KOTA BEKASI — Warga yang biasa “lari dari kenyataan” di Car Free Day (CFD) tampaknya harus menunda niatnya. Pemerintah Kota Bekasi resmi meniadakan CFD pada Minggu, 29 Maret 2026. Bukan tanpa alasan kali ini yang dikejar bukan kalori, melainkan kelancaran arus balik Lebaran 1447 Hijriah.
Keputusan ini ditegaskan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi melalui Surat Edaran Wali Kota Bekasi Nomor 600.4.3.2/867/DLH.TLPKLH Tahun 2026. Intinya jelas, jalanan lebih dibutuhkan kendaraan pemudik daripada sepatu lari warga.
“Pada 29 Maret belum ada CFD karena bertepatan dengan H+7 Lebaran. Fokus kami masih pada pengamanan arus balik,” ujar perwakilan DLH dengan nada yang mungkin lebih lega dibanding para pelari Minggu pagi.
Jalanan Bukan untuk Jalan Santai Dulu
Biasanya, ruas seperti Jalan Ahmad Yani hingga kawasan Summarecon jadi “catwalk” warga Bekasi dari yang serius olahraga sampai yang sekadar update story.
Namun kali ini, panggung itu dikembalikan ke fungsi aslinya jalur vital kendaraan.
Logikanya sederhana: menutup jalan saat arus balik ibarat mengundang macet sambil bilang “silakan antre dengan tertib.”
Pemerintah memilih realistis dan sedikit preventif sebelum warga ramai-ramai menyalahkan cuaca, takdir, atau mantan.
Arus Balik Bukan Sekadar Ramai, Tapi Rawan Drama Pemkot memprediksi puncak arus balik terjadi dalam dua gelombang, salah satunya pada 28–29 Maret 2026. Bekasi, sebagai “gerbang emosional” menuju Jakarta, tentu jadi titik krusial.
Di momen seperti ini, satu ruas jalan yang ditutup bisa berujung efek domino: dari macet panjang, klakson bersahut-sahutan, hingga pengendara yang tiba-tiba jadi ahli strategi lalu lintas dadakan.
CFD Bisa Menunggu, Kemacetan Jangan
Langkah ini bisa dibilang pilihan realistis: menunda euforia CFD demi mencegah euforia klakson massal. Toh, olahraga masih bisa meski mungkin harus berdamai dengan treadmill atau halaman rumah.
Pesannya sederhana Bekasi tidak anti olahraga, hanya sedang memprioritaskan “kardio berjamaah” versi lain mengurai kemacetan.
Jadi, untuk sementara, simpan dulu sepatu lari. Karena di akhir pekan itu, yang benar-benar “berlari” adalah waktu tempuh kendaraan di jalanan Bekasi semoga bukan ke arah yang makin lama.***











