Scroll untuk baca artikel
Ragam

Kilau Abad 19 di Tanah Suci: Manuskrip Al-Qur’an Langka Ini Bikin Mata Tak Berkedip

×

Kilau Abad 19 di Tanah Suci: Manuskrip Al-Qur’an Langka Ini Bikin Mata Tak Berkedip

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi manuskrip Al-Qur'an langka. Foto: King Abdulaziz Public Library

WawaiNEWS.ID – Di tengah denyut spiritual kota suci, sebuah artefak bersejarah kembali “berbicara” kepada zaman. Sebuah manuskrip Al-Qur’an langka dari abad ke-19 kini menjadi pusat perhatian dalam pameran di Museum Al-Qur’an. Bukan sekadar naskah tua, mushaf ini hadir sebagai saksi bisu kecintaan umat Islam terhadap kitab sucinya dengan cara yang tak hanya khusyuk, tetapi juga artistik.

Dilansir Saudi Press Agency melalui Arab News, manuskrip tersebut memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an tidak hanya dijaga melalui hafalan dan tulisan, tetapi juga melalui sentuhan seni tingkat tinggi yang memanjakan mata sekaligus menenangkan jiwa.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Begitu membuka halaman awal, pengunjung langsung disambut ornamen yang bukan main halusnya. Motif bunga berlapis emas, garis dekoratif yang presisi, hingga penyepuhan yang nyaris tanpa cela semuanya berpadu seperti simfoni visual.

BACA JUGA :  Lailatul Qadar: Malam Seribu Bulan yang Terus Datang atau Sekadar Peristiwa Sejarah?

Tak berlebihan jika dikatakan, mushaf ini lebih dari sekadar teks suci. Ia adalah karya seni.

Setiap detail menunjukkan bahwa para penyalin dan pengrajin masa itu tidak bekerja sekadar menulis, tetapi “beribadah lewat estetika”. Di tangan mereka, tinta bukan hanya alat, melainkan medium cinta.

Dan ya, kalau boleh sedikit bercanda profesional ini mungkin satu-satunya “buku” yang bikin orang lupa kedip karena terlalu indah.

Menariknya, manuskrip ini tidak dibiarkan dimakan usia. Ia telah melalui proses restorasi yang dilakukan secara hati-hati, memastikan setiap ornamen tetap utuh tanpa menghilangkan jejak sejarahnya.

BACA JUGA :  Tugas Manusia Menurut Al-Qur’an: Antara Ibadah, Amanah, dan Tanggung Jawab Peradaban

Kini, mushaf tersebut menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan Raja Abdulaziz, sebuah institusi yang dikenal konsisten menjaga warisan intelektual dan spiritual dunia Islam.

Keberadaannya di sana bukan sekadar penyimpanan, melainkan bentuk komitmen bahwa peradaban tidak boleh kehilangan ingatan.

Pameran ini bukan hanya ajang display benda kuno. Ia adalah ruang refleksi.

Di satu sisi, kita melihat keindahan fisik mushaf. Di sisi lain, kita diingatkan bahwa hubungan umat Islam dengan Al-Qur’an selalu melampaui teks menyentuh rasa, seni, bahkan identitas.

Di era digital yang serba cepat dan instan, manuskrip ini seolah berbisik pelan: bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan cinta, kesabaran, dan ketelitian akan selalu bertahan melampaui zaman.

BACA JUGA :  Nisfu Syaban 3 Februari 2026, Malam Penuh Ampunan dan Doa Mustajab

Kehadiran manuskrip abad ke-19 ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an tidak hanya hidup dalam hafalan para penghafal, tetapi juga dalam karya seni yang penuh dedikasi.

Ia adalah pengingat bahwa menjaga kitab suci bukan hanya soal membaca dan menghafal, tetapi juga merawat nilai, keindahan, dan penghormatan terhadapnya.

Karena pada akhirnya, di balik setiap goresan tinta emas itu, tersimpan satu pesan sederhana:
bahwa cinta kepada Al-Qur’an bisa diwujudkan dalam banyak cara dan semuanya, jika tulus, akan selalu bernilai ibadah.***