Scroll untuk baca artikel
Head LineInfrastrukturLampung

Jalan Antar Kecamatan Lampung Tengah Jadi Kubangan, Negara Absen?

×

Jalan Antar Kecamatan Lampung Tengah Jadi Kubangan, Negara Absen?

Sebarkan artikel ini
Ini penampakan jalan penghubung antar kecamatan di wilayah Lampung Tengah, mirip kubangan kerbau - foto doc

LAMPUNG TENGAH — Di Kabupaten Lampung Tengah, jalan penghubung antar kecamatan tampaknya tak lagi berfungsi sebagai infrastruktur publik, melainkan telah beralih peran menjadi kubangan lumpur permanen. Ruas jalan penghubung Kampung Karang Jawa, Kecamatan Anak Ratu Aji menuju Trans Pago, Kecamatan Anak Tuha, kini nyaris tak layak disebut jalan lebih mirip lintasan uji nyali yang mengancam keselamatan warga setiap hari.

Pantauan di lapangan menunjukkan badan jalan dipenuhi lumpur tebal, genangan air, serta parit-parit dalam bekas roda kendaraan. Saat hujan turun, jalur ini berubah total menjadi jebakan, membuat kendaraan roda dua dan roda empat sulit melintas. Ironisnya, jalur ini merupakan akses strategis yang tembus ke pusat pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Tak sedikit pengendara yang menjadi korban “ranjau lumpur”. Seorang pengendara asal Lampung Timur mengaku terjebak di jalur tersebut setelah mengikuti petunjuk Google Maps yang rupanya belum diperbarui dengan kenyataan di lapangan.

BACA JUGA :  Kapolres Lampung Tengah Berjanji Sapu Bersih Aksi Premanisme

“Saya kira jalan kabupaten. Ternyata seperti kubangan hewan ternak. Rasanya seperti kembali ke era 90-an,” ujarnya getir.

Nada satir warga pun muncul, mencerminkan kekecewaan yang menahun. Sejumlah warga menilai kerusakan infrastruktur seolah menjadi cerita lama yang terus berulang, sementara anggaran pembangunan datang dan pergi setiap tahun.

“Wajar kalau masyarakat sinis. Jalan begini dibiarkan, padahal anggaran infrastruktur rutin ada. Jalur ini juga berbatasan langsung dengan Lampung Utara,” kata pengendara tersebut, menyiratkan kritik keras terhadap tata kelola daerah.

Bagi warga lokal, terutama petani, kondisi ini bukan sekadar keluhan, melainkan ancaman nyata terhadap ekonomi keluarga. Setiap hari mereka melintasi jalan tersebut untuk mengangkut hasil kebun.

BACA JUGA :  Polisi Bongkar Industri Ganja Rumahan di Sukoharjo, Pringsewu

“Kalau hujan, motor sering jatuh, hasil panen rusak. Jalan ini bukan rusak setahun dua tahun, tapi sudah bertahun-tahun dibiarkan,” ujar Sutrisno, petani asal Kampung Karang Jawa.

Keluhan serupa disampaikan para pengemudi mobil pikap yang terpaksa melintas demi distribusi barang dan hasil pertanian.

“Mobil memang bisa lewat, tapi risikonya besar. Salah ambil jalur sedikit bisa langsung nyangkut. Ini jalan antar kecamatan, bukan jalan kebun. Tapi kondisinya seperti tidak bertuan,” kata Andi, pengemudi pikap.

Pengendara sepeda motor menjadi pihak paling rentan. Banyak dari mereka terpaksa turun dan menuntun kendaraan, menembus lumpur setinggi betis.

“Sudah sering motor tergelincir. Kalau malam atau hujan deras, lebih bahaya lagi. Tapi mau bagaimana, ini jalur tercepat yang kami punya,” ungkap Roni, warga setempat.

BACA JUGA :  Bhabinsa Ditujah Hingga Terluka Bagian Tangan di Seputih Surabaya

Jalan Karang Jawa–Trans Pago sejatinya merupakan urat nadi distribusi hasil pertanian dan akses ekonomi antar kecamatan. Namun kondisi di lapangan menunjukkan seolah tidak ada negara yang benar-benar hadir untuk memastikan infrastruktur dasar berfungsi sebagaimana mestinya.

Warga menegaskan, yang mereka butuhkan bukan lagi tambal sulam simbolik, melainkan perbaikan serius dan menyeluruh.

“Kalau terus dibiarkan, jangan salahkan masyarakat kalau menilai pemerintah gagal menjalankan fungsi dasarnya,” tegas seorang warga.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah maupun instansi terkait mengenai rencana perbaikan jalan tersebut.

Sementara itu, lumpur terus menunggu korban berikutnya menjadi saksi bisu bagaimana jalan antar kecamatan bisa berubah menjadi monumen kelalaian.***