Scroll untuk baca artikel
Internasional

Dari Ultimatum ke Nuklir: Cara AS ‘Mengakhiri Perang’ yang Mengubah Dunia Selamanya

×

Dari Ultimatum ke Nuklir: Cara AS ‘Mengakhiri Perang’ yang Mengubah Dunia Selamanya

Sebarkan artikel ini
Rudal balistik Kheibar (Foto: Iran's Ministry of Defence/WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS)

JAKARTA — Ketika diplomasi buntu dan ultimatum tak digubris, sejarah mencatat satu langkah ekstrem yang pernah diambil Amerika Serikat bukan invasi darat, melainkan bom nuklir. Keputusan itu bukan sekadar strategi militer, tetapi juga menjadi salah satu bab paling kontroversial dalam sejarah umat manusia.

Peristiwa tersebut terjadi di penghujung Perang Dunia II, tepatnya pada Agustus 1945, saat perang di kawasan Pasifik antara Amerika Serikat dan Jepang belum menemukan titik akhir.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Presiden AS saat itu, Harry S. Truman, bersama Sekutu mengeluarkan Deklarasi Potsdam sebuah ultimatum keras yang menuntut Jepang menyerah tanpa syarat atau menghadapi “kehancuran cepat dan total”. Namun Jepang tidak segera merespons.

BACA JUGA :  Militer Sudan, Lakukan Kudeta Atas Presiden Omar al Bashir

Dari Rencana Invasi ke Tombol Nuklir

Awalnya, Pentagon telah menyiapkan skenario invasi darat besar-besaran ke wilayah Jepang. Namun rencana tersebut dinilai berisiko tinggi, mahal, dan berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam jumlah sangat besar.

Militer Jepang saat itu dikenal dengan doktrin bertempur hingga titik darah terakhir. Artinya, invasi darat diprediksi akan menjadi perang panjang yang menguras segalanya logistik, waktu, dan nyawa manusia.

Pada 6 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom atom pertama, Atomic bombing of Hiroshima. Bom bernama “Little Boy” meluluhlantakkan kota dalam hitungan menit.

Tiga hari kemudian, bom kedua, Atomic bombing of Nagasaki, dijatuhkan di Nagasaki.

Dampaknya mengerikan. Ratusan ribu orang tewas sekitar 70.000 hingga 140.000 di Hiroshima, dan 40.000 hingga 80.000 di Nagasaki belum termasuk korban jangka panjang akibat radiasi.

BACA JUGA :  Gerakan Hizbullah Akan Meningkatkan Konfrontasi dengan Israel

Serangan nuklir itu menjadi titik balik. Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Jepang, Hirohito, akhirnya menyatakan menyerah. Penandatanganan resmi dilakukan pada 2 September 1945 di atas kapal perang USS Missouri.

Perang berakhir. Dunia menarik napas. Tapi perdebatan justru dimulai dan belum selesai hingga hari ini.

Apakah bom nuklir mempercepat akhir perang dan menyelamatkan lebih banyak nyawa? Atau justru menjadi contoh ekstrem penggunaan kekuatan yang melampaui batas kemanusiaan?

Sejarawan Sergey Radchenko bahkan menyebut, keputusan tersebut tidak semata untuk menundukkan Jepang, tetapi juga sebagai pesan geopolitik kepada Uni Soviet bahwa AS memiliki kekuatan yang tak tertandingi.

Secara ironis, bom nuklir digunakan atas nama mempercepat perdamaian. Sebuah paradoks yang hingga kini masih menghantui hubungan internasional.

BACA JUGA :  3.960 Warga Jabar di Timur Tengah Dipantau, Pemprov Buka Hotline Darurat di Tengah Konflik Iran–Israel–AS

Logikanya sederhana tapi getir: untuk menghentikan perang, kehancuran harus dipercepat.

Dari sudut pandang strategis, keputusan itu dianggap “efektif”. Dari sudut pandang kemanusiaan, ia meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Dampak dari peristiwa tersebut tidak berhenti di 1945. Dunia memasuki era baru: perlombaan senjata nuklir. Ketegangan global sejak saat itu selalu dibayangi satu kemungkinan yang sama eskalasi menuju kehancuran massal.

Hingga kini, Amerika Serikat tidak pernah secara resmi meminta maaf atas penggunaan bom nuklir tersebut.

Dan setiap kali konflik global memanas, bayangan lama itu kembali muncul mengingatkan bahwa dalam sejarah, ketika kata-kata gagal, manusia pernah memilih tombol paling berbahaya.

Sebuah pelajaran mahal, yang sayangnya belum tentu benar-benar dipelajari.***