Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi
WawaiNEWS.ID – Sering kali agama dipersepsikan hanya berbicara tentang ritual: shalat, puasa, zikir, lalu selesai. Seolah-olah setelah salam terakhir, urusan dunia termasuk mencari nafkah diserahkan sepenuhnya kepada nasib dan doa.
Padahal, jika dibaca dengan jujur, Al-Qur’an justru memuat etos ekonomi yang kuat. Kitab suci ini tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tetapi juga mendorong manusia untuk bekerja, berdagang, dan membangun kemandirian ekonomi.
Dengan kata lain, iman iya, tapi rekening kosong bukan cita-cita.
Dalam perspektif Islam, manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi makhluk yang aktif mengelola kehidupan. Artinya, manusia tidak didesain untuk sekadar menjadi penonton sejarah, apalagi pengeluh profesional.
Salah satu ayat yang paling eksplisit soal etos kerja terdapat dalam Qur’an Surah Al-Jumu’ah 62:10. Setelah ibadah selesai, umat diperintahkan:
“Bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.”
Ayat ini sangat menarik. Pesannya sederhana tetapi revolusioner: habis ibadah, jangan cuma duduk keluar, bekerja, cari rezeki.
Dalam bahasa ekonomi modern, ini adalah legitimasi spiritual bagi aktivitas produktif.
Prinsip ekonomi lain yang sangat penting muncul dalam Qur’an Surah Al-Baqarah 2:275.
Ayat ini menegaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Pesan ekonominya sangat jelas:
- perdagangan adalah mekanisme sah untuk memperoleh kekayaan
- tetapi praktik eksploitasi finansial dilarang
Dengan kata lain, Islam tidak alergi terhadap bisnis. Yang ditolak adalah ketidakadilan dalam bisnis.
Pasar boleh ramai, keuntungan boleh besar asal tidak menindas pihak lain.
Etika Pasar: Jangan Curang di Timbangan
Spirit kewirausahaan dalam Islam tidak berhenti pada dorongan untuk berdagang. Ia juga menuntut etika pasar yang ketat.
Dalam Qur’an Surah Al-Mutaffifin 83:1–3, Al-Qur’an mengecam keras pedagang yang curang dalam timbangan.
Ayat ini bisa dianggap sebagai peringatan anti-korupsi versi pasar tradisional.
Karena dalam ekonomi apa pun dari pasar kurma hingga marketplace digital kepercayaan adalah mata uang paling mahal.
Jika timbangan dimanipulasi, label dipalsukan, atau janji bisnis dilanggar, maka runtuhlah fondasi ekonomi itu sendiri.
Rezeki Datang dari Usaha
Al-Qur’an juga menegaskan prinsip tanggung jawab individu dalam Qur’an Surah An-Najm 53:39:
“Manusia tidak memperoleh selain dari apa yang diusahakannya.”
Ayat ini sebenarnya cukup “tegas” bagi mereka yang berharap hidup berubah hanya dengan menunggu keajaiban.
Doa penting.
Tetapi usaha tetap wajib.
Dalam bahasa sehari-hari: rezeki tidak jatuh dari langit tanpa kerja keras kecuali mungkin hujan.
Spirit kewirausahaan ini bukan teori kosong.
Muhammad sendiri dikenal sebagai pedagang sebelum masa kenabian. Integritasnya dalam bisnis membuatnya mendapat gelar Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.
Banyak sahabat juga merupakan pengusaha sukses. Salah satu contoh terkenal adalah Abdurrahman ibn Awf.
Ia membangun kekayaan melalui perdagangan, tetapi tetap dikenal karena kedermawanannya. Kekayaan baginya bukan sekadar akumulasi aset, melainkan alat untuk kemaslahatan sosial.
Pada masa klasik, jaringan perdagangan Muslim membentang dari Afrika Timur hingga Asia Tenggara.
Kota-kota seperti Baghdad dan Cairo berkembang menjadi pusat perdagangan internasional.
Para pedagang Muslim terhubung melalui jalur legendaris seperti Silk Road.
Saat itu, dunia Islam bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga motor ekonomi global.
Singkatnya: umat Islam dulu bukan cuma rajin ibadah, tapi juga jago berdagang.
Namun dalam beberapa abad terakhir, dinamika ini mengalami kemerosotan.
Sejumlah faktor berperan:
- kolonialisme
- perubahan jalur perdagangan global
- dominasi negara dalam ekonomi
Akibatnya, kelas pedagang dan inovator bisnis di banyak negara Muslim melemah.
Ironisnya, ketika ekonomi dunia bergerak cepat dengan inovasi dan teknologi, sebagian masyarakat Muslim justru lebih sibuk memperdebatkan hal-hal kecil dari panjang celana sampai jenis kopi yang paling “syar’i”.
Meski demikian, tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat.
Generasi baru wirausaha Muslim kini muncul melalui:
- teknologi digital
- ekonomi kreatif
- keuangan syariah
Kota-kota seperti Dubai dan Jakarta mulai membangun ekosistem bisnis modern yang memadukan inovasi dan nilai etika.
Startup, e-commerce, hingga fintech syariah berkembang pesat.
Jika dulu pedagang Muslim menjelajah laut dan gurun, kini generasi baru menjelajah internet dan algoritma.
Membaca Al-Qur’an dengan Perspektif Produktif
Karena itu, membaca kembali Al-Qur’an dari perspektif kewirausahaan bukan sekadar romantisme sejarah.
Ia adalah upaya menghidupkan kembali etos produktif dalam tradisi Islam.
Etos itu sederhana tetapi kuat:
- bekerja keras
- berdagang secara adil
- menjaga integritas
- dan menggunakan kekayaan untuk kemaslahatan bersama
Jika nilai-nilai ini benar-benar dihidupkan kembali, maka umat tidak hanya dikenal sebagai komunitas yang rajin beribadah.
Tetapi juga sebagai komunitas yang produktif, kreatif, dan berdaya secara ekonomi.
Dan mungkin saat itu kita tidak perlu lagi bertanya:
“Kenapa umat Islam dulu jago berdagang?”
Karena jawabannya sudah jelas sejak awal.
Al-Qur’an memang tidak hanya mengajarkan cara berdoa tetapi juga cara bekerja.***










