JAKARTA – Gelombang kecaman terus mengalir pasca tewasnya seorang pengemudi ojek online (ojol) yang ikut serta dalam aksi demonstrasi di Jakarta, Kamis (28/8). Korban disebut meregang nyawa setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) milik aparat kepolisian.
Aktivis 98 menilai insiden tersebut bukan sekadar tragedi, melainkan bukti nyata bahwa praktik kekerasan negara terhadap rakyat masih terus berlangsung.
“Nyawa yang melayang adalah tamparan keras bagi demokrasi. Aparat yang seharusnya menjaga keamanan justru berubah menjadi alat represi yang merampas hak rakyat,” tegas Aktivis 98 dalam pernyataannya.
Menurut mereka, gugurnya kawan ojol ini mencerminkan kegagalan negara dalam melindungi rakyat yang sedang menyampaikan aspirasi. Padahal, demonstrasi dijamin oleh konstitusi sebagai hak dasar warga negara.
“Demokrasi seharusnya memberi ruang kebebasan berpendapat dan jaminan keselamatan. Namun yang terjadi hari ini adalah sebaliknya: ketakutan, kekerasan, bahkan korban jiwa,” lanjut pernyataan itu.
Aktivis 98 juga menyatakan dukungan penuh terhadap mahasiswa dan rakyat yang turun ke jalan. Mereka menilai aksi tersebut adalah ekspresi murni keresahan terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil.
Dalam sikap resminya, Aktivis 98 menyampaikan enam poin utama:
- Turut berduka cita atas gugurnya kawan Ojol, yang mereka sebut sebagai pejuang demokrasi.
- Mendesak agar pelaku dari pihak aparat dijatuhi hukuman berat dan adil.
- Mengecam tindakan brutal aparat terhadap demonstran.
- Menuntut Presiden mencopot Kapolri dan Kapolda Metro Jaya karena gagal mengendalikan aparat.
- Menegaskan komitmen melawan segala bentuk intimidasi, pembungkaman, dan kekerasan negara.
- Menyindir elit politik yang dianggap pongah di tengah penderitaan rakyat.
“Kami tidak akan tinggal diam. Gugurnya kawan Ojol adalah panggilan moral untuk melawan praktik represif aparat. Darahnya menjadi api perjuangan demokrasi,” tegas Aktivis 98.
Pernyataan ini ditandatangani lebih dari 100 aktivis lintas daerah, mulai dari Jakarta, Bandung, Medan, Makassar, hingga Ambon. Nama-nama besar seperti Ubedillah Badrun, Ray Rangkuti, hingga Muradi juga ikut membubuhkan tanda tangan. ***