WawaiNEWS.ID – Nama KH Shalahuddin A Warits mendadak mencuri perhatian publik. Bukan karena kontroversi, melainkan kabar bahagia, ia resmi menikahi Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, dalam sebuah prosesi sederhana namun sarat makna di Sumenep, Madura, Minggu (5/4/2026).
Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga simbol bertemunya dua arus besar tradisi keilmuan Islam di Indonesia, pesantren Madura yang kental dengan kultur “sarungan”, dan keluarga intelektual Ciganjur yang dikenal progresif.
Lahir di Sumenep pada 16 April 1982, Lora Mamak tumbuh dalam rahim tradisi pesantren yang kuat. Ia merupakan putra dari ulama kharismatik Madura, KH Warits Ilyas, sekaligus bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Annuqayah, salah satu pesantren tertua dan berpengaruh di Madura yang berdiri sejak 1887.
Di lingkungan inilah, Lora Mamak ditempa sejak dini bukan hanya memahami kitab kuning, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai kemandirian dan keberpihakan pada masyarakat kecil.
Kini, ia dipercaya sebagai pengasuh sekaligus pelindung di Annuqayah Lubangsa, menjadikannya salah satu figur sentral generasi baru ulama pesantren.
Namun, jangan bayangkan sosoknya kaku seperti kitab klasik. Lora Mamak justru dikenal lentur menggabungkan tradisi dengan isu-isu kontemporer, termasuk lingkungan hidup.
Ia memperkenalkan gagasan “fikih lingkungan”, sebuah pendekatan yang menempatkan kerusakan alam sebagai bentuk kemungkaran yang harus dilawan. Dalam ceramahnya, menjaga bumi bukan sekadar pilihan, tapi kewajiban moral dan spiritual.
Singkatnya, bagi Lora Mamak, merawat alam itu bukan tren tapi ibadah.
Perjalanan intelektualnya tidak berhenti di Madura. Setelah menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Annuqayah, ia melanjutkan studi ke Jombang, lalu terbang ke Mesir untuk belajar di Universitas Al-Azhar salah satu pusat keilmuan Islam dunia.
Sekembalinya ke Indonesia, ia memperluas perspektif akademiknya di sejumlah kampus ternama seperti UIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Indonesia, hingga Universitas Gadjah Mada.
Perpaduan antara tradisi pesantren dan pendidikan modern inilah yang membentuk karakter pemikirannya: membumi, tapi tetap visioner.
Sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama, Lora Mamak aktif di tingkat cabang Sumenep. Ia tidak hanya berkutat di ruang pengajian, tetapi juga turun ke ranah sosial.
Namanya bahkan sempat masuk bursa calon Bupati Sumenep pada Pilkada 2020 meski akhirnya tidak melaju hingga tahap akhir. Bagi Lora Mamak, politik bukan sekadar kekuasaan, melainkan salah satu jalan pengabdian.
Pernikahannya dengan Ning Inayah menjadi magnet perhatian publik. Selain karena latar belakang keluarga besar Gus Dur, juga karena kesederhanaan prosesi yang jauh dari kesan glamor.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba “viral”, pernikahan ini justru terasa “adem”: tanpa panggung megah, tanpa sensasi berlebihan cukup dua keluarga besar dan doa.
Namun justru di situlah daya tariknya. Seperti kopi Madura: tidak banyak gaya, tapi kuat rasanya.
Simbol Harapan Baru
Figur Lora Mamak merepresentasikan wajah baru ulama Indonesia yang tidak hanya fasih dalam teks, tetapi juga peka terhadap konteks.
Ia berdiri di antara dua dunia: tradisi dan modernitas, agama dan realitas sosial. Dan kini, dengan bergabungnya ia ke keluarga Gus Dur, publik tentu menaruh harapan lebih besar.
Bukan sekadar sebagai menantu tokoh besar, tapi sebagai penerus nilai-nilai keislaman yang ramah, inklusif, dan membumi.
Karena pada akhirnya, di tengah dunia yang semakin bising, sosok seperti Lora Mamak mengingatkan satu hal sederhana: bahwa ilmu, cinta, dan pengabdian jika berjalan bersama akan selalu menemukan jalannya.***







