KOTA BEKASI — Polemik larangan penggunaan halaman kantor Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara, berujung pada pernyataan tak biasa dari lurah setempat. Ismail Marjuki menyatakan siap dicopot dari jabatannya menyusul gelombang protes warga.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum audiensi yang berlangsung panas di kantor kelurahan. Warga meluapkan kekecewaan atas kebijakan yang melarang penggunaan halaman kelurahan untuk hajatan, termasuk resepsi pernikahan.
Polemik bermula dari surat edaran yang membatasi penggunaan fasilitas kelurahan. Kebijakan ini cepat memicu reaksi, terutama dari warga yang tidak memiliki akses terhadap fasilitas sosial lain.
Bagi sebagian warga Teluk Pucung, halaman kantor kelurahan bukan sekadar ruang kosong, melainkan alternatif “balai warga” yang selama ini bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial.
Di tengah tekanan, Ismail akhirnya mencabut kebijakan tersebut dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Namun, langkah itu dinilai datang setelah kepercayaan warga terlanjur tergerus.
“Saya menyampaikan permohonan maaf, baik secara pribadi maupun kedinasan. Sesuai keinginan warga, surat tersebut saya cabut,” ujarnya.
Ia juga menegaskan kesiapannya menerima konsekuensi jabatan.
“Terkait jabatan, saya siap dipindahkan atau dicopot sesuai perintah pimpinan,” kata Ismail.
Ismail menyebut pencabutan kebijakan dilakukan agar pelayanan publik kembali kondusif. Ia juga merujuk pada aturan yang memungkinkan pemanfaatan fasilitas kelurahan oleh masyarakat, seperti Peraturan Wali Kota Bekasi Nomor 33 Tahun 2021.
Peristiwa ini menunjukkan jarak yang kerap muncul antara regulasi dan kebutuhan riil warga. Ketika aturan diterapkan tanpa ruang dialog, yang muncul bukan ketertiban melainkan resistensi.
Catatan redaksi, untuk kasus ini menjadi pengingat bahwa di level pelayanan publik paling dekat dengan warga, kebijakan bukan hanya soal benar atau salah secara administratif, tetapi juga soal rasa keadilan.
Sebab bagi warga, hajatan bukan sekadar acara melainkan momen sosial. Dan ketika ruangnya dipersempit, yang bereaksi bukan hanya logika, tapi juga perasaan.***













