Disampaikan oleh Yusuf Blegur
WawaiNEWS.ID – Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan dengan majas yang mengguncang nurani: Betapa Kuasanya Kerongkongan. Sementara AD Donggo menyentil dengan frasa puitik: Dari Lidah Berawal Kemerdekaan.
Dua budayawan itu paham benar, revolusi tak selalu dimulai dari dentuman senapan kadang cukup dari getar pita suara. Narasi para The Founding Fathers dulu bukan sekadar retorika; ia adalah janji pembebasan, tekad pengorbanan, dan keberanian mempertaruhkan nyawa.
Lalu bagaimana dengan narasi pemimpin era omon-omon?
Hari ini, pejabat publik bukan hanya piawai mengelola tambang, hutan, proyek MBG, dan segala rupa usaha yang berbau “strategis nasional”. Mereka juga memiliki pabrik paling produktif: pabrik air liur. Produknya beragam pidato, klarifikasi, konferensi pers, pernyataan sikap, dan tentu saja… bantahan.
Sayangnya, pabrik ini lebih sering menghasilkan busa daripada makna. Busa yang cepat menguap, meninggalkan aroma amis janji basi. Jika dulu kata-kata melahirkan kemerdekaan, kini kata-kata lebih sering melahirkan kebingungan.
Alih-alih membuka lapangan kerja, yang terbuka justru pintu PHK massal. Alih-alih membangun ekosistem, yang tumbuh malah kerusakan lingkungan dan polusi moral. Nada bicaranya pun tak lagi membebaskan, melainkan mengintimidasi. Kritik dianggap ancaman. Rakyat dianggap gangguan teknis.
Ironisnya, argumentasi publik yang mereka susun begitu sistematis untuk melegalkan penyimpangan. Kebijakan yang menghisap rakyat dibungkus dengan istilah manis: “demi stabilitas”, “demi investasi”, “demi pertumbuhan”. Negara kesejahteraan berubah menjadi negara kesejahteraan keluarga dan kroni.
Sulit membedakan pejabat dan penjahat yang satu punya stempel negara, yang lain tak kebagian.
Kemiskinan dan kebodohan terus diproduksi seperti barang pabrikan. Produk politik hedon, represif, dan cenderung otoritarian diluncurkan dengan percaya diri. Rakyat bukan diberi gizi keadilan, melainkan dipaksa mengonsumsi limbah amoral kebijakan.
Lebih menyedihkan lagi, kebohongan tak lagi dianggap aib. Ia telah menjadi soft skill. Di podium, di mimbar, di layar kaca kata-kata berhamburan tanpa rasa bersalah. Manipulatif tapi percaya diri. Kosong tapi dikemas heroik. Selfish tapi mengaku visioner.
Ada yang bilang ini gejala NPD Narsistik Pejabat Disorder. Bedanya, ini tak tercantum di buku kedokteran, tapi nyata di panggung politik.
Orasi menjadi ritual. Tepuk tangan menjadi validasi. Dan klarifikasi menjadi industri daur ulang kesalahan. Mulut-mulut liar itu bukan sekadar cerewet; ia bisa menjadi virus kemanusiaan jika tak dibatasi akal sehat dan nurani.
Selama kita masih terjajah dalam kemerdekaan terjajah oleh retorika kosong dan janji yang tak pernah lunas selama itu pula rakyat akan terus mengalami: habis omong, terbitlah bohong.
Mungkin sudah saatnya rakyat membangun pabrik tandingan. Bukan pabrik air liur, melainkan pabrik kesadaran. Karena jika kata-kata bisa memerdekakan, kata-kata pula yang bisa membebaskan kita dari para pedagang janji.
Bekasi, Kota Patriot.
3 Ramadan 1447 H / 21 Februari 2026.***







