Scroll untuk baca artikel
Lampung

Gubernur Jateng Sambangi Desa Bagelen, Jawa Tengah Rasa Lampung

×

Gubernur Jateng Sambangi Desa Bagelen, Jawa Tengah Rasa Lampung

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melakukan kunjungan kerja ke desa Bagelen, Gedong Tataan, Pesawaran salah satu desa transmigran legendaris di Lampung, pada Rabu (7/1/2026). - foto doc ist

PESAWARAN — Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, mendadak terasa seperti potongan kecil Jawa Tengah yang “terselip” rapi di Sumatera. Hal itu terjadi saat Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melakukan kunjungan kerja ke desa transmigran legendaris tersebut, Rabu (7/1/2026).

Kunjungan Ahmad Luthfi disambut langsung Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian, didampingi Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari Pemprov Lampung dan Pemkab Pesawaran. Lengkap, resmi, dan tentu saja penuh senyum seremonial.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian menyatakan kunjungan ini bukan sekadar nostalgia budaya, melainkan momentum memperkuat kerja sama antardaerah setidaknya dalam berbagi pengalaman pembangunan.

“Kami berharap saran dan masukan dari Bapak Gubernur Luthfi untuk kemajuan Kabupaten Pesawaran. Mudah-mudahan ke depan kami juga bisa berkunjung balasan ke Jawa Tengah,” ujar Nanda di Balai Desa Bagelen.

Bahasanya diplomatis. Intinya: belajar dari Jawa Tengah yang dianggap lebih matang dalam pengelolaan daerah.

BACA JUGA :  Transmigarasi Berhasil Menopang Ekonomi Kota Subulussalam

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyoroti kontribusi masyarakat suku Jawa khususnya perantau asal Jawa Tengah yang sejak lama menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan Lampung.

“Terima kasih kepada masyarakat suku Jawa, khususnya Jawa Tengah, yang telah menjadi salah satu motor pembangunan di Lampung,” kata Jihan.

Ia juga mengingatkan bahwa Desa Bagelen bukan sekadar desa biasa. Wilayah ini merupakan bagian dari program kolonialisasi Hindia Belanda pada 1905, cikal bakal transmigrasi pertama di Indonesia, yang membentuk wajah sosial Lampung hingga hari ini.

“Pembangunan tidak hanya soal jalan dan gedung, tapi juga pembangunan manusia yang berkeadilan dan melibatkan seluruh suku,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai kunjungannya ke Desa Bagelen sebagai momentum mempererat ikatan kekeluargaan lintas provinsi yang sudah terjalin lebih dari satu abad.

“Hari ini Desa Bagelen patut berbangga. Dua provinsi hadir bersama. Ini perhatian sekaligus harapan agar masyarakat semakin sejahtera dan hidup damai,” kata Luthfi.

BACA JUGA :  Dijemput Polisi Tanpa Perlawanan, Selang 3 Jam Warga Desa Bojong Lamtim Tewas Tertembak 

Dialog dengan warga pun berlangsung cair dalam bahasa Jawa. Suasana desa mendadak terasa seperti kampung halaman, lengkap dengan logat, adat, dan kehangatan khas Jawa. Jarak geografis seolah tak pernah ada.

“Rasanya seperti berada di Jawa Tengah,” aku Luthfi, tanpa perlu penjelasan panjang.

Ikatan sejarah Desa Bagelen dengan Jawa Tengah bermula pada awal abad ke-20. Sekitar tahun 1905, puluhan warga dari wilayah Kedu Selatan, kini Kabupaten Purworejo berangkat ke Lampung melalui program kolonialisasi Belanda.

Mereka membuka hutan, mengolah lahan, dan membangun permukiman yang kemudian dikenal sebagai Desa Bagelen. Program ini berlanjut hingga 1908 dan melahirkan komunitas transmigran Jawa yang terus berkembang hingga kini.

Warkim Prawiroatmojo, salah satu warga desa, menjelaskan bahwa nama Bagelen diambil dari daerah asal leluhur mereka di Jawa Tengah, yang juga dikaitkan dengan sosok legendaris Nyi Bagelen atau Nyai Roro Timur.

BACA JUGA :  Ribuan paket sembako dikirim ke pasar murah di Talang Padang Tanggamus

“Mbah saya dari Kedu Selatan, sekarang Purworejo. Ada yang dari Semawung, Borok, Wonoroto. Supaya tetap rukun, kami membentuk paguyuban Pujakesuma,” tutur Warkim.

Ia mengaku bangga karena tidak semua gubernur Jawa Tengah mau menyempatkan diri datang langsung ke desa transmigran seperti Bagelen.

Warga lain, Tito, menambahkan bahwa ikatan sejarah Jawa Tengah-Bagelen bukan sekadar cerita lama, tetapi identitas yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Selain bersilaturahmi, Ahmad Luthfi dijadwalkan menghadiri Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Presiden RI Prabowo Subianto secara virtual.

Agenda ditutup dengan kunjungan ke Museum Transmigrasi Provinsi Lampung tempat sejarah panjang itu disimpan, diingat, dan sesekali dikunjungi pejabat.

Singkatnya, di Desa Bagelen, Jawa tidak pernah benar-benar pergi dari Lampung. Ia menetap, beranak pinak, dan kini kembali disapa oleh pemimpinnya dengan senyum, bahasa ibu, dan sedikit nostalgia yang terasa hangat.***