Scroll untuk baca artikel
Opini

Garis Perjuangan Muslim Indonesia

×

Garis Perjuangan Muslim Indonesia

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WAWAINEWS.ID – Perbincangan tentang arah perjuangan umat Islam di Indonesia kerap terbelah. Antara orientasi ke dalam negeri dan kepedulian terhadap isu global.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di satu sisi, ada dorongan solidaritas kuat terhadap sesama Muslim di berbagai belahan dunia. Di sisi lain, ada kebutuhan mendesak untuk membenahi rumah sendiri. Ialah memperkuat pendidikan, ekonomi, dan tata kelola bangsa.

Di antara dua arus ini, sesungguhnya terdapat satu garis perjuangan yang lebih utuh dan produktif.

Garis perjuangan umat Islam Indonesia seharusnya tidak berdiri di atas dikotomi “domestik versus global”. Melainkan pada prinsip penguatan internal sebagai fondasi kontribusi eksternal.

BACA JUGA :  Merdeka dari Apa?

Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, kekuatan sejati tidak lahir dari retorika solidaritas semata. Melainkan dari kapasitas nyata yang dibangun di dalam negeri.

Pilar pertama adalah pembangunan sumber daya manusia. Umat yang besar membutuhkan kualitas yang setara dengan besarnya jumlah.

Pendidikan unggul, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta etos kerja yang kuat menjadi syarat mutlak. Agar umat Islam tidak hanya menjadi objek. Akan tetapi juga subjek dalam peradaban global.

Pilar kedua adalah kemandirian ekonomi. Ketergantungan struktural akan melemahkan posisi strategis umat dalam jangka panjang.

BACA JUGA :  Sekolah Dasar di Tanggamus Krisis Ruang Belajar, Guru dan Siswa Bertahan di Tengah Keterbatasan

Karena itu, penguatan industri, inovasi digital, kewirausahaan, serta pengembangan ekonomi syariah harus menjadi agenda yang berkelanjutan. Kekuatan ekonomi adalah fondasi dari kedaulatan sosial dan politik.

Pilar ketiga adalah integritas dan tata kelola. Tanpa sistem yang bersih dan efektif, potensi sebesar apa pun akan terhambat. Maka, perjuangan melawan korupsi, penguatan institusi, dan pembangunan budaya hukum yang adil menjadi bagian dari ibadah sosial yang tak terpisahkan.

Dalam isu global, umat Islam Indonesia tetap memiliki tanggung jawab moral untuk peduli. Namun kepedulian itu harus diwujudkan secara konstruktif.

Melalui bantuan kemanusiaan, diplomasi damai, serta dukungan terhadap penyelesaian konflik yang berlandaskan hukum internasional. Bukan melalui eskalasi yang merusak stabilitas dalam negeri.

BACA JUGA :  Catatan Untuk Video Said Didu Yang Viral, Tanah Untuk Rakyat versus Tanah Untuk Cukong

Dengan pendekatan ini, solidaritas tidak kehilangan makna, tetapi juga tidak kehilangan arah. Justru dari kekuatan internal yang solid, kontribusi eksternal menjadi lebih berwibawa dan berdampak.

Pada akhirnya, garis perjuangan umat Islam Indonesia bukanlah garis konfrontasi. Melainkan garis pembangunan.

Bukan hanya tentang merespons dunia. Tetapi tentang membentuk kapasitas untuk memberi pengaruh pada dunia.

Dari titik ini, umat Islam Indonesia dapat memainkan peran strategisnya. Sebagai kekuatan moral, intelektual, dan peradaban dalam panggung global. ***