Scroll untuk baca artikel
Opini

Dharma dan Karma Prabowo

×

Dharma dan Karma Prabowo

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Kenakan Tanjak Melayu Riau di Istana, Pacu Jalur Meriahkan HUT ke-80 RI
Presiden Prabowo mengenakan Tanjak Melayu Riau pada Peringatan HUT ke-80 RI. (Foto : Ist)

Oleh Yusuf Blegur

WAWAINEWS.ID – Dalam bahasa sederhana, kemenangan Prabowo Subianto sebagai presiden pada akhirnya seperti menutup lingkaran takdir yang berputar lama. Bila pada Pilpres 2014 dan 2019 kemenangan itu seolah “dicuri” oleh Joko Widodo, maka pada Pilpres 2024, Prabowo yang justru “mencuri” tahta dari Anies Baswedan.

Kehilangan sekaligus mengambil hak orang lain, seperti menghadirkan dharma dan karma politik Prabowo dalam satu garis lurus sejarahnya sendiri.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun kemenangan itu tak serta merta membersihkan bayang-bayang masa lalunya. Sosok Prabowo masih dibekap catatan hitam: tuduhan pelanggaran HAM, stigma kekerasan, serta keraguan publik atas nasionalisme dan patriotisme yang diembannya. Pilpres 2024 yang mengantarnya ke kursi RI-1 pun belum sepenuhnya diterima bulat oleh rakyat legalitas dan legitimasinya masih membelah opini publik.

Di sisi lain, Gibran Rakabuming Raka, wakil presiden yang mendampinginya, menjadi paradoks politik tersendiri. Ia adalah simbol dari kekuatan konspirasi Jokowi dan oligarki yang menuntun arah kekuasaan dari balik layar.

Penampilan publik Gibran yang sering menuai sorotan dari gaya komunikasi yang canggung, rendahnya dialektika politik, hingga simbol-simbol ketidakmatangan kepemimpinan telah menjadikannya titik lemah dalam tubuh pemerintahan Prabowo.

BACA JUGA :  Prabowo Tegaskan Tempo Sesingkat-singkatnya Indonesia Harus Mampu Swasembada Pangan

Ia ibarat duri halus dalam daging, yang tak kasat mata namun terus menimbulkan perih dan beban legitimasi.

Kekuasaan di Persimpangan Dharma dan Karma

Terlepas dari semua beban masa lalu, satu hal harus diakui: Prabowo kini adalah presiden—pengambil keputusan tertinggi, penentu arah nasib rakyat, dan penulis utama babak baru sejarah Indonesia. Kekuasaan nyaris tak terbatas kini berada di tangannya.

Di sinilah letak ujian sesungguhnya: apakah ia akan menjadi pemimpin yang menunaikan dharmanya pada rakyat, atau justru terjebak dalam karma kekuasaan yang ia bangun sendiri.

Sebab, di balik sosok keras dan temperamentalnya, Prabowo juga memiliki sisi humanis yang jarang terekspos. Banyak kisah lama di dunia militer menyebutkan, ia dikenal peduli terhadap anak buah dan masyarakat sipil di sekitarnya.

Solidaritas dan rasa empatinya terhadap penderitaan orang lain, sebenarnya bukan hal asing baginya. Mungkin, inilah sisi manusiawi yang masih tersisa di antara kerasnya watak politik dan militer yang menempanya.

Namun kini Prabowo sedang berdiri di antara dua kutub ekstrem: mengabdi pada rakyat atau tunduk pada oligarki. Menjadi pelindung bangsa atau sekadar pelaksana kehendak para pemilik modal yang menopang kekuasaannya. Ia sedang diuji bukan hanya oleh oposisi atau publik, tapi oleh dirinya sendiri.

BACA JUGA :  Perlawanan Balik Koruptor dan Mafia

Dilema Kekuasaan: Bara dalam Genggaman

Kekuasaan, sebagaimana bara api, bisa menjadi penerang atau pembakar. Prabowo kini menggenggam bara itu. Jika ia tak berhati-hati, bara itu bisa membakar dirinya lebih dulu.

Oligarki, konglomerasi politik, dan jejaring kepentingan yang ikut menopang kekuasaannya adalah pisau bermata dua. Mereka bisa menjadi penyokong stabilitas, tapi sekaligus ancaman paling nyata terhadap kemurnian mandat rakyat.

Selain tekanan eksternal, Prabowo juga berhadapan dengan dirinya sendiri dengan trauma, ego, dan sifat-sifat lamanya. Pertarungan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan di medan politik, tetapi di ruang batin. Mampukah ia mengalahkan dirinya sendiri untuk mengabdi sepenuhnya kepada bangsa?

Prabowo kini menghadapi dilema klasik seorang penguasa: membangun kebaikan dari fondasi sistem yang rusak, atau justru larut dalam kejahatan sistemik yang telah membesarkannya.

Ia berada dalam struktur kekuasaan yang kuat namun rapuh dibangun di atas kompromi, konspirasi, dan kalkulasi.

BACA JUGA :  Kaleidoskop 2025: Isu Politik dan Kelemahan Komunikasi Publik Kabinet

Bila ia terus membiarkan penyimpangan, maka kekuasaannya akan menjadi beban sejarah. Namun bila ia berani melakukan koreksi, ia bisa menjadi simbol kebangkitan moral negara.

Prabowo dan Perang Terakhirnya

Pada akhirnya, Prabowo sedang menjalani perang terakhirnya bukan di medan tempur, tetapi di dalam jiwanya sendiri.

Apakah ia akan menjadi presiden yang menyelamatkan bangsa, atau sekadar penguasa yang mengulangi siklus gelap kekuasaan? Apakah dharma-nya akan mengalahkan karma-nya?

Sejarah selalu memberi pilihan kepada para pemimpin: menjadi cahaya atau bayang-bayang. Bila Prabowo memilih untuk berpihak pada rakyat, menegakkan keadilan, dan menghapus jejak kelam masa lalunya, maka ia bisa menulis ulang takdirnya sendiri.

Namun jika ia tetap tenggelam dalam lingkaran oligarki, maka sejarah akan mencatatnya sebagai sosok yang gagal melampaui dirinya.

Prabowo kini berada di ambang kesejatian antara menyelamatkan atau menghancurkan. Ia bisa menjadi simbol pemulihan bangsa, atau justru saksi kehancurannya.

Dan pada titik inilah, dharma dan karma Prabowo bertemu, saling menunggu hasil akhir dari perjalanan hidup dan kekuasaannya sendiri.***