Scroll untuk baca artikel
Lampung

HIPMI Lamtim Pasang Badan! Festival HUT ke-27 Disebut Bukan Pemborosan, Tapi Mesin Uang Rakyat

×

HIPMI Lamtim Pasang Badan! Festival HUT ke-27 Disebut Bukan Pemborosan, Tapi Mesin Uang Rakyat

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Lampung Timur, Fitra Aditya Irsyam

LAMPUNG TIMUR – Polemik seputar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Lampung Timur mulai menemukan sudut pandang baru. Jika sebelumnya muncul anggapan bahwa rangkaian kegiatan berpotensi membebani anggaran, kini kalangan pengusaha muda justru melihatnya sebagai peluang besar bagi kebangkitan ekonomi rakyat.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung Timur (Lamtim) , Fitra Aditya Irsyam, menegaskan bahwa festival tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan “mesin perputaran uang” bagi masyarakat kecil.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Kalau urusan simbolik seperti logo sudah diselesaikan, sekarang saatnya kita fokus ke hal yang lebih penting: ekonomi masyarakat. Ini momentum besar,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

BACA JUGA :  Pengusaha Lokal Lampung Timur Membongkar “Zaman Baru VOC”

Menurut Aditya, penempatan Festival Pasar 1001 Malam dan Pameran 2000 UMKM di Bandar Sribhawono bukan keputusan sembarangan. Justru, langkah ini dinilai sebagai strategi cerdas untuk mendorong pemerataan ekonomi.

Bandar Sribhawono disebut sebagai salah satu pusat perdagangan utama di wilayah tersebut. Dengan menggelar acara besar di sana, aktivitas ekonomi diyakini akan meningkat signifikan.

“Kita bicara soal pedagang kecil penjual sosis bakar, es teh, baju, sampai jasa hiburan. Mereka inilah yang paling merasakan dampak langsung dari keramaian festival,” jelasnya.

BACA JUGA :  Kejari Tanggamus Diminta Proses Korupsi di Pekon Waynipah, Sukajaya dan Teratas

Kalau biasanya mereka menunggu pembeli, kali ini pembeli yang “datang berbondong-bondong”.

Aditya juga menepis anggapan bahwa pemusatan kegiatan di luar ibu kota kabupaten adalah langkah yang keliru. Menurutnya, justru ada pembagian peran yang jelas dan saling melengkapi.

Sukadana tetap menjadi pusat kegiatan resmi seperti upacara puncak dan pelayanan publik, termasuk layanan kesehatan gratis.

Sementara itu, Sribhawono difokuskan sebagai pusat aktivitas ekonomi rakyat.

“Ini bukan soal memindahkan pusat, tapi membagi manfaat. Sukadana sebagai pusat pemerintahan, Sribhawono sebagai pusat ekonomi. Keduanya jalan bareng,” tegasnya.

Isu pemborosan anggaran yang sempat mencuat dinilai perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas.

BACA JUGA :  Bertambah 29 Kasus Baru Covid-19 di Tanggamus, Terdapat Lima Anak Terpapar

Bagi HIPMI, festival bukan pengeluaran semata, melainkan investasi sosial-ekonomi. Setiap transaksi yang terjadi selama festival dari makanan hingga produk UMKM akan menciptakan efek berantai bagi ekonomi lokal.

“Ini bukan pemborosan. Ini suntikan energi ekonomi langsung ke masyarakat,” kata Aditya.

Di akhir pernyataannya, Aditya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton atau pengkritik, tetapi juga bagian dari pergerakan ekonomi tersebut.

“Ini pestanya rakyat. Pedagang butuh panggung, masyarakat butuh hiburan. Mari kita dukung agar uang benar-benar berputar di bawah,” pungkasnya.***