Scroll untuk baca artikel
Opini

Beda Lebaran Bukan Perpecahan Masalahnya Bukan di Tanggal, Tapi Cara Berpikir

×

Beda Lebaran Bukan Perpecahan Masalahnya Bukan di Tanggal, Tapi Cara Berpikir

Sebarkan artikel ini
ilustrasi salat

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Setiap tahun, kaset lama kembali diputar: umat Islam dianggap tidak kompak hanya karena Idulfitri jatuh di hari yang berbeda. Narasinya sederhana, bahkan terdengar logis di permukaan—kalau tidak seragam, berarti terpecah.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Masalahnya, logika itu terlalu dangkal untuk menjelaskan persoalan yang justru lahir dari kedalaman tradisi intelektual Islam: ijtihad.

Penentuan awal dan akhir Ramadan memang berangkat dari sumber yang sama hadis Nabi tentang berpuasa dan berbuka karena “melihat hilal”. Tetapi persoalan tidak berhenti di teks. Justru di situlah perdebatan dimulai.

Apa arti “melihat”?

Sebagian ulama memahaminya secara literal: hilal harus terlihat secara fisik. Jika tidak tampak, bulan disempurnakan 30 hari. Ini pendekatan kehati-hatian, menjaga teks tetap pada bentuk aslinya.

BACA JUGA :  Apakah Selamanya Harus Diam dan Pasrah Menerima Keadaan?

Sebagian lain memaknainya lebih substantif: “melihat” adalah mengetahui dengan pasti. Dalam konteks hari ini, ilmu astronomi mampu memastikan posisi hilal secara presisi, bahkan jauh sebelum malam penentuan tiba. Maka, kepastian ilmiah dianggap cukup.

Di titik ini, perbedaan tak terhindarkan. Bukan karena satu pihak lebih benar dan yang lain keliru, tetapi karena metode memahami teks memang berbeda.

Dan di sinilah kekeliruan publik sering terjadi.

Pertanyaan seperti, “Kalender saja bisa pasti ratusan tahun, kenapa Lebaran tidak?” terdengar cerdas padahal meleset. Ia mengira persoalan ini murni teknis, padahal juga normatif. Ada dimensi tafsir yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kalkulator dan teleskop.

Lebaran bukan sekadar tanggal. Ia adalah keputusan syar’i.

Selama makna “melihat” masih dipahami dengan pendekatan berbeda, maka hasil yang berbeda adalah konsekuensi logis bukan kegagalan kolektif.

BACA JUGA :  Didit, Stabilizer dan Penjaga Tahta ?

Memaksakan satu pendekatan atas yang lain justru berbahaya. Itu bukan menyatukan, tapi meniadakan. Bukan menyelesaikan, tapi menyederhanakan secara keliru.

Dalam tradisi Islam, ijtihad bukan ruang liar tanpa aturan. Ia justru ruang paling bertanggung jawab dalam menggunakan akal untuk memahami wahyu. Bahkan dalam hadis sahih disebutkan: yang berijtihad dan benar mendapat dua pahala, yang keliru pun tetap mendapat satu pahala.

Artinya, perbedaan bukan cacat. Ia diakui, bahkan dihargai.

Yang perlu diluruskan: perbedaan tidak identik dengan perpecahan.

Perpecahan terjadi ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan saling menyalahkan, merendahkan, dan menghapus legitimasi pihak lain. Sementara perbedaan Lebaran lahir dari kesungguhan memahami dalil, bukan dari ambisi untuk berseberangan.

Ironisnya, yang sering memperuncing justru bukan para ulama, tapi penonton di pinggir lapangan yang lebih sibuk berdebat daripada memahami.

BACA JUGA :  Makna “Atas Berkat Rahmat Allah”

Di titik ini, kita perlu jujur: problemnya bukan pada perbedaan metode, tapi pada ketidakmampuan menerima perbedaan itu sendiri.

Islam sejak awal tidak dibangun di atas keseragaman mutlak, melainkan pada kesatuan tujuan. Arah ibadahnya sama, meski jalur penetapannya berbeda.

Karena itu, melihat beda Lebaran sebagai tanda perpecahan adalah kesimpulan tergesa-gesa dan, mungkin, malas berpikir.

Persatuan tidak selalu berarti seragam. Dalam banyak hal, justru ia diuji saat perbedaan hadir: apakah kita tetap saling menghormati, atau justru saling menegasikan?

Pada akhirnya, yang berbeda hanya cara “melihat”. Bukan Tuhan yang disembah, bukan kiblat yang dituju, dan bukan makna Idulfitri itu sendiri.

Jadi, jika setiap tahun kita masih ribut soal tanggal, mungkin yang perlu disamakan bukan harinya melainkan kedewasaan cara berpikirnya.***