Scroll untuk baca artikel
EkonomiPertanian

Harga Kakao Anjlok! Petani Aceh, Lampung hingga Lebak Menjerit, Pasar Global Berbalik Arah

×

Harga Kakao Anjlok! Petani Aceh, Lampung hingga Lebak Menjerit, Pasar Global Berbalik Arah

Sebarkan artikel ini
Foto - Buah Kakao

JAKARTA – Dari kebun-kebun kakao di Aceh hingga Banten, aroma cokelat tak lagi semanis dulu. Yang tercium justru keluhan petani.

Di Kabupaten Lebak, Banten, harga kakao dilaporkan jatuh dari Rp45.000 menjadi Rp20.000 per kilogram hanya dalam hitungan hari. Petani memilih menunda penjualan. Rasanya seperti menunggu harga naik… sambil berharap mukjizat pasar datang sebelum panen berikutnya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Padahal pada 2024, harga sempat menyentuh Rp135.000 per kg. Dari euforia ke euforia yang terbalik.

Di Aceh Tenggara, harga kakao kering juga turun dari Rp36.000 menjadi Rp32.000 per kg. Tidak sedramatis Lebak, tetapi cukup untuk membuat margin petani semakin tipis.

Lampung? Ceritanya serupa. Harga melemah, biaya pupuk dan tenaga kerja tetap naik. Matematika di kebun tak pernah bisa dibohongi.

Penurunan ini bukan hanya cerita lokal. Akar masalahnya ada di pasar global.

BACA JUGA :  Fakta Baru Sidang Korupsi DAK Bantuan Madu, Selain Pemotongan Ternyata Terjadi Dugaan Pemalsuan

Menurut laporan International Cocoa Organization (ICCO) Desember 2025, keseimbangan pasar berubah tegas: pasokan membaik, permintaan melemah. Kombinasi klasik yang hampir selalu berarti satu hal harga terkoreksi.

Di bursa London, kontrak kakao turun ke kisaran £4.377 per ton di akhir 2025, dari £6.726 setahun sebelumnya. Di New York, harga merosot ke sekitar US$6.065 per ton dari US$8.541.

Panik pasokan yang mendominasi musim 2024/2025 berakhir. Pasar kembali rasional. Atau setidaknya, kembali ke hukum dasar ekonomi: kalau barang banyak dan pembeli menahan diri, harga turun.

Produksi Amerika Latin membaik. Curah hujan di Brasil dan Asia Tenggara cukup bersahabat. Tekanan pasokan global mereda.

Afrika Barat memang masih menghadapi masalah struktural. Namun volume kedatangan kakao di Pantai Gading tidak turun drastis secara tahunan. Angka itu tak cukup untuk mempertahankan harga tinggi.

Di sisi lain, industri cokelat global sedang mengencangkan ikat pinggang. Grinding kakao global melemah dua musim berturut-turut. Inflasi dan penyesuaian belanja konsumen membuat pabrik tidak agresif menyerap biji kakao. Singkatnya, stok ada, pembeli berhitung.

BACA JUGA :  Stok Pangan di Lamsel Aman, Tapi Daya Beli Turun

Transmisi harga global ke pasar domestik berjalan cepat.

Data Refinitiv menunjukkan kakao London turun dari kisaran 4.500 pada awal Desember menjadi 4.377 di akhir tahun, lalu jatuh ke 3.093 pada 27 Januari 2026 kehilangan lebih dari 25% dalam tiga minggu.

Harga kontrak Makassar ikut turun dari sekitar 4.900 pada awal Januari ke kisaran 3.430–3.503 pada akhir bulan.

Artinya, petani Indonesia tidak kebal dari volatilitas global. Walau kualitas biji berbeda, struktur biaya berbeda, harga tetap mengikuti arus dunia.

Ada tiga mekanisme utama di balik pelemahan ini:

  1. Posisi spekulatif dibongkar setelah narasi kekurangan pasokan berubah.
  2. Permintaan industri melemah, sehingga koreksi harga tidak langsung diserap pembeli besar.
  3. Tekanan pembiayaan di negara produsen.
BACA JUGA :  Presiden Jokowi Resmikan KEK Lido City, Puluhan Ribu Lapangan Kerja Menanti

Reuters melaporkan regulator kakao Ghana, COCOBOD, mengalami krisis likuiditas. Petani terlambat dibayar. Penumpukan kakao meningkatkan ketidakpastian musim tanam berikutnya.

Pasar membaca semua itu. Dan pasar jarang bersikap sentimental.

Reuters mencatat kontrak kakao New York Maret 2026 berpotensi menembus resistensi US$4.465 per ton. Area dukungan berada di sekitar US$4.289. Jika pantulan berlanjut, harga bisa menuju US$4.635–4.740.

Namun dalam bahasa kebun: ini bukan kepastian. Ini hanya kemungkinan.

Petani tidak bisa membayar pupuk dengan indikator divergensi bullish.

Sebagai salah satu produsen kakao terbesar dunia, Indonesia merasakan dampaknya langsung. Harga turun berarti pendapatan berkurang. Margin menyempit. Investasi peremajaan kebun tertunda.

Ironisnya, ketika harga tinggi, petani tak selalu menikmati penuh karena rantai distribusi panjang. Ketika harga turun, dampaknya terasa cepat.

Pasar global seperti lift. Saat naik, kita sering berdiri di lantai bawah. Saat turun, kita ikut merasakan guncangannya.***