Scroll untuk baca artikel
Internasional

ARMADA RAKSASA MENUJU TIMUR TENGAH! Trump “Pertimbangkan” Serangan, USS Gerald R. Ford Merapat ke Mediterania

×

ARMADA RAKSASA MENUJU TIMUR TENGAH! Trump “Pertimbangkan” Serangan, USS Gerald R. Ford Merapat ke Mediterania

Sebarkan artikel ini
Kapal Induk Amerika Serikat USS Gerald Ford merupakan kapal perang terbesar di dunia. (Foto: Getty Images/Finnbarr Webster)

WawaiNEWS.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dan kali ini, ukurannya benar-benar raksasa. Kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, terlihat memasuki Laut Mediterania pada Jumat (20/2) waktu setempat, setelah melintasi Selat Gibraltar jalur sempit strategis yang menghubungkan Samudra Atlantik dengan Mediterania.

Foto-foto dari sisi Gibraltar menangkap momen ketika kapal bertenaga nuklir itu melintas dengan tenang, namun membawa pesan yang tidak bisa dibilang kalem.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kehadiran USS Gerald R. Ford bukan sekadar patroli rutin. Kapal induk kelas supercarrier ini diperintahkan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump, untuk bergerak ke Timur Tengah sebagai bagian dari peningkatan kekuatan militer besar-besaran di tengah eskalasi dengan Teheran.

BACA JUGA :  Trump Adu Mulut dengan Presiden Ukraina, Berujung Pengusiran Zelensky dari Gedung Putih

Setibanya di kawasan, USS Gerald R. Ford akan bergabung dengan kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal pengiringnya yang lebih dulu berada di Timur Tengah. Dengan dua kapal induk aktif di satu kawasan, Washington tampaknya ingin memastikan bahwa pesannya tidak sekadar diplomatis tetapi juga dek bersenjata lengkap.

Secara militer, pengerahan dua carrier strike group sekaligus merupakan sinyal keras. Secara politik, ini adalah “diplomasi dek penerbangan”: negosiasi di meja perundingan, dengan jet tempur terparkir rapi di belakang layar.

Dalam pernyataan kepada wartawan pada Jumat (20/2), Trump mengatakan dirinya “mempertimbangkan” serangan terbatas terhadap Iran apabila negosiasi gagal.

“Yang paling bisa saya katakan saya sedang mempertimbangkannya,” ujar Trump, dengan gaya khasnya yang menggantung sekaligus mengancam.

BACA JUGA :  Gagal Lakukan PJJ, Menteri Pendidikan Korut Dihukum Mati

Sehari sebelumnya, ia telah memperingatkan bahwa “hal-hal buruk” akan terjadi jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dalam 10 hari tenggat yang kemudian ia perpanjang menjadi 15 hari.

Dalam dunia diplomasi, tenggat waktu bisa fleksibel. Dalam dunia militer, kapal induk tidak berlayar untuk sekadar wisata.

Di sisi lain, Teheran mencoba menjaga jalur diplomasi tetap terbuka. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa draf proposal kesepakatan dengan Washington akan siap dalam dua hingga tiga hari, menyusul negosiasi di Jenewa awal pekan ini.

Menurut Araghchi, dokumen tersebut akan menjadi “langkah selanjutnya” dalam proses diplomatik dan akan diserahkan kepada negosiator utama AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, setelah mendapat konfirmasi akhir dari otoritas tertinggi Iran.

BACA JUGA :  Lima Jurnalis Al Jazeera Tewas Digempur Israel: Dari “Target Teroris” Versi IDF hingga Upaya Bungkam Suara Gaza

Dengan kata lain: pena masih bekerja, sementara kapal induk sudah berlayar.

Situasi ini menempatkan kedua negara dalam dinamika klasik: negosiasi di satu sisi, proyeksi kekuatan di sisi lain. Washington ingin menunjukkan keseriusan. Teheran ingin menunjukkan kesiapan berdialog. Dunia internasional, sementara itu, menahan napas dan memeriksa harga minyak.

Apakah ini akan berujung pada kesepakatan baru atau justru babak baru ketegangan militer? Untuk saat ini, yang pasti adalah satu hal: ketika kapal induk terbesar di dunia memasuki kawasan yang sudah sensitif, pesan yang dibawa tidak pernah sekadar simbolis.

Dan di Mediterania, simbol itu kini mengapung dengan panjang lebih dari 330 meter.***