Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi
WawaiNEWS.ID – Dalam perdebatan publik tentang agama dan kekerasan, kisah para nabi pra-Muhammad Ibrahim, Musa, dan Isa kerap ditarik sebagai bukti bahwa konflik iman sejak awal bersifat konfrontatif, bahkan militeristik. Ibrahim berhadapan dengan Namrud, Musa melawan Fir’aun, Isa hidup di bawah dominasi Romawi. Ketiganya lalu dibaca sebagai narasi laten tentang “perang suci” yang dianggap mengalir kontinu hingga ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an.
Pembacaan semacam ini tidak hanya menyederhanakan sejarah, tetapi juga menyesatkan secara teologis dan metodologis. Ia mencampuradukkan konteks kenabian dengan logika kekuasaan, serta menafsirkan iman dari kacamata konflik politik belakangan.
Ibrahim berhadapan dengan Namrud, figur kekuasaan yang menuhankan diri dan memonopoli kebenaran. Namun perlawanan Ibrahim tidak pernah mengambil bentuk kekerasan fisik atau mobilisasi massa bersenjata.
Ia melawan dengan argumen rasional, membongkar absurditas klaim ketuhanan melalui dialog dan kritik logis. Bahkan ketika hukuman bakar hidup-hidup dijatuhkan kepadanya, tidak ada seruan perlawanan, tidak ada legitimasi pemberontakan, apalagi perang.
Kisah Ibrahim justru memperlihatkan tesis penting dalam teologi tauhid: kebenaran iman tidak membutuhkan dominasi politik untuk membuktikan dirinya. Tauhid berdiri sebagai sikap eksistensial, bukan proyek kekuasaan.
Musa menghadapi Fir’aun dalam skala penindasan yang jauh lebih sistemik: perbudakan massal, kerja paksa, dan pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil. Namun Al-Qur’an secara eksplisit menegaskan bahwa misi awal Musa bukan penghancuran Mesir atau penggulingan kekuasaan Fir’aun. Ia diperintahkan untuk berbicara dengan kata-kata yang lembut dan menuntut pembebasan kaumnya.
Akhir kisah Musa bukan kemenangan militer, melainkan eksodus. Tenggelamnya Fir’aun bukan hasil strategi perang atau balas dendam teologis, tetapi konsekuensi dari agresi kekuasaan yang membangkang.
Narasi ini menegaskan bahwa pembebasan kaum tertindas tidak identik dengan ekspansi iman melalui kekerasan. Yang dibebaskan adalah manusia, bukan wilayah.
Kisah Isa bahkan lebih eksplisit dalam menolak logika perang. Ia hidup di bawah Imperium Romawi sebuah kekuatan kolonial yang represif dan kejam. Pada masa itu, perlawanan bersenjata bukan hal asing, bahkan dianggap wajar.
Namun Isa tidak memilih jalur tersebut. Ia tidak membangun pasukan, tidak menyerukan revolusi politik, dan tidak mengaitkan misinya dengan perebutan kekuasaan.
Fokus Isa adalah pembaruan moral dan spiritual, serta kritik terhadap kemunafikan elite agama yang berkolaborasi dengan kekuasaan.
Dalam Al-Qur’an, tidak satu pun ayat mengaitkan Isa dengan perang melawan Romawi. Fakta ini krusial: keberadaan penindasan politik tidak otomatis melahirkan legitimasi teologis untuk kekerasan.
Ketiga kisah kenabian ini menunjukkan pola yang konsisten: perang bukan instrumen utama perjuangan iman. Para nabi menghadapi tirani dengan metode yang berbeda-beda, namun semuanya bersifat non-militer.
Dengan demikian, menjadikan kisah-kisah ini sebagai dasar pembenaran ayat-ayat perang dalam Islam adalah kekeliruan metodologis.
Itu adalah pembacaan retrospektif menarik kesimpulan teologis dari praktik konflik dan kekuasaan, lalu memproyeksikannya ke masa kenabian seolah-olah ia merupakan perintah ilahi yang abadi dan lintas konteks.
Ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an sendiri muncul dalam situasi yang sangat spesifik: komunitas Muslim yang diserang, diusir dari tanahnya, dan terancam eksistensinya.
Ayat-ayat tersebut berbicara tentang izin mempertahankan diri, pembatasan kekerasan, serta etika perang. Bukan tentang konversi paksa, apalagi ekspansi iman.
Dengan kata lain, perang dalam Islam adalah pengecualian etis dalam kondisi darurat, bukan fondasi dakwah dan bukan pula orientasi normatif ajaran.
Membedakan kisah kenabian dari ayat-ayat perang bukan sekadar perdebatan tafsir akademis. Ia menyentuh cara Islam dipahami dan dipraktikkan hari ini: apakah sebagai ajaran moral yang menjunjung tanggung jawab etis, atau sebagai ideologi kekuasaan yang dibaca mundur dari sejarah imperium.
Kisah Ibrahim, Musa, dan Isa secara konsisten berpihak pada yang pertama iman sebagai kesaksian moral, bukan alat dominasi.
Jakarta, ARS
(rohmanfth@gmail.com)
Esais & Penulis Independen
Menulis isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik, dan Peradaban






