KOTA BEKASI — Alih-alih menuai pujian, pemasangan lampu penerangan jalan umum (PJU) di Jembatan Lengkung Kalimalang justru jadi bahan omongan panas warganet. Bukan karena cahayanya, tapi karena tampilannya yang disebut-sebut lebih mirip instalasi listrik rumah kontrakan ketimbang infrastruktur kota.
Sorotan itu mencuat setelah video dari akun Instagram myth.vlog viral di media sosial. Dalam tayangan tersebut, tampak sedikitnya enam titik lampu dengan kabel menjuntai yang dinilai semrawut. Narasi unggahan bahkan menyentil, “ini jembatan atau instalasi darurat?”
Tak berhenti di estetika, isu makin liar dengan munculnya klaim anggaran fantastis hingga Rp25 miliar yang dikaitkan dengan pemasangan lampu tersebut.
Namun, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi buru-buru meluruskan melalui Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dishub Kota Bekasi, Soenaryo Utomo, menegaskan bahwa pemasangan lampu itu bukan bagian dari proyek pembangunan jembatan, melainkan langkah cepat untuk mengatasi kondisi gelap yang dinilai membahayakan pengguna jalan.
“Dari awal jembatan memang belum ada penerangan. Kondisinya gelap, jadi kami pasang agar lebih aman,” ujar Soenaryo, dikonfirmasi awak media, Kamis (2/4/2026).
Dengan kata lain, jika pilihan hanya antara “estetika” atau “keselamatan”, Dishub memilih yang kedua meski konsekuensinya tampilan jadi kurang sedap dipandang.
Soenaryo tak menampik kritik soal tampilan. Ia mengakui bahwa desain lampu saat ini memang belum selaras dengan konsep arsitektur jembatan lengkung yang sejatinya bisa jadi ikon kota. Masalahnya sederhana dan cukup klasik: keterbatasan stok.
“Kami tidak punya tiang lampu dekoratif yang sesuai. Yang ada di gudang hanya tiang standar PJU, itu yang dipakai,” jelasnya mengatakan jadilah solusi “yang penting terang dulu, urusan cantik belakangan.”
Terkait angka Rp25 miliar yang ramai diperbincangkan, Dishub memastikan informasi tersebut tidak ada kaitannya dengan pemasangan lampu di lokasi itu.
Pekerjaan dilakukan secara swakelola, tanpa proyek pengadaan baru yang berarti jauh dari angka bombastis yang beredar di media sosial.
Fenomena ini memperlihatkan dua sisi wajah publik, satu menuntut keselamatan, satu lagi menuntut estetika. Dan di Bekasi, keduanya bertemu di satu titik di bawah lampu yang sedikit “apa adanya”.
Dishub pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah termakan informasi yang belum terverifikasi.
“Yang terpenting sekarang lampu berfungsi, jadi bisa mengurangi potensi kecelakaan,” tegas Soenaryo.***










