TANGGAMUS – Fakta baru, dugaan kongkalikong dalam memuluskan guru honor SMAN 1 Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) melibatkan banyak pihak.
Bahkan Kepala SMAN 1 Cukuh Balak yang baru menjabat sekitaran dua bulanan saat dikonfirmasi awak media diduga mencoba menyogok dengan menjanjikan sejumlah uang kepada wartawan yang hadir untuk konfirmasi.
“Waktu kami hadir ke sekolah dan bertemu Kepsek untuk konfirmasi terkait kelulusan guru honor yang 3 tahun tak aktif, Kepseknya ada upaya-upaya yang tidak terpuji dengan menjanjikan ingin memberikan uang suap kepada awak media,” ujar salah seorang Wartawan, Minggu (28/1/2024).
Dikatakan kejadian itu terjadi kisaran pertengahan Januari 2024 lalu, saat ia dan awak media lainnya mendatangi SMAN 1 Cukuh Balak untuk konfirmasi temuan yang sebelumnya telah di publis di media.
“Saya berharap kepada rekan-rekan media, selama saya masih di sini, tolong segala persoalan dibicarakan secara baik-baik, jangan sampai di media kan,” Ujarnya menirukan ucapan Kepala SMAN 1 Cukuh Balak bernama Selamet.
Kepala SMAN 1 Cukuh Balak, Selamet, yang baru menjabat selama dua bulan lebih saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu terkait hal tersebut berusaha menutupi dugaan manipulasi data Dapodik guru honorer yang melibatkan Apridayani dan Hadi Mubarok.
Kepala Sekolah yang baru menjabat dua bulanan itu kepada awak media mengatakan bahwa guru honorer tersebut mempunyai izin cuti untuk studi S2. Dia mengatakan jika hal itu sah-sah saja.
Namun setelah awak media menanyakan surat cuti tersebut, Kepala SMAN 1 Cukuh Balak itu malah meminta kepada awak media agar persoalan guru honorer jangan sampai dibesar-besarkan dan ia pun melarang untuk diekspos di media.
“Saya berharap kepada rekan-rekan media, selama saya masih di sini, tolong segala persoalan dibicarakan secara baik-baik, jangan sampai di mediakan,” Ujar Kepala Sekolah.
Kemudian awak media pun meminta kepada pihak Kepala Sekolah agar nama Apridayani dan Hadi Mubarok dihadirkan di ruangan kerjanya, tapi lagi-lagi Kepala Sekolah tersebut melarang dengan alasan yang tidak jelas. Namun lagi-lagi ia berkelit.