. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke berbagai target di kawasan, memperluas radius konflik ke sejumlah negara Timur Tengah.

Di tengah situasi ini, dunia internasional tampak berada dalam posisi serba sulit: ingin meredam konflik, namun juga terjebak dalam kepentingan geopolitik masing-masing. Jika diplomasi adalah seni mencari jalan tengah, maka saat ini jalan tersebut tampaknya masih dipenuhi ranjau baik secara harfiah maupun politis.

Dan seperti yang tersirat dari pernyataan terbaru Teheran, damai mungkin saja dicapai asal semua pihak sepakat bahwa “jangan mulai lagi” bukan sekadar slogan, melainkan komitmen nyata.***