Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

Ambar dan Luka Impunitas: Kisah Jurnalis yang Melawan Diam

×

Ambar dan Luka Impunitas: Kisah Jurnalis yang Melawan Diam

Sebarkan artikel ini
Ambarita wartawan di Bekasi dan laporan ke Polda Metroj Jaya

Sabar. Kata yang terlalu sering digunakan aparat untuk menggantikan kata keadilan.

Lucunya atau mungkin tragisnya negeri ini tak pernah kehabisan jargon. “Pers adalah pilar keempat demokrasi.” “Jurnalis harus dilindungi.” “Negara menjamin kebebasan berpendapat.”

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Semua terdengar indah, tapi pada akhirnya, pilar itu tetap bisa dipukul, diseret, bahkan diancam, tanpa ada yang benar-benar menjaga.

BACA JUGA :  SMAN 1 Semaka Terapkan “Aturan Darurat Anti-Jurnalis”: Tiga Wartawan Ditahan di Gerbang, Proyek Rp1,176 Miliar Kian Misterius

Sementara itu, sebagian pejabat masih sibuk menggelar jumpa pers dengan spanduk besar bertuliskan “Dukung Kebebasan Pers”. Ironi yang nyaris menyaingi satire-satire terbaik George Orwell hanya saja, ini bukan fiksi.

Keadilan yang Masih Ditunggu

Kasus Diori Parulian Ambarita adalah potret mikro dari persoalan makro: negara yang lamban merespons kekerasan terhadap jurnalis, dan aparat yang terlalu pelan dalam menegakkan hukum.

Dan setiap kali keadilan tertunda, publik kehilangan sedikit lagi kepercayaannya. Sementara para jurnalis di lapangan terus menulis, terus meliput dengan helm lusuh, kartu pers yang mulai robek, dan semangat yang (untungnya) belum habis.

BACA JUGA :  Prilaku Bar-bar Kakon Way Nipah di Tanggamus Resmi Dilaporkan ke Polisi

Karena bagi mereka, diam adalah kemewahan yang tak bisa dibeli. Kebenaran mungkin tak selalu aman, tapi harus tetap disuarakan.

Hari ini, Diori Parulian Ambarita masih bekerja. Tubuhnya mungkin memar, tapi idealismenya tetap utuh.
Ia menulis, bukan untuk mengasihani diri, tapi untuk mengingatkan bahwa profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan melainkan perlawanan terhadap lupa.

BACA JUGA :  Dalami Kasus Korupsi Alat Olahraga, 25 Orang Diperiksa Kejari Kota Bekasi

Di negeri di mana keadilan sering datang dengan jalan memutar, kisah Ambar menjadi pengingat sederhana: kebebasan pers tidak akan pernah tumbuh di tanah yang membiarkan kekerasan berakar.

Dan selama pelaku masih bebas, impunitas tetap hidup bahkan lebih hidup daripada undang-undang itu sendiri.****