Politik uang, bagi-bagi kekuasaan dan merampok keuangan negara dengan cara konstitusional, tak boleh ada tempat lagi dalam pesta demokrasi.
Kalau Ingin mendapatkan pemerintahan yang “clear and clean” serta negara yang merdeka dan bermartabat sesungguhnya, maka keinginan itu menjadi disadari sebagai sesuatu yang “to be or not to be”.
Baca juga: Bunuh Saja Lalu Minta Maaf
Dalam demokrasi, rakyat harus berani mengambil sikap memilih kepentingan pragmatis sesaat atau kesinambungan dan masa depan Indonesia sebagaimana negara ini awalnya didirikan.
Membangun Demokrasi Sehat
Keberanian sekaligus kejelian partai Nasdem mengambil momentum dari situasi politik nasional, saat mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai capresnya dalam pilpres 2024. Bisa dibilang sebagai bentuk kepeloporan dan titik awal pembangunan demokrasi yang sehat dan berkeadaban.
Sebagai salah satu bagian dari koalisi pemerintahan dan berada dalam lingkar kekuasaan, manuver Nasdem menggandeng Anies tak lepas dari kontroversi dan polemik.
Baca juga: Kebangkitan Kembali PKI
Di satu sisi dapat dianggap sebagai penghianatan oleh kalangan rezim, namun di sisi lain diapresiasi sebagai proses kematangan politik dan jiwa besar Nasdem.
Dengan segala resikonya, Nasdem mampu keluar dari kemelut konflik kesadaran ideal spiritualnya dengan kesadaran rasional materialnya. Nasdem berhasil mengambil pilihat sulit antara tetap menjadi ‘insider” dengan kue kekuasaan dan segala fasilitasnya, atau mengedepankan moralitas dan etika politik yang cerdas, visioner dan bermartabat.







