LAMPUNG TIMUR — Euforia kemenangan Kontes Dangdut Indonesia 2026 belum juga reda, tapi kejutan demi kejutan terus menghampiri Intan Putri Lestari. Gadis sederhana asal Desa Donomulyo, Kecamatan Bumi Agung ini mendadak “naik kelas” bukan hanya di panggung dangdut, tapi juga di halaman rumahnya.
Kamis siang (19/3/2026), sebuah mobil putih mulus tiba-tiba “mendarat” di depan rumah Intan. Bukan kredit, bukan arisan, bukan pula undian berhadiah melainkan hadiah langsung dari bos perusahaan rokok HS, Muhammad Suryo.
Yang bikin cerita ini makin “drama tapi nyata”, perintah pengiriman mobil itu ternyata datang dari ruang perawatan rumah sakit.
“Jam 12 malam beliau telepon. Saya kira urusan bisnis, ternyata Pak Suryo habis nonton berita Intan juara KDI. Langsung bilang, kasih hadiah mobil!” ungkap Danang Setia, masih dengan nada setengah tak percaya.
Kalau biasanya orang sakit butuh hiburan, Pak Suryo justru bikin hiburan baru: bikin satu kampung heboh.
Sebagai sesama putra daerah Lampung Timur, Suryo rupanya tersentuh. Apalagi sebelumnya ia juga dikenal aktif menggelar kegiatan besar mulai dari konser Slank di Bandar Lampung hingga pembangunan masjid di kampung halamannya. Jadi, memberi mobil? Sepertinya bagi beliau: “ya sekalian saja.”
Sementara itu, Intan yang mungkin sebelumnya hanya sibuk mikirin nada tinggi, kini harus mulai mikirin kunci kontak.
“Terima kasih atas perhatian luar biasa ini. Semoga jadi berkah, dan semoga Bapak Haji Muhammad Suryo segera sembuh,” ucap Intan, tulus.
Dari sisi cerita hidup, Intan bukan sekadar juara ajang dangdut. Ia adalah potret klasik “from zero to hero versi kampung.” Lahir 6 Agustus 2008, anak dari ibu penjual sayur keliling, Intan tumbuh dengan mimpi besar di tengah keterbatasan.
Dangdut bukan sekadar hobi, tapi jalan hidup. Ia mengasah kemampuan secara mandiri tanpa panggung megah, tanpa pelatih mahal. Yang ada hanya tekad, suara, dan mungkin sesekali latihan sambil dengar suara ayam tetangga.
Namun yang menarik, di tengah perjuangan musiknya, Intan tetap “waras” soal pendidikan. Alumni SMA Negeri 1 Sekampung ini dikenal langganan beasiswa sejak SD hingga SMA membuktikan bahwa goyang boleh, tapi otak tetap jalan.
Kemenangan di grand final KDI pada 12 Maret 2026 lalu kini seperti membuka “pintu rezeki berjamaah.” Dari panggung ke garasi, dari tepuk tangan ke kunci mobil.***








