Scroll untuk baca artikel
Opini

Anies itu Fakta, Bukan Citra

×

Anies itu Fakta, Bukan Citra

Sebarkan artikel ini
Yusuf Blegur
Yusuf Blegur

Kenapa upaya membegal Anies dengan pelbagai cara keji dan berbiaya mahal itu tak kunjung berhasil. Jawabannya sederhana, selain didukung rakyat, Anies selalu tampil apa adanya. Dengan kesederhanaan, ketulusan dan kejujuran dalam bertugas mengemban amanat rakyat.

Tentu saja dengan kerja keras dan kerja cerdas, yang dibekali qua intelektual dan qua ideologi. Sikap rendah hati, terbuka dan egaliter juga menjadi penguat behavior cerdas dan santun yang dimiliki Anies.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Baca juga: Anies dan Demokrasi Bau Amis

Kenyataan-kenyataan itu yang tak terbantahkan dan tak bisa dimanipulasi, oleh anasir kekuatan apapun yang tak ingin perubahan Indonesia yang lebih baik dibawah kepemimpinan Anies.

Dengan tidak mengecilkan dan “under estimate”, kebanyakan sosok pemimpin lain yang ikut memeriahkan kontestasi capres. Memang tak bisa ditutup-tutupi dan tidak bisa disembunyikan, para politisi dan pejabat kompetitor Anies, kebanyakan sudah tersandera bahkan hampir semuanya terbelenggu dalam dosa politik dan catatan hitam sejarah.

BACA JUGA :  Presiden Prabowo dan Para Mantan Menlu

Ada yang terlibat skandal korupsi E-KTP, kasus Semen Mendem, tragedi Wadas hingga kejahatan terhadap perusakan lingkungan dan komunitas. Mirisnya lagi, capres-capres mentereng dan penuh gaya itu, juga sering terlibat dalam pembajakan kostitusi, hingga berhubungan gelap dengan korporasi hitam dan mafia, serta pelbagai kejahatan kemanusiaan lainnya.

Baca juga: Magis Anies

Betapapun populer dan eksentriknya bertingkah, capres-capres yang sangat bergantung pada oligarki itu, sudah menjadi kartu mati di mata rakyat. Betapapun uang berlimpah dan fasilitas menggiurkan miliknya berupaya membeli demokrasi.

BACA JUGA :  Polemik Nasab Harus Berhenti Melalui Adu Bukti

Mengapa hal itu terjadi dan mengemuka menelanjangi pemimpin yang cenderung disebut boneka atau wayang kekuasaan. Penilaiannya juga tidak terlalu rumit, mereka itu pemimpin palsu, pemimpin yang lahir dari demokrasi kapitalistik dan transaksional.