Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Elon Musk Buka Algoritma X, Transparansi atau Jurus Hadapi Regulator?

×

Elon Musk Buka Algoritma X, Transparansi atau Jurus Hadapi Regulator?

Sebarkan artikel ini
Pemilik platform media sosial X, Elon Musk, kembali membuat pernyataan yang mengundang perhatian dunia teknologi sekaligus regulator

WawaiNEWS.id – Pemilik platform media sosial X, Elon Musk, kembali membuat pernyataan yang mengundang perhatian dunia teknologi sekaligus regulator. Musk mengumumkan rencana membuka algoritma terbaru X ke publik dalam waktu dekat, sebuah langkah yang diklaim sebagai bentuk transparansi di tengah tekanan hukum dari Uni Eropa.

Pengumuman tersebut disampaikan Musk melalui unggahan di X pada Sabtu (10/1/2026) waktu setempat. Ia menyebut seluruh kode sumber sistem rekomendasi X—baik untuk konten organik maupun iklan—akan dibuat open source dalam tujuh hari.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“X akan membuat algoritma terbaru, termasuk seluruh kode yang menentukan rekomendasi konten organik dan iklan, menjadi open source dalam tujuh hari,” tulis Musk.

Pernyataan itu datang bukan di ruang hampa. Mengutip Engadget, Selasa (13/1/2026), langkah Musk muncul saat algoritma X tengah berada di bawah mikroskop regulator Eropa. Otoritas Prancis dan Komisi Eropa sedang menyelidiki sistem rekomendasi platform tersebut, bahkan Komisi Eropa telah memperpanjang perintah penyimpanan data terhadap X hingga 2026.

Transparansi atau “Glass Box Darurat”?

BACA JUGA :  Pemprov Jabar Gandeng Mbizmarket, Pengadaan Barang dan Jasa

Secara retoris, Musk memposisikan langkah ini sebagai keberanian membuka “kotak hitam” algoritma. Namun bagi pengamat, transparansi ini terasa datang di waktu yang sangat tepat—atau terlalu tepat—yakni ketika tekanan regulasi kian mendesak.

Sorotan terhadap X semakin tajam setelah chatbot AI milik perusahaan, Grok, terseret kontroversi serius. Grok dilaporkan sempat menghasilkan konten pelecehan seksual terhadap anak atas permintaan pengguna, serta digunakan untuk memanipulasi gambar perempuan secara digital tanpa persetujuan.

Dalam konteks ini, janji membuka algoritma dinilai sebagian pihak sebagai upaya meredam kecurigaan, sementara yang lain menyebutnya sebagai “transparansi defensif”—terbuka, tapi karena terpaksa.

Janji transparansi algoritma sejatinya bukan barang baru dari Musk. Pada 2023, X pernah merilis sebagian kode algoritma linimasa “For You” ke GitHub. Namun kala itu, banyak peneliti menilai rilis tersebut belum mencerminkan cara kerja sistem secara utuh dan jarang diperbarui.

Kini, Musk menaikkan taruhan. Ia menjanjikan pembaruan kode algoritma akan dirilis setiap empat minggu, lengkap dengan catatan teknis pengembang.

“Ini akan dilakukan setiap empat minggu, disertai catatan pengembang yang komprehensif untuk membantu memahami apa saja yang berubah,” ujar Musk.

BACA JUGA :  Fantastis, Samsung Luncurkan Galaxy Z Flip6 Edisi Doraemon, Ini Spesifikasi dan Harganya

Bagi komunitas teknologi, janji ini terdengar ambisius. Bagi regulator, ini bisa menjadi awal dialog—atau justru bahan audit baru.

Di sisi lain, X juga mengambil langkah pembatasan akses fitur visual Grok AI. Mulai Januari 2026, pembuatan dan pengeditan gambar melalui Grok hanya dapat diakses pelanggan X Premium dengan tarif mulai USD 8 per bulan.

Manajemen X menyebut kebijakan ini sebagai upaya pengendalian risiko. Namun kritik justru mengalir deras. Sejumlah pengguna menemukan fitur serupa masih bisa diakses gratis melalui situs dan aplikasi terpisah membuat kebijakan berbayar itu tampak seperti pagar tinggi dengan pintu samping terbuka.

Peneliti keamanan digital menilai pendekatan berbasis kartu kredit tidak otomatis menghentikan penyalahgunaan. Peneliti deepfake, Genevieve Oh, bahkan mengungkap Grok masih memproduksi ribuan gambar berbahaya setiap jam sekitar 60 persen dari total output publiknya.

Ironisnya, di tengah kontroversi keselamatan digital, pembatasan fitur justru mendongkrak pendapatan X. Data Sensor Tower mencatat lonjakan transaksi dalam aplikasi, diduga dipicu rasa penasaran pengguna terhadap kemampuan visual Grok.

Tekanan Politik Meningkat

BACA JUGA :  Panduan Setting TV Digital Tanpa Set Box, Tapi Harus Teliti dan Sabar!

Isu ini turut menarik perhatian pembuat kebijakan di Amerika Serikat. Sejumlah senator Demokrat mendesak Apple dan Google meninjau ulang keberadaan aplikasi X di toko aplikasi mereka, dengan alasan lemahnya komitmen terhadap perlindungan pengguna.

Tekanan serupa datang dari Inggris dan India. Pemerintah Inggris bahkan menyebut monetisasi fitur bermasalah sebagai bentuk “pelecehan terhadap korban”, karena isu keselamatan justru diubah menjadi sumber pendapatan premium.

Pakar hukum memperingatkan, pembatasan administratif tanpa penguatan teknologi pengaman berpotensi runtuh di pengadilan. Jaksa Agung North Carolina, Jeff Jackson, menilai kasus Grok bisa menjadi momentum penting bagi penguatan regulasi keselamatan AI secara global.

Kini, X berada di persimpangan strategis: memperkuat sistem pengamanan secara menyeluruh atau menghadapi risiko pembatasan distribusi aplikasi di berbagai negara.

Membuka algoritma mungkin membuat platform terlihat transparan. Namun bagi regulator, transparansi bukan sekadar membuka kode melainkan memastikan teknologi tidak melukai publik.

Dalam dunia Musk, algoritma kini tak lagi sekadar mesin rekomendasi. Ia telah berubah menjadi dokumen politik, bukti hukum, sekaligus ujian etika di era kecerdasan buatan.***