Scroll untuk baca artikel
Lampung

Harimau Sumatra di Lampung Tewas Setelah Benturin Kepala Sendiri di Kandang hingga Pendarahan Otak

×

Harimau Sumatra di Lampung Tewas Setelah Benturin Kepala Sendiri di Kandang hingga Pendarahan Otak

Sebarkan artikel ini
Harimau Sumatera mati setelah bentur benturin kepala di kandan saat berada di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Bandar Lampung, Minggu 9/11) - foto doc ist

LAMPUNG Seekor harimau sumatra jantan dengan kode ID 13 RL Male ditemukan mati di kandang perawatan milik Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, Jumat (7/11/2025). Ironisnya, satwa langka yang baru saja diselamatkan dari alam liar itu mengakhiri hidupnya bukan karena pemburu, tapi karena benturan kepala berulang di dinding kandang.

Ya, benar. Raja rimba itu seolah memilih menantang dinding ketimbang menantang takdir.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Himawan Sasongko, membenarkan hasil nekropsi (bedah bangkai) yang dilakukan pada malam hari setelah kematian. Kesimpulannya:

“Penyebab kematian harimau adalah perdarahan di otak akibat benturan benda tumpul yang menyebabkan brain death,” ujar Himawan, Minggu (9/11/2025).

BACA JUGA :  PHE OSES Terangi Muara Sungai di Karya Tani

Bedah bangkai juga mengungkap beberapa luka lama mulai dari bekas ikatan melingkar di pinggang, luka di pangkal pinggang kiri atas, hingga hilangnya jari ke-4 dan ke-5 di kaki kanan depan. Luka-luka yang seolah menyimpan kisah panjang tentang bagaimana manusia dan hutan saling menyakiti kadang tanpa sadar, kadang tanpa alasan.

Menurut BKSDA, pemindahan sang harimau dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Lampung ke Lembah Hijau dilakukan demi alasan keamanan, lantaran kandang angkut lama rusak dan berpotensi dijebol satwa.

Logikanya jelas: daripada menjebol kandang, lebih baik dipindah ke kandang yang… bisa dibenturkan.

“Pemindahan dilakukan agar harimau mendapat perawatan lebih memadai,” jelas Himawan. Namun, perawatan itu tampaknya tak sempat dijalani lama karena hanya beberapa saat setelah dipindah, harimau mendadak menunjukkan perilaku agresif ekstrem.

BACA JUGA :  Korupsi Bantuan Budidaya Lebah di Ulu Belu Masuk Tahap Penyidikan, Sejumlah Saksi Telah Dipanggil

“Sesaat kemudian, harimau membenturkan kepalanya ke dinding dan pintu kandang sebanyak tiga kali. Pada benturan ketiga, harimau terjatuh, kejang-kejang, dan tidak lagi menunjukkan respons gerak,” kata Himawan.

Secara biologis, hewan liar sering kali mengalami stres akut akibat perpindahan mendadak dari habitat terbuka ke ruang sempit. Tapi kisah ini terasa lebih tragis karena yang berhadapan bukan sekadar hewan dengan dinding, melainkan alam liar dengan sistem konservasi yang sering kali kaku seperti beton itu sendiri.

Para dokter memastikan kematian sang harimau bukan akibat kesalahan prosedur.

“Seluruh penanganan dilakukan sesuai standar medis dan kesejahteraan satwa,” tegas Himawan.

BKSDA berjanji akan memperbaiki fasilitas dan memperketat pengamanan untuk satwa agresif. Sebuah refleksi penting, meski terasa seperti pagar yang dipasang setelah kebun habis dimakan rusa.

BACA JUGA :  Kantor BPD Lampung di Kota Agung Terbakar

“BKSDA akan melakukan perbaikan fasilitas di PPS dan meningkatkan aspek keamanan bagi satwa agresif,” tutur Himawan.

Di atas kertas, semuanya selesai. Di balik jeruji, seekor harimau mati dengan kepala berdarah dan di luar pagar, manusia masih sibuk mengatur siapa yang pantas disebut “penjaga alam”.

Karena di negeri ini, kadang yang liar bukan hanya harimau tapi juga prosedur yang lupa pada nurani.

Kematian harimau ID 13 RL Male adalah ironi panjang konservasi, ketika hewan buas belajar bertahan hidup di dunia yang lebih buas lagi dunia manusia dengan tanda tangan, laporan, dan surat keterangan resmi sebagai saksi bisu terakhir dari suara rimba.***