Scroll untuk baca artikel
Opini

Islamisme Reaktif & Industri Perang: Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

×

Islamisme Reaktif & Industri Perang: Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Di banyak ruang publik dunia Muslim, perlawanan terhadap “Barat” kerap dipentaskan sebagai panggilan sejarah. Narasi tentang perang peradaban, musuh abadi, dan konspirasi global digemakan dengan penuh semangat. Emosional. Mobilisatoris. Menggetarkan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun satu pertanyaan jarang diajukan dengan kepala dingin:
apakah pola perlawanan yang reaktif dan konfrontatif itu benar-benar mendekatkan pada kemenangan? Atau justru memperkuat pihak yang hendak dilawan?

Apa yang bisa disebut sebagai Islamisme Reaktif adalah orientasi politik yang membangun identitas melalui oposisi permanen anti-Barat, anti-sistem global tanpa disertai agenda pembangunan institusional yang kokoh.

Energinya bertumpu pada resistensi simbolik.
Bukan pada penguatan kapasitas riil: ekonomi, teknologi, riset, tata kelola.

Dalam jangka pendek, retorika konfrontatif efektif membangkitkan solidaritas.
Dalam jangka panjang, ia sering menghasilkan paradoks: suara lantang, daya tawar lemah.

BACA JUGA :  Catatan Akhir Tahun Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle)

Dalam sistem internasional modern, retorika berbasis perang identitas mudah dibingkai sebagai ancaman keamanan global. Ketika suatu gerakan diposisikan sebagai ancaman eksistensial, negara-negara besar memperoleh legitimasi politik untuk:

  • Menaikkan anggaran pertahanan
  • Memperluas aliansi militer
  • Memperketat kebijakan keamanan domestik
  • Meningkatkan ekspor senjata

Industri pertahanan hidup dari persepsi ancaman. Semakin besar ancaman dipersepsikan, semakin besar anggaran disahkan.

Sejarah menunjukkan bagaimana konflik di kawasan seperti Timur Tengah sering menjadi pembenar eskalasi militer global. Perang melawan teror pasca-September 11 attacks, misalnya, bukan hanya membentuk ulang arsitektur keamanan dunia, tetapi juga memperluas pasar industri pertahanan internasional.

Di titik inilah ironi muncul.

Resistensi yang diniatkan untuk membela martabat bisa berubah menjadi bahan bakar bagi ekspansi militer global.

Dalam teori hubungan internasional, situasi ini dikenal sebagai security dilemma.
Tindakan defensif satu pihak dipersepsikan ofensif oleh pihak lain.
Respons defensif berikutnya memperkuat kecurigaan awal.
Spiral eskalasi pun terbentuk.

BACA JUGA :  Anwar Ibrahim, The Lion of Malays

Semua merasa bertahan.
Semua akhirnya bersenjata lebih berat.

Sementara pembangunan tertinggal.

Ketika pidato semakin keras, anggaran pertahanan global ikut tersenyum.
Ketika slogan perang menggema, harga saham perusahaan senjata tidak ikut berduka.

Ironinya, sebagian negara Muslim justru menjadi pasar terbesar pembelian alutsista, sambil pada saat yang sama mengutuk sistem global yang dianggap zalim.

Retorika melawan dominasi global, tetapi belanja militernya menopang rantai pasok global yang sama.

Autokritik bukan berarti tunduk pada ketidakadilan internasional.
Kritik terhadap standar ganda, intervensi sepihak, dan ketimpangan sistem global tetap sah dan perlu.

Yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk dan strategi.

Kekuatan peradaban tidak lahir dari kemarahan kolektif semata.
Ia lahir dari:

  • Pendidikan unggul
  • Riset dan inovasi teknologi
  • Integrasi ekonomi regional
  • Tata kelola yang akuntabel
  • Kemandirian industri strategis
BACA JUGA :  Kontrak Sosial dalam Islam: Bukan Sekadar Teori, Tapi Ikatan Iman

Diplomasi multilateral, jalur hukum internasional, dan koalisi lintas negara seringkali lebih efektif dibanding narasi perang identitas.

Interdependensi strategis membuat konflik menjadi mahal bagi semua pihak. Polarisasi simbolik justru membuat konflik murah secara retorik, mahal secara nyata.

Martabat Butuh Strategi, Bukan Sekadar Slogan

Jika tujuan akhirnya adalah martabat dan kemandirian umat, maka strategi proaktif lebih menjanjikan daripada reaksi emosional.

Tanpa refleksi dan koreksi arah, Islamisme reaktif berisiko:

  • Gagal mencapai cita-cita kemandirian
  • Menguatkan logika keamanan global yang represif
  • Tanpa sadar ikut menghidupkan industri perang

Pertanyaannya sederhana namun mendasar:
Apakah energi politik akan terus dihabiskan untuk membenci musuh?
Atau dialihkan untuk membangun kekuatan yang membuat musuh berhitung?

Sejarah jarang dimenangkan oleh yang paling keras berteriak.
Ia biasanya berpihak pada yang paling sabar membangun.***