Scroll untuk baca artikel
Nasional

Isu BBM Naik Picu Panic Buying di Sumatera: SPBU Diserbu, Antrean Mengular hingga Jalan Raya

×

Isu BBM Naik Picu Panic Buying di Sumatera: SPBU Diserbu, Antrean Mengular hingga Jalan Raya

Sebarkan artikel ini
Suasana antrian BBM di salah satu SPBU di Kabupaten Kepulauan Meranti, Sabtu (07/03/2026) - foto doc

JAKARTA – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka peluang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jika harga minyak dunia melonjak tinggi langsung memicu reaksi pasar dan yang paling cepat bereaksi adalah masyarakat.

Di berbagai daerah di Pulau Sumatera, antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mendadak memanjang. Warga berbondong-bondong membeli BBM karena khawatir harga akan segera naik atau pasokan terganggu.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Fenomena panic buying ini terlihat di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Kepulauan Meranti di Riau, terutama di kota Selatpanjang. Antrean kendaraan roda dua dan roda empat tampak mengular sejak pagi hari di beberapa SPBU.

Tidak sedikit warga yang datang membawa jeriken untuk menimbun bahan bakar sebagai cadangan. Akibatnya, aktivitas di sekitar SPBU jauh lebih padat dibandingkan hari-hari biasa.

Di beberapa titik, antrean kendaraan bahkan meluber hingga ke badan jalan dan memperlambat arus lalu lintas.

BACA JUGA :  Jumlah Hewan Sakit 20.723 Ekor dari Populasi Total Ternak 5,4 Juta Ekor

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Kepulauan Meranti. Laporan dari berbagai daerah menunjukkan antrean panjang BBM juga muncul di sejumlah wilayah Sumatera, antara lain:

  • Pekanbaru – antrean motor dan mobil mengular di sejumlah SPBU sejak pagi.
  • Dumai – warga mulai membeli BBM menggunakan jeriken untuk stok.
  • Padang – antrean kendaraan meningkat drastis pada sore hari.
  • Palembang – beberapa SPBU dilaporkan mengalami keterlambatan suplai.
  • Jambi – antrean kendaraan sempat memicu kemacetan di sekitar SPBU.

Kondisi tersebut menunjukkan satu pola klasik di Indonesia, isu kenaikan harga BBM sering kali lebih cepat menyebar daripada penjelasan resmi pemerintah.

Seorang penarik becak di Selatpanjang mengaku mulai kesulitan mendapatkan BBM. Selain antrean panjang di SPBU, kios-kios penjual minyak eceran yang biasanya menjadi alternatif juga mulai kehabisan stok.

“Sekarang sudah mulai susah didapat. Kios-kios yang biasanya jual minyak eceran sudah banyak yang kosong,” ujarnya.

Menurutnya, SPBU memang masih beroperasi, tetapi masyarakat harus menghadapi antrean panjang karena jam operasional yang terbatas.

BACA JUGA :  Tandyo Naik Kelas, Indonesia Punya 6 Kodam Baru, Tentara Siap Jaga dari Sabang sampai Serambi TikTok

“SPBU buka siang sampai sore saja. Malam sudah tutup. Kalau minyak susah didapat, tentu kami yang menarik becak sangat terdampak,” katanya.

Bagi pekerja transportasi kecil, BBM bukan sekadar komoditas melainkan modal kerja harian.

Gelombang antrean ini muncul setelah pernyataan Menteri Keuangan Purbaya yang menyebut pemerintah membuka kemungkinan menaikkan harga BBM jika harga minyak dunia melonjak terlalu tinggi.

Menurutnya, tekanan serius terhadap APBN bisa terjadi jika harga minyak dunia rata-rata mencapai US$92 per barel, jauh di atas asumsi APBN sekitar US$60 per barel.

“Kalau harga minyak setahun rata-rata US$92, maka defisit bisa mencapai 3,6 persen dari PDB. Kita akan melakukan langkah-langkah supaya tidak sampai ke situ,” kata Purbaya di Jakarta.

Namun ia menegaskan bahwa kenaikan harga BBM hanya akan menjadi opsi terakhir jika kondisi fiskal benar-benar tertekan.

“Kalau anggarannya sudah tidak kuat, kita harus berbagi dengan masyarakat. Artinya bisa saja ada kenaikan BBM,” ujarnya.

BACA JUGA :  Mafia Solar Sribhawono Terbongkar, Polisi Bongkar Modus Pelaku dan Dugaan Bekingan yang Mulai Tercium

Purbaya mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi harga minyak dunia hingga US$150 per barel dan ekonomi tetap bertahan.

“Kita pernah lewati harga minyak sampai US$150. Ekonominya melambat, tapi tidak jatuh,” katanya.

Namun di lapangan, pernyataan tentang kemungkinan kenaikan harga sering kali memiliki efek psikologis yang kuat.

Bagi masyarakat, pesan yang tertangkap sering kali sederhana: “sebelum naik, lebih baik isi penuh dulu.”

Situasi antrean BBM di Sumatera menunjukkan betapa sensitifnya isu energi di Indonesia. Sedikit sinyal kenaikan harga bisa langsung memicu reaksi berantai mulai dari panic buying, stok menipis di kios eceran, hingga kemacetan di sekitar SPBU.

Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan penjelasan yang lebih jelas mengenai kondisi pasokan dan kebijakan harga BBM agar tidak memicu kepanikan yang lebih luas.

Sebab dalam pengalaman publik Indonesia, rumor kenaikan BBM sering kali berjalan lebih cepat daripada truk pengangkut bensin.***