KOTA BEKASI — Reses pertama tahun 2026 Anggota DPRD Kota Bekasi dari PDI Perjuangan, Anim Imanuddin, di RW 10 Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Senin (16/2) malam, berlangsung meriah. Ratusan warga tumpah ruah menghadiri agenda serap aspirasi tersebut sebagian ingin menyampaikan usulan, sebagian lagi tak menampik tergoda doorprize yang dibagikan.
Namun di balik suasana hangat dan penuh canda, isu yang mencuat tetap serius, infrastruktur kampung yang selama ini menjadi keluhan klasik warga.
Anim yang telah empat periode duduk di kursi DPRD Kota Bekasi itu disambut antusias. Warga mengapresiasi sejumlah pembangunan jalan yang dinilai kini jauh lebih layak.
“Dulu kalau lewat Jalan Jatisari itu pasti kebangun. Jeglokannya bikin seperti naik kuda. Sekarang bisa pulas,” ujar Anim, menggambarkan kondisi jalan sebelum diperbaiki.
Perumpamaan itu mengundang tawa warga. Namun pesan yang disampaikan jelas, perbaikan infrastruktur berdampak langsung pada kenyamanan dan aktivitas masyarakat.
Menurutnya, aspirasi soal peningkatan jalan, drainase, hingga penanganan banjir masih mendominasi setiap kali reses digelar di wilayah perkampungan.
“Kalau di perumahan aspirasinya variatif, soal fasos fasum, pendidikan, kesehatan. Tapi kalau di kampung, hampir pasti soal infrastruktur jalan, drainase, banjir,” tegas mantan Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi periode 2019–2024 itu.
Anim juga sebagai tokoh masyarakat Kampung Kranggan ini, mengakui pembangunan fisik masih menjadi kebutuhan mendesak di banyak kampung. Ketika jalan rusak, dampaknya bukan hanya pada kendaraan, tetapi juga ekonomi warga.
Namun, ia juga menyoroti mulai munculnya aspirasi di sektor ekonomi kerakyatan. Di RW 10, misalnya, warga mengusulkan penguatan bank sampah dan dukungan usaha produktif seperti ternak ayam serta budidaya ikan.
“Ke depan akan kita fasilitasi. Kalau ada bantuan ayam atau bibit ikan, bisa dibantu melalui aspirasi dewan,” ujarnya.
Langkah itu dinilai penting agar pembangunan tidak melulu soal beton dan aspal, tetapi juga menyentuh penguatan ekonomi keluarga.
Melalui perwakilan warga, sejumlah harapan juga disampaikan terkait optimalisasi layanan pendidikan dan kesehatan, termasuk peningkatan fungsi puskesmas serta penyediaan fasos-fasum.
Anim menilai kebutuhan setiap wilayah memang berbeda. Kompleks perumahan umumnya menuntut peningkatan kualitas layanan dan fasilitas publik. Sementara kampung-kampung masih berjibaku dengan persoalan dasar infrastruktur.
Itu lah dinamikanya lanjut Anim, satu sisi warga perumahan membahas taman tematik dan ruang terbuka hijau, sementara di sisi lain warga kampung masih berharap jalan tak lagi bikin shockbreaker pensiun dini.
Doorprize memang menyemarakkan suasana, tetapi substansi reses tetap pada penyerapan aspirasi warga. Anim menegaskan komitmennya untuk mengawal usulan yang masuk agar bisa direalisasikan melalui mekanisme anggaran.
“Reses bukan sekadar kumpul-kumpul. Ini forum resmi untuk menyerap dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat,” tandasnya.
Di tengah dinamika pembangunan Kota Bekasi, potret RW 10 Jatisari menjadi cermin bahwa persoalan klasik belum sepenuhnya usai. Namun setidaknya, bagi warga setempat, jalan yang dulu terasa seperti arena berkuda kini sudah cukup mulus untuk membuat tidur lebih nyenyak.***













