WAWAINEWS – Diam-diam ataupun secara terang-terangan, dalam hampir satu dekade ini, kita hidup dalam situasi terbelah.
Konsep dasar yang menjelaskan soal itu sudah lama tersedia, yakni ‘split society‘ atau ‘devided society‘. Apakah masyarakat terbelah baru kali ini terjadi pada bangsa kita? Jawabannya tidak.
Pada setiap musim pemilu pasti terjadi ‘split‘ atau ‘devided society‘. Masyarakat pasti mengalami apa yang disebut sebagai proses fortifikasi. Masing-masing memiliki preferensinya sendiri-sendiri, dan membentuk kubunya masing-masing.
Kalau begitu, apanya yang aneh pada kurun Pemilu dan pascapemilu dua kali terakhir ini? Yang aneh adalah bahwa situasi terbelah itu terus menerus hidup dan berkembang, tidak ada matinya.
Pada masa sebelum ini, selepas Pemilu, situasi ‘split‘ atau ‘devided‘ itu akan segera kembali reuni. Sekarang, reuni itu tidak terjadi. Ini dahsyat.
Coba kita bayangkan, ‘split’ atau ‘devided society’ itu berkembang tanpa kendali. Tidak ada upaya utk reuni.
Bahkan kesannya terbiar begitu saja. Sebagian bahkan terkesan dipelihara dan dihidup-hidupkan. Dahsyat bukan?
Kita semua kan tahu bahwa kita punya Pancasila. Jika ada masalah dengan bangsa ini kita sepakat untuk kembali kepada Pancasila.
Reuni kita di Pancasila itu. Pancasila adalah titik kumpul kita. Titik kesetiaan kita kepada negara ini. Titik di mana kesetiaan silang menyilang menggiring kita ke rumah balai bangsa yang kita sebut Indonesia ini.
Dulu, kalau kita sebut Nusantara, kita semua bangga dan terharu. Kita sebut Islam, kita semua bangga dan terharu, kita sebut merdeka, kita semua bangga dan terharu. Kita sebut dan lantunkan adzan, kita semua bangga dan terharu.
Sekarang, kalau kita sebut Nusantara, jangan harapkan semua kita kagum dan terharu pada kebesarannya. Sebagian besar bangsa ini telah merasa ada sesuatu yang aneh pada kata nusantara. Sesuatu yang aneh pada kata merdeka. Jangan-jangan ini komunis. Ada alergia termasuk pada kata nasionalisme, terlebih tentu saja pada kata sosialisme. Padahal ini semua inti dan unsur dari Pancasila.
Sekarang dikhawatirkan telah muncul alergia pada sebutan Pancasila. Sejak sebagian mengklaim ‘Kita Pancasila’, sebagian yang lain merasa mereka tertuduh sebagai ‘Bukan Pancasila’.
Pancasila juga dibenturkan dengan Islam. Islam dapat dikonsepkan sebagai musuh Pancasila. Islam diaksentuasi dan ‘dikerdilkan’ sebagai khilafah.
Semua fenomena ini sebenarnya tanda bahaya dari suatu negara. Tidakkah kita tahu bahwa ada konsep ‘Kultur Melawan’ atau ‘Counter Culture’ di dalam masyarakat. Seekor hewan yg lemah sekalipun jika disudutkan, pasti akan melawan.
Apakah ia akan menggigit, menerkam, atau menyemburkan bisanya, adalah mekanisme yang super biasa, sangat natural.
Jadi, apa dong solusinya?
Kenegarawanan jawabnya. Setiap kepala negara setelah Pemilu harus melakukan reuni. Orang menyebutnya rekonsiliasi.
Apakah ada usaha ini? Hampir tidak ada. Apa sebabnya? Kenegarawanan hampir tidak ada. Less statemanship.
Bagaimana jika negara tanpa kenegarawanan? Jawabannya adalah ia bukanlah negara lagi!
(Bustami Rahman)